Materi S2C : Selasa, 24 Agustus 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Amsal 27:18

Tema         : Berkat dari Penundukan diri

PENDAHULUAN.

Ams. penundukkan diri27:18 “Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa ‘menjaga’tuannya’ akan dihormati . Kata “Menjaga” dalam terjemahan aslinya Shamar (shaw-mar’) yang berarti: Setia, sungguh-sungguh berpegang/mengikuti, Patuh/taat, Berjaga-jaga.

Sedangkan Kata “Tuan” diterjemahkan adown’ yang berarti wewenang/otoritas yang di atasnya. Contoh:  anak-anak tunduk kepada orangtua, isteri tunduk kepada suami, Suami tunduk kepada Tuhan, kita tunduk pada pemimpin rohani, pemimpin rohani kepada gembala dan seterusnya (Ef.1:10, 22).

Sebab jika ia bertekun melayani tuannya, setia dan taat kepada tuannya, menjaga tuannya (begitulah kata yang digunakan), ia akan dihormati (Kebed) yang berarti: Dihormati, Mendapat Upah, Diperbesar kapasitas. Ams. 27:18 dengan jelas menjelaskan bahwa ada berkat (kebed) dalam diri orang yang menundukkan diri.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Berkat dari Penundukan diri!

  1. Dimuliakan, mendapat kehormatan, dihormati

Jelaslah bahwa tindakan ini menunjukkan adanya penghormatan (kebed) yang diberikan kepada orang yang telah menjaga.

Sedangkan “makan buahnya sama dengan menikmati penghormatan dari tuannya. Jika kita berbuat untuk melindungi pribadi dan nama baik tuan kita, dan memastikan agar harta miliknya tidak terbuang atau dirusak, hamba seperti itu akan dihormati, tidak hanya akan dipuji dengan kata-kata yang baik, tetapi juga akan diangkat dan diberi imbalan. Allah adalah Tuan yang telah berjanji untuk memberikan kehormatan kepada orang-orang yang melayani-Nya dengan setia (Yoh.12:26).

  1. Mendapat Upah

orang yang setia kepada tuannya, tunduk/taat dengan sungguh-sungguh menjaga tuannya, akan menjadi orang yang dipercaya oleh Tuannya (orang kepercayaan). Amsal 28:20 menjelaskan “orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat. Selalu ada berkat bagi orang-orang yang setia untuk tunduk kepada Tuhan dan pada pemimpin.

Namun sebaliknya, Bil.27:14, Maz.78:40, sebagaimana generasi pertama tidak diizinkan Tuhan masuk ke Tanah Perjanjian, demikian juga Musa. Ia tidak boleh masuk ke sana. Ini terjadi akibat pemberontakan/ketidaktaatan yang Musa lakukan. Tindakan Tuhan menghukum Musa dapat dikatakan adil dan bersifat mendidik. Menanggapi hukuman Tuhan itu, Musa tidak menjadi kecil hati atau tawar hati. Perhatiannya tertuju pada umat Israel. Ia telah membimbing mereka dengan setia. Ia tidak ingin mereka kehilangan gembala yang mereka butuhkan (Bil.27:15-18). Yosua pun dipilih Allah untuk menggantikan Musa.

  1. Diperbesar kapasitasnya

Yosua yang “setia” dengan tuannya Musa Bilangan 27:15-23, maka dia diperbesar kapasitasnya yakni menjadi pemimpin menggantikan tuannya Musa. Yusuf dengan “menjaga” harta milik Potifar maupun raja Mesir, hidupnya diperbesar kapasitasnya untuk memimpin suatu negeri.

Kesimpulan. Dipenghujung bulan ini sebagai penutup Materi dari pilar ke 8 menjadikan jemaat yang memiliki Otoritas Raja yang mengutamakan prinsip keluarga: 1). Tidak mengorbankan keluarga untuk mencapai tujuan. 2) Kebesaran dari keteladanan 3). Kerendahan hati mendahului kehormatan dan 4). Penundukan diri. Point yang terakhir telah kita pelajari ada berkat dari penundukan diri. Namun sebaliknya bagi yang tidak tunduk akan tersedia hukuman/Kutuk. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 18 Agustus 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Yesaya 1:2-3, 10-20

Tema         : Penyebab seseorang sulit untuk menundukkan diri

PENDAHULUAN.

penundukan diriMenurut Alkitab dosa pemberontakan adalah tindakan yang jelas-jelas melawan Allah dan hukum-Nya. Bangsa Israel dikenal sebagai bangsa pemberontak. Melalui nabi Yesaya, Allah mengeluh tentang bangsa ini (Yesaya 65:2-3). Bangsa Israel terang-terangan mempersembahkan korban kepada para berhala. Dan itu sungguh menyakitkan hati Tuhan! Bagaimana dengan zaman sekarang? Tidak jauh berbeda!

Bahkan Alkitab menyebutkan pemberontakan ini tidak hanya kepada Allah saja tetapi kepada orang-orang yang seharusnya kita taati dan hormati. Pada akhir zaman nanti akan banyak muncul para pemberontak, termasuk kepada orang tua (2 Timotius 3:2). Kita wajib tunduk kepada Allah dan orang-orang yang Allah tentukan supaya kita taati dan hormati. Kalau tidak demikian, maka kita diibaratkan bangsa Israel yang sedang berdiri di hadapan mezbah untuk membakar korban bakaran kepada berhala. Kita sedang menimbulkan sakit hati Allah.  

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Penyebab seseorang sulit untuk menundukkan diri?

Kesombongan membuat seseorang tidak mau menundukkan diri kepada wewenang di atasnya, mungkin karena ia merasa lebih mampu; lebih kaya, lebih berkuasa; lebih tua, lebih pandai, lebih bisa, lebih pengalaman, lebih berpendidikan, dll.

  1. Tidak mau menerima pengajaran dari Tuhan

Ada orang tertentu yang memang sulit untuk diajar Yesaya 30:9, Firman Tuhan menyebutnya sebagai orang bebal yang bodoh (Ams.17:12). Khususnya bagi anak yang bebal, firman Tuhan mengatakan bahwa ia adalah kedukaan bagi ibunya (Ams.10:1-3). Jikalau bangsa Israel mendapat julukan bangsa yang tegar tengkuk, susah untuk diajar oleh Tuhan (Yes.1:2, Yes. 65:2-3) sehingga menyakiti hati Tuhan.

  1. Mempunyai sifat suka memberontak

Ada beberapa orang yang memang senang memberontak, selalu menentang. Kitab Yesaya 48: 8 band. Yes.44:22, Yer 33:8), memiliki sifat pemberontakan sejak dari kandungan. Orang seperti ini sangat sulit untuk menundukkan diri pada pimpinannya. Allah sama sekali tidak senang dengan pemberontak seperti ini. Beberapa contoh dan akibatnya: a). Bil 14:1-38, akibatnya tidak dapat masuk ke negeri perjanjian. b). Bil 21:9, akibatnya dipagut ular tedung.

  1. Menyimpan kekecewaan

Kekecewaan juga dapat membuat seseorang menjadi tidak mau menundukkan diri kepada wewenang yang ada di atasnya. Kekecewaan bangsa Israel dinyatakan mereka kepada Musa (Kel. 14:12, Bil.14:2-3, Bil. 21:5), dengan kata lain bangsa Israel berkata kepada Musa: “Musa, kami tidak setuju dengan caramu memimpin kami, lebih baik kami dipimpin oleh Firaun, raja Mesir”. Oleh sebab itu, jaga hati kita dari kekecewaan. Kekecewaan hanyalah akses bagi Iblis untuk menanamkan benih pemberontakan dalam diri kita, terhadap Tuhan, juga siapapun yang Tuhan tempatkan untuk memimpin kita.

Kesimpulan. Marilah kita belajar menundukkan diri, pertama-tama kepada Allah/suara Roh Kudus yang berbicara di dalam hati nurani kita. Kita juga harus belajar menundukkan diri kepada Orangtua, dosen/guru, dan lembaga lainnya seperti pemerintah dan pimpinan di kantor, Selanjutnya kita juga harus belajar menundukkan diri kepada hamba-hambaNya yang telah dipercaya untuk menjadi pengurus gereja, agar kehidupan kita bebas penuh dengan kedamaian. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 11 Agustus 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Yakobus 4:6-10

Tema         : Milikilah Penundukkan diri!

PENDAHULUAN.

miliki penundukan diriMenurut kamus Webster, arti kata penundukan diri adalah: secara sukarela berserah kepada satu sama lain; menyerahkan rencana-rencana atau tujuan seseorang kepada orang lain. 

Jadi penundukan diri membawa seseorang berada di bawah kepemimpinan orang lain.  Begitu pula sebagai umat Tuhan kita harus memiliki penundukan diri kepada Tuhan, hidup seturut dengan kehendak Nya serta mau dipimpin olehNya-Yakobus 4:6. Ketika kita tunduk kepada Tuhan berarti kita mengikuti jalan-jalanNya dengan setia, “.. MENGIKUTI Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi…” (Wahyu 15:4b, 5), serta mau dibentuk dan dikoreksi.

Penundukan diri harus tumbuh dari diri kita dan itu merupakan tindakan nyata setiap hari, bukan hanya waktu-waktu tertentu saja. Untuk tunduk kepada Tuhan ada harga yang harus kita bayar!  Kita harus ‘mati’ terhadap daging (Galatia 5:17). Ketika kita mati terhadap daging kita, kehidupan kita akan berdampak bagi orang lain karena kuasa Tuhan akan bekerja dalam kita. 

Yesus adalah teladan utama dalam hal penundukan diri; Dia tunduk dan hidup taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Dampaknya adalah dalam diri Yesus mengalir kuasa dan otoritas sorga sehingga Dia sanggup melakukan perkara-perkara besar dan ajaib.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Mengapa kita harus memilikilah Penundukan diri/tunduk kepada wewenang di atasnya?

  1. Penundukan diri adalah Karakter Orang percaya

Pemberontakan bukan karakter orang percaya. Prinsip kehidupan orang percaya adalah taat dan tunduk. Ketaatan bukan untuk dihindari! Tuhan akan memberikan imbalan apabila kita taat. “Jika kamu menurut dan mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.” (Yesaya 1:19).

Contoh : akibat memberontak kepada Tuhan kehidupan Saul berakhir dengan kehancuran (1 Samuel 13:13-14a). Seberat apa pun kehidupan kita saat ini jangan pernah memberontak kepada Tuhan.

  1. Tidak Tunduk mendatangkan Kutuk

Kutuk adalah penderitaan akibat-akibat dosa karena penghakiman dari Allah Yer.29:18. Semakin sering kita memberontak kepada TUHAN, semakin jauh perjalanan hidup kita. Bil.14; 16:20-21, 31-33. Mengapa TUHAN membiarkan orang Israel berjalan menuju Tanah Kanaan sampai 40 tahun lamanya? Karena sebelumnya mereka selalu mengeluh dan memberontak Bil. 21! Maka tak heran semakin lamalah perjalanan umat TUHAN tersebut. Sama dengan kita sebagai anak TUHAN jika kita sering memberontak terhadap TUHAN, maka perjalanan iman kerohanian kita akan semakin lama, bahkan mungkin takkan berkembang! Jikalau kita menjadi seperti itu (memberontak kepada TUHAN, iman kita tidak bertumbuh).

Kesimpulan. Tunduk kepada Tuhan berarti tunduk kepada firmanNya dan melakukan firman itu melalui tindakan nyata, bukan sekedar ucapan! Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 04 Agustus 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : 1 Petrus 2:12-21

Tema         : Ciri dari Penundukkan diri

PENDAHULUAN.

ciri penundukan diriBulan Agustus kita akan belajar Point keempat dan yang terakhir dari Pilar ke 8 yakni: PENUNDUKAN DIRI. Semakin besar kapasitas yang Tuhan berikan, tentu disertai dengan pemberian otoritas dari Tuhan. Otoritas yang Tuhan berikan tidak boleh digunakan dengan semena-mena.

Kecenderungan manusia setelah menerima kuasa/otoritas adalah memegahkan diri atau “lupa diri”. Manusia cenderung merasa hebat dan tidak perlu lagi berada di bawah pengaruh siapapun. Akibatnya menjadi sukar untuk tunduk terhadap otoritas yang ada diatasnya (baik dalam Keluarga, Sekolah, Gereja, dan masyarakat). Berikut ini ciri penundukan diri yang benar.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Ciri dari Penundukkan diri:

  1. Memiliki Kerendahan Hati

Di zaman sekarang ini tidak mudah menemukan orang yang memiliki penundukan diri.  Sebaliknya banyak orang yang memiliki pemberontakan.  Memberontak berarti tidak tunduk pada otoritas, di mana hal ini pasti akan menimbulkan konflik, baik itu konflik antar sesama anggota dalam sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, atau bahkan suatu negara. Tuhan mengingatkan agar setiap orang percaya memiliki penundukan diri (1 Petrus 5:5; Filipi 2:8). Penundukan diri merupakan salah satu hasil dari kerendahan hati. Tidak dapat dipungkiri, untuk menundukkan diri dituntut suatu kerendahan hati. Biasanya semakin seseorang berkuasa atau merasa dirinya hebat, semakin sulit ia menundukkan diri Contohnya adalah Naaman, panglima raja Aram, yang sulit menundukkan diri kepada perintah nabi Elisa (2Raja-raja 5:1-27), namun ketika ia menundukkan diri ada Mujizat bagi Naaman.

  1. Memiliki Buah Roh Kudus

Buah Roh Kudus diantaranya adalah Kelemah lembutan Galatia 5:22. Ciri kelemah lembutan salah satunya dapat menundukkan diri kepada Allah dan kepada otoritas yang Tuhan tempatkan di atasnya. Firman Tuhan menyatakan bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi (Matius 5:5), artinya hanya kepada orang yang lemah lembut atau yang memiliki penundukkan diri akan menerima otoritas bumi.

  1. Memiliki Ketaatan

Sikap penundukan diri akan membentuk hati yang taat. Bila seseorang mau menundukkan diri pada wewenang yang ada diatasnya, maka akan membentuk hati yang taat (Yehezkiel 11:19; 18:31; 36:26). Taat selalu berhubungan dengan merendahkan diri. Merendahkan diri selalu berhubungan dengan menundukkan keegoisan. Keegoisan tidak bisa hilang jika kita tidak menyerahkan diri untuk dibentuk dalam tangan Tuhan. Jadi, suatu hasil didapat dari proses ketaatan. Dalam Yesaya 1:19-20 Kata “menurut” dan mau “mendengar” dalam Alkitab Bahasa Inggris di tulis “Willing and Obedient” yang berarti TAAT dan TUNDUK.

Penundukan Diri dan Ketaatan dua hal yang tidak dapat di pisahkan. Penundukan Diri berhubungan dengan sikap hati/Respek, sedangkan Ketaatan berhubungan dengan tindakan. Contoh : (1) Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Dan 3) tetap TAAT terhadap Tuhan dan TUNDUK terhadap Raja Nebukadnezar. (2) Daud terhadap Saul.

 

KESIMPULAN. Penundukan diri adalah perintah Tuhan yang harus kita lakukan dengan tulus, tanpanya kita tidak akan menikmati berkat di bumi! Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 28 Juli 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Amsal 18:12

Tema         : Tinggi Hati Mendahului kehancuran

PENDAHULUAN.

kerendahan hatiLawan kata dari Rendah Hati  adalah tinggi hati, sombong, angkuh, congkak, ponggah, membusungkan dada, besar kepala. 1 Korintus 13:4  Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Orang Yang Sombong Biasanya Karena Merasa : Kuat/ Hebat, Kaya, Pintar & Kedudukan tinggi Belajar Rendah hati seperti Tuhan Yesus – Matius 11:29  Jika Kita Rendah Hati : Dikasihi ALLAH – Amsal 3:34; Kesejahteraan melimpah – Mazmur 37:11; Menerima pujian – Amsal 29:23; Ada HikmatAmsal 11:2; KehormatanAmsal 8:12 dan ada Penghiburan2 Korintus 7:6.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dampak dari Tinggi hati adalah:

  1. Direndahkan 

Matius 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

  • Melalui kedahsyatan kuasa-Nya, Allah mematahkan kesombongan Raja Nebukadnezar, ketika ia mulai congkak dan tinggi hati Daniel 4:30-37. Bahkan, ia menantang semua bangsa dan segala kuasa harus tunduk kepadanya, oleh sebab itu Raja Nebukadnezar direndahkan Allah-Daniel 4:32-33

 

  1. Kehancuran 

Amsal 18:12 Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

Daniel 5:20  Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya.

  • Segala yang dimiliki akan diambil dari padanya. Jika point diatas bagaimana ayahnya, Raja Nebukadnezar Daniel 5:2, tinggi hati lalu bertobat, sayang sekali anaknya, Belsyazar tidak meneladani sikap ayahnya – Daniel 5:22-23, 30.

 

  1. Ditentang Allah 

1Petrus 5:5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

  • Pada kitab Yesaya 10:12-19; terdapat banyak sekali KE-AKU-AN. Kesombongan raja Asyur atas segala hal yang Ia miliki. Ia tidak mengakui bahwa semua itu adalah dari campur tangan Tuhan. Sehingga Raja Asyur menerima hukuman dari Tuhan.

 

  1. Dicerai-beraikan 

Lukas 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai- beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

  • Menara Babel (Kejadian 11:1-9) Kesombongan manusia – diceraiberaikan oleh ALLAH.

 

Kesimpulan. Tuhan tidak menghendaki manusia itu menjadi sombong dengan semua yang diperolehnya selama di dunia. Sebab semua yang ada pada manusia tidak ada satu pun yangberasal dari dirinya sendiri, tapi  dari Tuhan. “…Barangsiapa bermegah, baiklah ia bermegah di dalam Tuhan” (I Kor. 1:31, 2 Kor. 10:17). Sebagai Jemaat yang memiliki Otoritas Raja kenakanlah kerendahan hati, maka kehormatan akan kita terima. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 21 Juli 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Lukas 14:7-11

Tema         : Hiduplah dalam kerendahan hati memperdalam akar Iman kita

PENDAHULUAN.

pribadi yang rendah hati“Sebab barangsiapa meninggikan diri, Ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14:11)

Tuhan Yesus mau menekankan betapa pentingnya seseorang memiliki gaya hidup merendahkan diri, Tuhan Yesus menginginkan supaya kita menjadi orang yang rendah hati (bukan minder) karena orang yang rendah hati akan ditinggikan-Nya.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Berkat Tuhan yang akan diterima orang yang rendah hati:

  1. Mewarisi negeri.
     “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri…” (Maz. 37:11). Mewarisi negeri: mengandung pengertian Tuhan akan memperbesar kapasias kita untuk memperoleh berkat Rohani dan jasmani.
     
  2. Mendapatkan bimbingan Tuhan.
    “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mazmur 25:9). Ketika orang rendah hati berada di persimpangan jalan mereka akan mendapat bimbingan Tuhan sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan.
     
  3. Dimahkotai dengan keselamatan.
    ‘Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” (Mazmur 149:4b). Keselamatan yang dari pada Tuhan selalu memayungi perjalanan kehidupan orang-orang yang rendah hati sehingga mereka akan dilepaskan dari segala serangan yang jahat.
     
  4. Dikasihi oleh Tuhan.
    “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Petrus 5:5b), Anak Tuhan yang selalu memelihara kehidupan yang rendah hati, mereka selalu berada pada tempat yang akan mendatangkan kasih dan karunia Tuhan.

 

Kesimpulan.

Baiklah dalam perjalanan kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan selalu hidup dalam kerendahan hati. Tuhan akan memakai atau memberkati kita berlimpah-limpah jika kita selalu hidup dalam kerendahan hati.

Jangan pernah berkat atau promosi yang berasal dari Tuhan membuat kita berubah menjadi orang-orang yang tidak memuliakan Tuhan karena sikap keangkuhan dan kesombongan tetapi hiduplah selalu dengan tetap rendah hati. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 14 Juli 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Matius 23:12

Tema         : Belajar dari Yesus dalam hal kerendahan hati Bag. 2

PENDAHULUAN.

humbleSelasa lalu telah belajar tentang kerendahan hati dari Yesus, yakni: Yesus mengesampingkan kemuliaanNya (tidak haus dengan pujian) dan Yesus mengesampingkan keAllahanNya (tidak memaksakan kehendaknya sendiri melainkan melakukan kehendak Bapanya yang diSurga). Berikutnya kita akan belajar dua hal lagi.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Bagaimana Yesus sebagai manusia menunjukkan keredahan hati yang berkenan di hati Bapa?

 

  1. Yesus mengesampingkan kekayaanNya

”Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9). 

 

  • Dalam Kitab Yeremia 9:23-24, dan Mazmur 20:8 Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Ciri orang yang rendah hati adalah tidak memegahkan atau mengandalkan kekayaanya semata-mata. Mazmur 49:7-21 tidak ada kekayaan yang berasal dari dunia ini bersifat kekal.
  • Oleh sebab itu milikilah kerendahan hati untuk terus mengakui dan mengadalkan Tuhan saja itulah harta kekayaaan kita sesungguhnya Amsal 22:4. Berilah ilustrasi!

 

  1. Yesus mengesampingkan hak-hak sorgawiNya

”Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” (Lukas 22:27)

  • Yesus dengan rela dan rendah hati bersedia menderita menggantikan kita. Dunia sering mendorong manusia untuk selalu meninggikan diri dengan segala keberadaannya. Maka dari itu, ”Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).
  • Ciri orang yang rendah hati adalah memberikan hidup kita untuk melayani Tuhan . Allah sangat menyukai orang-orang yang rendah hati dan membenci orang yang sombong (Matius 23:11-12).

 

KESIMPULAN.

Maka dari itu rendahkanlah diri kita di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kita (Yakobus 4:10). Tidak perlu kita menyibukkan diri menyombongkan keadaan kita, jika kita hidup dengan sikap yang rendah hati dan sederhana maka Allah sendiri yang akan mengangkat kita setinggi yang Dia kehendaki. ”Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (1 Petrus 5:6). 

Hidup yang diwarnai dengan kerendahan hati harus dimiliki oleh orang-orang yang memiliki otoritas Raja. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 07 Juli 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Matius 11:29

Tema         : Belajar dari Yesus dalam hal kerendahan hati Bag. 1

PENDAHULUAN.

rendah hatiBulan Mei s/d Agustus kita akan belajar Pilar delapan yaitu Menjadikan Jemaat Memiliki Otoritas Raja yang mengutamakan prinsip keluarga. Point pertama: tidak mengorbankan keluarga demi mencapai tujuan, point Kedua:Kebesaran dari keteladanan dan Point Ketiga : Kerendahan hati.

Jika kita mengaku orang-orang yang memiliki otoritas Raja, hendaknya kita tidak mengorbankan keluarga demi tujuan yang salah. Berani tampil menjadi Teladan dan mengenakan kerendahan hati sehingga kapasitas diri kita diperbesar oleh Tuhan.

Hidup merupakan pilihan, seumpama di dalam hidup kita ada dua tabung : tabung pertama berisi kesombongan dan tabung kedua berisi kerendahan hati. Sifat kedua tabung itu berbeda, tabung yang berisi kesombongan dalam diri manusia akan terisi secara otomatis, karena benih itu ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan tabung yang berisi kerendahan hati perlu upaya, diusahakan, bahkan perlu belajar dan berlatih. Sama seperti perkataan Yesus dalam kitab Matius 11:29 pikullah kuk yang Kupasang dan BELAJARLAH PADA-KU, u  karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu v  akan mendapat ketenangan.

Yesus adalah contoh sempurna dari kerendahan hati manusia. Itu berarti, kita sebagai manusia biasa pasti mampu melakukan apa yang Yesus lakukan.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Bagaimana Yesus sebagai manusia menunjukkan kerendahan hati yang berkenan di hati Bapa?

  1. Yesus mengesampingkan kemuliaanNya

”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yohanes 17:4)

  • Hal ini mengandung pengertian bahwa ciri orang yang rendah hati adalah tidak “gila hormat”, gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup. Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi orang hina dina, dilecehkan, direndahkan, atau tidak dihargai di dunia ini. Perumpamaan Yesus dalam Lukas 14:7-11 semua orang ingin dihormati, tetapi jangan sampai minta hormat. Jangan kita mencuri kemuliaan Tuhan. Berilah Ilustrasi!

 

  1. Yesus mengesampingkan keAllahanNya

”Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30, bd Fil 2:6-7).

  • Sikap rendah hati yang sempurna adalah yang diteladankan Yesus dalam Filipi 2: 1-17 & I Petrus 2:21-23. Kristus yang adalah Allah rela untuk menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba. Berilah Ilustrasi Konsep Kerendahan hati.

 

KESIMPULAN Pemeliharaan Karakter rendah hati yang terbentuk harus terus menerus diulang-ulang atau dibiasakan agar menjadi kepribadian yang utuh. Agar pemeliharaan karakter ini terbentuk dengan baik diperlukan komitmen yang kuat dan model keteladanan. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 30 Juni 2015       Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Timotius 4:12

Tema         : Nilai Keteladanan bagian 2

PENDAHULUAN.

nilai keteladananTeladan mengandung arti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (KBBI). Teladan berasal dari ‘hupodeigma‘ (Yun) yang dapat juga diartikan sebagai gambaran (Ibr 8:5). Jadi, teladan merupakan nilai-nilai yang baik dan patut ditiru oleh orang lain, sehingga mereka mengalami kebaikan dari nilai-nilai itu dan meninggalkan nilai-nilai mereka yang kurang atau tidak baik. Kristen adalah sesuatu yang unik sejak awal mula keberadaannya.

Kedewasaan Setiap orang yang mengikut Yesus, pasti akan mengalami perubahan di dalam gaya hidup mereka, karena Tuhan Yesus bukan memberikan sekedar teori pengajaran agama, tetapi Ia sendiri melakukan apa yang diajarkanNya (Yoh.13:15). KeteladananNya merupakan contoh yang memberi kita kesadaran dan kekuatan bahwa kita pasti bisa melakukan kehendak Allah sebagaimana telah dilakukanNya, Bahkan sampai saat ini, kita bisa melihat dan membuktikan bahwa Firman dan kehadiranNya pasti akan mengubah setiap orang percaya (ITesalonika 1:5), dan membuat mereka menjadi dewasa rohani. Hingga pada akhirnya menjadi teladan-teladan rohani (ITesalonika 1:7). Membangun Teladan Untuk itulah sampai saat inipun, kita perlu melanjutkan membangun keteladanan yang sudah Tuhan Yesus dan para pemimpin kita terdahulu berikan ( Ibr 13:7). Karena kekristenan tidak sekedar bicara masalah keselamatan dan keagamaan, tetapi merupakan perubahan pola hidup yang membutuhkan contoh yang dapat ditiru sebagai kekuatan dalam menjalani proses perubahan itu. Dalam pelayanan, pemberitaan Firman dan pengajaran yang hebat belum tentu efektif dalam memenangkan jiwa. Tetapi ketika kita membangun diri agar menjadi teladan, itu akan lebih efektif untuk mengubah orang karena mereka tidak sekedar mendapatkan teori tetapi juga contoh. Keteladanan yang kita – sebagai pemimpin – berikan itulah yang menjadi dasar dan kekuatan bagi mereka untuk berubah. Karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus membangun keteladanan dalam diri kita menjadi contoh yang dapat ditiru karena mempunyai nilai-nilai yang baik (I Tesalonika 1:7).

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Nilai Keteladanan apakah yang harus ada dalam hidup sebagai orang percaya?

4.Dalam Kesetiaan

            Kesetiaan dalam bahasa Yunani”Pistis” kepercayaan, iman, kesetiaan. Menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepadaNya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama (pistis). Inggris: Faithfull = Penuh Iman = Setia. Bhs Grika: Phistos = Setia. Phitis = Iman, Setia.

Jadi iman tidak terlepas dari setia. Orang yang tidak setia, menurut Ulangan 32:20 adalah suatu angkatan yang bengkok. Tuhan akan menyembunyikan wajah-Nya dari angkatan yang bengkok ini. Bagi yang tetap setia, Tuhan akan menjagai dengan damai sejahtera (Yesaya 26:2-3). Iman memang selalu membawa kepada kesetiaan. Kesetiaan berarti selalu bertanggung jawab dalam pelayanan, dalam tugas yang dipercayakan.   

 

5.Dalam Kesucian

            Kesucian dalam bahasa Yunani “Hagneia” kemurnian hidup tanpa cacat cela, memelihara agar hati, pikiran tetap suci dan murni, menjauhkan diri dari hal-hal yang negative 1 Tesalonika 5:23

 

Kesimpulan. Diakhir bulan ini marilah kita Menjadi Teladan dalam Perkataan, Tingkah laku/perbuatan, dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kesucian. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 23 Juni 2015       Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Timotius 4:12

Tema         : Nilai Keteladanan bagian 1

PENDAHULUAN.

good habitsApakah pentingnya sebuah keteladanan? sebuah teladan hidup yang baik adalah khotbah yang terbaik yang dapat disampaikan kepada semua orang. Melalui teladan hidup itulah orang bisa melihat dengan nyata bagaimana teladan hidup anak-anak Tuhan bukan hanya sekedar sebuah teori, bukan hanya sekedar suatu pemahaman teologi, melainkan nyata dalam kehidupan pribadi demi pribadi. Teladan bukanlah hal yang sembarangan, melainkan merupakan suatu faktor ampuh yang bisa dipakai untuk membawa orang kepada Kristus. Teladan hidup, teladan berjemaat merupakan suatu harta karun, suatu keseriusan, suatu perjuangan, dan suatu komitmen untuk mau membawa orang kepada Tuhan.

Keteladanan hidup bukan datang dalam sehari, bukan dibangun berdasarkan 1 perjuangan yang remeh, tetapi merupakan perjuangan yang disertai jutaan tetesan air mata. Keteladanan juga dibentuk dari berbagai macam ketajaman/kepekaan diri dan kewaspadaan diri. Kita tidak bisa menjadi teladan hanya dengan lenggang kangkung dan sekedar berkata-kata melainkan kita perlu masuk ke dalam perjuangan yang terus menerus. Gereja adalah wajah dimana pemerintahan Tuhan ada di muka bumi ini. Gereja adalah wajah dimana kasih Allah dinyatakan di dalam dunia ini. Gereja adalah suatu eksistensi yang sedang diperhatikan oleh seluruh dunia bahkan juga setan. Berarti kita sebagai anak-anak Tuhan bukan sekedar ada di tempat ini sebagaimana kita ada, tetapi banyak mata yang sedang memperhatikan dan melihat bagaimana kita hidup didalam pengajaran yang kita jalani.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Nilai Keteladanan apakah yang harus ada dalam hidup sebagai orang percaya?

 

  1. Dalam Perkataan

Paulus menghendaki Timotius dapat menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataan. Perkataan dalam bahasa Yunani “Logos” yang memiliki makna yaitu: perkataan, pembicaraan, pemberitaan, firman, khotbah,. Menyatakan bahwa kita selalu berkata-kata jujur dan penuh kasih. Menjadi teladan dalam perkataan kita harus berkata jujur, mengucapkan kata-kata yang membangun, dapat memberi semangat atau dorongan kepada orang lain.

 

2.Dalam Tingkah laku/perbuatan

            Tingkah laku dalam bahasa yunani “Anastrophe” yang memiliki makna yakni: cara hidup, prilaku, sikap. Mengandung arti bahwa kehidupan kita harus di kendalikan oleh firman Allah, dalam tingkah laku harus sabar, bertanggung jawab  dan berintegritas.    

  

3.Dalam Kasih

            Kasih dalam yunani “Agape”artinya: Kasih yang sejati, kasih illahi, kasih tanpa syarat, kasih yang rela berkorban, kasih yang tidak akan di goyahkan oleh karena situasi- kondisi yang bangaimana pun buruknya. Menunjuk kepada motivasi kehidupan kita dan hanya Tuhan yang dapat memampukan kita mengasihi dengan kasih “Agape”. Dalam kasih (Agape) kita mampu mendoakan musuh-musuh kita dan mampu memberkati orang yang membenci kita.

 

Kesimpulan. Nilai keteladanan yang Rasul Paulus nasehatkan kepada anak didiknya, Timotius yaitu: Menjadi Teladan dalam Perkataan, Tingkah laku/perbuatan dan dalam kasih. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Loading...