Materi S2C  : Selasa, 12 Mei 2015

Nats            : Kejadian 13:1-14:24

Tema          : Menjadi pribadi yang tidak mengorbankan keluarga,

                  gereja dan masyarakat untuk mencapai tujuannya.

PENDAHULUAN.

abraham a life of faintMemasuki bulan Mei kita akan belajar Pilar delapan yaitu Menjadikan Jemaat Memiliki Otoritas Raja yang mengutamakan prinsip keluarga. Point pertama: tidak mengorbankan keluarga demi mencapai tujuan.

Sebagai anak-anak Raja, kita memiliki kuasa untuk mengelola berkat Tuhan. kuasa itu berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Prinsip keluarga di dalamnya ada kasih dan saling menghormati, memperhatikan dan memelihara, demikian hendaknya setiap otoritas yang kita dapatkan dari Allah dilakukan dengan penuh kasih, tetap menghormati yang lain sebagai saudara, saling memperhatikan sehingga tidak mengorbankan pihak lain demi tujuan atau kepentingan pribadi atau golongan. Demikianlah otoritas kerajaan Allah dalam penerapannya dengan prinsip keluarga.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Belajar dari Abraham (menjadi pribadi yang tidak mengorbankan keluarga, gereja dan masyarakat untuk mencapai tujuan):

  1. Abraham bukan orang yang tamak.
    Ini terlihat dari: a) Ia rela rugi/tidak kaya (Kej.13:8-9). Makin tinggi kerohanian seseorang, makin ia bisa mengabaikan kerugian materi. b) Ia menolak pemberian raja Sodom (Kej.14:22-24 bdk. dengan Elisa yang menolak pemberian Naaman dalam 2Raja 5:15-16). Itu sebetulnya adalah hak Abraham, tetapi ia tolak! Mengapa? (a). Harta orang Sodom ia anggap najis (Bdk. Kej 12:16 dimana ia mau menerima dari Firaun) (b). untuk menunjukkan bahwa orang benar bisa berbuat baik tanpa upah & (c). ia ingin menunjukkan bahwa sumber kekayaannya adalah Allah sendiri. Penerapan: Memang orang kristen juga tidak boleh sembarangan menolak berkat, pada saat ada orang yang mau memberi dia sesuatu. Tetapi kadang-kadang, kalau kita melihat bahwa dengan menerima pemberian itu kemuliaan Tuhan bisa berkurang, maka kita harus menolak pemberian itu.

 

  1. Abraham tidak melupakan Tuhan sekalipun ia kaya.
    Abraham tidak melupakan Tuhan, bisa kita lihat dari: Kej.13:3 kembali ke Kanaan, yang berarti Abraham hidup berdasarkan janji/perintah Tuhan. Kej.13:4,18 berbakti dan menyembah Tuhan Kej.14:20 – memberikan persepuluhan. Dengan tindakan ini ia mengakui bahwa harta/kekayaannya datang dari Tuhan.

 

  1. Abraham tidak egois, tetapi sebaliknya berkorban.
    a) Kej.13:8-9 ia menyuruh Lot memilih lebih dulu. Padahal Abraham bukan hanya lebih tua, namun juga pamannya. Bahwa ia menyuruh Lot memilih lebih dulu, menunjukkan sikap tidak egois/rela berkorban atau punya hati yang peduli kepada orang lain (bdkn Kisah perwira Romawi, yang meninggalkan statusnya untuk membawa kepentingan budaknya, padahal pada jaman itu budak disamakan dengan benda yang bisa diperjualbelikan. Namun perwira tersebut menaruh kepentingannya untuk memberkati orang lain. Dan hal inilah yang membuat Tuhan menjadi heran dengan iman seperti itu Mat.8:5-10. b) Kej.14:14-16Saat Abraham mendengar Lot ditawan, ia segera mengatur pasukan dan mengejar musuh untuk membebaskan Lot dan Keluarganya. Abraham mengambil resiko demi Lot yang begitu egois (Kej.14:19-20)

 

KESIMPULAN. Wujud pribadi yang tidak mengorbankan keluarga, gereja dan masyarakat untuk mencapai tujuan adalah tidak tamak, tidak melupakan Tuhan, dan Tidak egois tetapi rela berkorban serta memiliki hati yang peduli kepada orang lain. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 19 Mei 2015           Durasi: 20 Menit

Nats          : Lukas 17:28-33; Kejadian 19:15-26

Tema         : Faktor – Faktor yang dapat mengorbankan Keluarga

PENDAHULUAN.

lotAlkitab menjelaskan bahwa ketika Allah menyatakan Kerajaan-Nya dengan menghukum kota Sodom dan Gomora, Allah menginginkan agar Lot dan keluarganya luput dari penghukuman dan memperoleh keselamatan. Namun kenyataannya, seorang dari keluarga Lot, yakni Istrinya, tidak menikmati bagian dalam konsep (rencana) Allah tentang penyelamatan itu, mengapa? Hal ini karena istri Lot tidak memperhatikan kehendak-Nya – Lukas 17:23.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Faktor – Faktor yang dapat mengorbankan Keluarga:

  1. Karena Istri Lot adalah Pribadi yang suka “BERLAMBAT-LAMBAT” (Kej.19:6a).Ketika Allah sudah menetapkan hari penghakiman atas Kota Sodom dan Gomora, Allah mengutus dua malikat-Nya untuk memberitahukan rencana penyelamatan itu kepada Lot dan keluarganya. Namun kenyataannya dalam usaha meresponi tindakan Allah, Lot dan Istrinya menunjukkan suatu sikap yang kontra diktif (bertentangan) dengan keinginan Allah. Dia (istri Lot) menunjukkan sikap “berlambat-lambat” terhadap perintah Allah.

Dalam hal ini sebagai orang percaya, kita dituntut untuk bersikap responsif (cepat tanggap) terhadap kehendak Allah atas hidup kita. Sebagai pribadi yang sudah diselamatkan (orang yang berhak menerima janji-janji Allah dan menerima Kristus sebagai Jurus’lamat pribadi), harus bersikap peka dan agresif terhadap maksud-maksud Allah dalam hidup kita sehingga kita mendapat bagian dalam rencana Allah.

 

  1. Karena Istri Lot adalah Pribadi yang suka “MENOLEH KE BELAKANG

“”..larilah, selamatkanlah nyawamu; jangan menoleh kebelakang…” (Kej.19:17). Perintah ini juga disampaikan kepada istri Lot. Saat hukuman Tuhan sudah dilaksanakan atas kota itu, Lot bersama dengan istrinya sedang dalam usaha ‘berlari untuk menjauhkan diri’ agar terhindar dari bahaya ke tempat yang telah diperintahkan Tuhan. Tetapi istri Lot seolah-olah tidak menangapi perkataan itu sebagai perintah yang serius. Dia mengingat semua apa yang ada di belakangnya (harta kekayaannya) yang ada di Sodom. Dan akhirnya, ia menoleh ke belakang. Apa yang terjadi sesudah ia menoleh ke belakang? Ia menjadi TIANG GARAM (Kej.19:26 baca juga Fil.3:13-14). Menoleh ke belakang juga berbicara mengenai saat di mana kita selalu mengingat masa lalu kita yang mungkin saja itu menghalangi kita untuk masuk dalam rencana Allah. Dan akhirnya kita menjadi tiang garam. Dalam hal ini tiang garam berarti juga saat di mana kita tidak dapat berbuat apa-apa.

  1. Karena Istri Lot adalah Pribadi yang mudah “Putus asa”

“….dan JANGAN BERHENTI Kej.19:17.” Kata “jangan berhenti” dalam ayat ini mengacu pada pengertian bahwa segala sesuatunya berakhir. Istri Lot mengakhiri semuanya dengan menunjukkan sikap berhenti di tengah jalan. Sehingga Istri Lot tidak pernah mengalami kemajuan dalam meraih janji-janji Tuhan atas hidupnya.

 

KESIMPULAN. Faktor–Faktor yang dapat mengorbankan Keluarga: jika kita memiliki sikap berlambat-lambat dalam menjalani kehendak Allah. Waktu semakin cepat berlalu dan kita dituntut untuk lebih berkembang dalam menyikapi segala sesuatu yang Tuhan berikan. Kita juga jangan “menoleh kebelakang“ (yang kita alami pada masa lalu) jika hal tersebut menghalangi Rencana Tuhan. Dengan demikian kita tidak akan pernah berhenti dalam melayani Tuhan. Bersama Yesus maju terus. Tuhan Memberkati! Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 26 Mei 2015

Nats           : Kejadian 13:1–18

Tema         : Belajar Dari Lot agar kita tidak mengorbankan

                 keluarga demi tujuan Bag. 1

PENDAHULUAN.

belajar dari lotKebebasan yang dikaruniakan Allah kepada manusia adalah memilih.” Manusia bebas untuk memilih sesuai dengan kehendak bebas (free will) yang diberikan Allah kepadanya. Tetapi kita harus ingat bahwa, begitu kita memilih, maka kita menjadi “hamba” dari pilihan kita sendiri. Kita terikat untuk melakukan pilihan kita sendiri. Untuk setiap pilihan ada akibat atau konsekuensinya, apakah itu mendatangkan “berkat” atau “kutuk”.

Manusia membuat pilihan berdasarkan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya, atau yang dianutnya! Nilai-nilai itu akan menentukan pilihan kita serta akibat yang ditimbulkannya kemudian.

Di dalam Alkitab ada contoh seorang membuat pilihan yang keliru dan harus menanggung akibat yang sangat buruk sebagai akibat dari pilihan yang dibuatnya berdasarkan nilai-nilai salah yang dianutnya (dimilikinya). Kita dapat mempelajari hal ini dari kisah Lot (keponakan Abraham).

Lot mewakili orang percaya yang salah dalam membuat pilihan. Alkitab mengatakan bahwa Lot adalah “orang benar” (2 Pet.2:7,8) yang hidup di tengah-tengah orang fasik atas pilihannya sendiri dan menderita akibat pilihannya sendiri. Mengapa Lot membuat pilihan yang keliru sehingga ia harus menanggung akibat yang sangat buruk? Itu adalah karena (walaupun Lot percaya Allah tetapi) ia menganut nilai-nilai yang keliru dalam dirinya.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Apa saja nilai-nilai salah yang dianut oleh Lot?

  1. Lot salah dalam menilai posisi Allah dalam hidupnya.

Ia tidak mengutamakan Allah dalam hidupnya dan menilai segala sesuatu dari keuntungan yang dapat diperolehnya dan bukan berdasarkan sudut pandang Allah (Kej.13:13). Bukankah ini adalah nilai yang salah? Kej.13:6–7Lot tidak bertanya kepada Tuhan sebelum membuat pilihan atau setidaknya meminta nasihat pamannya Abraham, seorang yang takut akan Allah dan beribadah kepada Allah. Lot langsung membuat pilihan berdasarkan “keuntungan”  yang bisa dia peroleh. Kej.13:10–11, Lot tidak bertanya kepada Tuhan dalam doa untuk meminta petunjuk Tuhan, padahal Tuhan adalah “Penasihat yang Ajaib” Yes.9:5 Ini dikarenakan dalam hati Lot nilai bisnis dan keuntungan lebih utama dari Tuhan. Pada akhirnya kita semua tahu bagaimana akhir dari kisah Lot. Bukan sesuatu yang baik untuk dicontoh, bahkan sangat tragis dan memalukan.

 

  1. Kesalahan kedua yang dilakukan Lot ketika memilih ialah ia tidak memiliki (tidak mempedulikan) nilai tentang hubungan.

        Seharusnya ketika Abraham, pamannya, memberi penawaran kepadanya untuk memilih terlebih dahulu, maka seharusnya Lot mengembalikan itu kepada Abraham, pamannya. Sebab walau bagaimana pun Lot harus ingat bahwa karena (jasa) pamannyalah ia dapat berhasil dan kaya seperti sekarang ini. Lot “lupa” akan hubungannya dengan pamannya ini. Lot tidak mempedulikan nilai hubungannya dengan Abraham dan lebih memikirkan segi keuntungan, akibatnya ia salah dalam membuat pilihan dan harus menuai akibat yang buruk dari pilihannya itu.

 

KESIMPULAN. Belajar dari Lot agar kita tidak mengorbankan keluarga demi tujuan Bagian 1: Lot salah dalam menilai posisi Allah dalam hidupnya sehingga menderita sengsara dan ketidak beruntungan. Kesalahan kedua yang dilakukan Lot ketika memilih ialah ia tidak memiliki (tidak mempedulikan) nilai tentang hubungan. Dalam hidup ini hubungan sangat penting, baik hubungan dengan Tuhan, kerabat dan lain-lain agar tercipta kerukunan yang membawa berkat Tuhan (Maz.133:1-3). Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 02 Juni 2015

Nats           : Kejadian 19:1–26

Tema         : Belajar Dari Lot agar kita tidak mengorbankan

                 keluarga demi tujuan Bag. 2

PENDAHULUAN.

belajar dari lot bag 2Belajar dari Lot agar kita tidak mengorbankan keluarga demi tujuan Bagian 1: Lot salah dalam menilai posisi Allah dalam hidupnya sehingga menderita sengsara dan ketidak beruntungan. Kesalahan kedua yang dilakukan Lot ketika memilih ialah ia tidak memiliki (tidak mempedulikan) nilai tentang hubungan. Selanjutnya ada dua hal lagi yang patut diperhatikan nilai-nilai yang kita anut agar tidak mengorbankan keluarga demi mencapai tujuan.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Apakah nilai-nilai salah yang dianut Lot?

  1. Yang ketiga, Lot tidak mempedulikan nilai keluarga dalam mengambil keputusan.

Memang bisnisnya seolah-olah berhasil. Ia mendapatkan harta (kekayaan), tahta (kedudukan sebagai pejabat kota) dan juga wanita (mendapatkan isterinya). Tetapi kita lihat akibatnya kepada kehidupan keluarganya begitu buruk dan memalukan.

Lot lambat laun ‘mengadopsi’ nilai moral kota Sodom yang rendah dengan menawarkan kedua anak gadisnya untuk “dipakai” oleh para lelaki kota Sodom guna melindungi dua malaikat yang menjadi tamunya (Kej. 19:8). Lot juga menjodohkan anak-anak perempuannya dengan pemuda kota Sodom, dan mereka, kedua bakal menantunya itu, tidak mau mendengar nasihat Lot dan menganggapnya sebagai orang yang berolok-olok saja (mengejek Lot) – Kej.19:14. Lot juga memiliki isteri yang mencintai kekayaan, sehingga ketika mereka harus melarikan diri ke luar dari Sodom, isteri Lot menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam (Kej.19:26). Dan yang paling memalukan adalah apa yang terjadi antara Lot dengan kedua anak gadisnya sekeluar mereka dari kota Sodom (Kej.19:30–38).

Lot menghancurkan keluarganya sendiri akibat pilihan yang dibuatnya. Ia memperoleh apa yang dia inginkan tetapi moralitas keluarganya hancur. Akhirnya Lot kehilangan semuanya, baik hartanya maupun keluarganya, karena ia tidak mempedulikan nilai keluarga.

 

  1. Yang keempat adalah Lot tidak mempedulikan nilai jangka panjang. Ia bahkan mengorbankan nilai jangka panjang demi keuntungan jangka pendek. Ia menggadaikan kepentingan jangka panjang untuk kepentingan jangka pendek.

 Secara jangka pendek kelihatannya Lot berhasil mencapai apa yang ia inginkan dengan cepat. Tetapi ia kehilangan masa depannya. Hartanya habis ketika Sodom dan Gomora dibakar dengan api dan belerang (Kej.19:24–25). Isterinya mati menjadi tiang garam (Kej.19:26). Yang dibawa Lot keluar hanyalah pakaian yang menempel pada badannya dan kedua anak gadisnya yang bejat moralnya yang akhirnya melakukan perbuatan tercela terhadap ayahnya.

 

KESIMPULAN.

Lot salah memilih sehingga ia mendapatkan “kutuk” dan bukannya “berkat”. Ia salah memilih karena ia menganut nilai yang keliru, yaitu hanya menilai menurut keuntungan jangka pendek. Ia tidak mempedulikan nilai rohani (tidak mengutamakan Tuhan dan hal-hal rohani), nilai keluarga, nilai hubungan dan nilai jangka panjang. Kiranya kita menjadikan kisah ini sebagai pelajaran sehingga kita memiliki hati yang bijaksana ketika harus memilih. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 09 Juni 2015

Nats          : Titus 2:1-10

Tema         : Menjadi Teladan

PENDAHULUAN.

teladanBulan Juni kita akan belajar Pilar delapan yaitu Menjadikan Jemaat Memiliki Otoritas Raja yang mengutamakan prinsip keluarga. Point pertama: tidak mengorbankan keluarga demi mencapai tujuan, yang telah dibahas beberapa minggu lalu dan sekarang kita akan belajar point Kedua:Kebesaran dari keteladanan.

Seorang teladan artinya sosok yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain, menjadi role model. Dunia akan selalu butuh juga haus akan keteladanan untuk dijadikan pelajaran berharga agar lebih baik lagi kedepannya. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan, dalam alkitab kita pun bisa menemukan banyak keteladanan ini. Pertanyaannya, ada berapa banyak sosok yang layak untuk diteladani di hari-hari ini? Kemudian satu lagi, apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Ada banyak orang yang menolak dengan berbagai alasan. Mengapa harus saya? Biar orang lain saja kita teladani, kita tidak perlu sibuk untuk itu. Itu menjadi buah pemikiran banyak orang. Dan itu bukanlah sesuatu yang dianjurkan untuk menjadi pola pikir orang percaya.

Alkitab dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Ayat bacaan hari ini menyatakan salah satu firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan.“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Titus 2:7).

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Empat Teladan yang Rasul Paulus Nasehatkan?

  1. Teladan dalam hidup memberi nilai dan dampak

Titus 2: 2-6à Dalam hal hidup harus memberi teladan, baik orang tua hingga orang muda. Ada nilai yang orang lain bisa rasakan dan ada dampak teladan yang baik dan kehidupan yang dibagikan 1Korintus 4:16, Filipi 3:17, 2 Tesalonika 3:7, 9. Rasul Paulus adalah contoh keteladanan yang luar biasa, ketika dia berkata ikuti teladanku, semua orang mengikuti dia, karena hidupnya memberi dampak. Apapun yang Rasul Paulus bicarakan selalu dia hidupi, apa yang dia katakan itu yang dia lakukan.

 

  1. Teladan dalam berbuat baik

Titus 2:7, Roma 12:17b, 1Petrus  1:12, Yohanes  3:11, Filipi 4:5a, Amsal 3:27 Mengajarkan kepada untuk melakukan kebaikan kepada semua orang, yaitu semua orang yang Tuhan bawa untuk bertemu dengan kita, dimanapun kita bertemu dengan orang itu, bukan hanya dalam bentuk materi tetapi juga perhatian, pada waktu susah kita hibur, jangan pernah menahan kebaikan yang kita mampu lakukan, karena ingatlah betapa baiknya Tuhan dalam hidup kita setiap hari.

 

  1. Teladan dalam kejujuran

Yesaya 33:15-16, Amsal 14:11b, Kita harus jujur dengan diri kita sendiri (Kita mempunyai  intergritas kepada diri kita sendiri), dan jujur dengan saudara kita.

 

  1. Teladan dalam memberikan pengajaran

Titus 2:7-8, Kita tidak bisa menuntut orang lain, jika kita sendiri belum bisa atau mampu melakukannya. Tuhan Yesus mengajar disertai Kuasa dan Otoritas. Teladan dari Tuhan Yesus membuat orang melihat-Nya dengan takjub dan mengikuti Dia.

 

KESIMPULAN. Jadikanlah diri kita teladan, sama seperti Kristus dan Para Rasul melakukan hal demikian. Hidup menjadi Teladan harus dimiliki oleh orang-orang yang memiliki otoritas Raja. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 16 Juni 2015       Durasi: 20 Menit

Nats           : Yohanes 13:15

Tema         : Mendidik Melalui Teladan

PENDAHULUAN.

yesus teladanSelasa lalu telah belajar bagaimana menjadikan diri kita suatu teladan yang baik. Mujizat Terbesar bukan mendapatkan berkat besar (rumah, materi, dsbnya) tapi Mujizat adalah perubahan pribadi kita menjadi seperti Kristus.

Salah satu prinsip dalam pembelajaran kepada anak ialah melalui percontohan orang tua, yang lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan pendidikan kognitif(pengetahuan). Disini anak melihat langsung keteladanan orang tua dalam menyikapi berbagai masalah. Anak juga ingin membuktikan apakah tindakan orang tua selaras dengan didikan yang disampaikannya. Percontohan merupakan bukti bahwa orang tua selaku pengajar tidak sekedar menyampaikan pengetahuan. Seperti yang dilakukan Tuhan Yesus sebagai The Master Teacher, salah satu metode pengajaran yang diterapkan ialah menghidupi ajaran-Nya. Tidak sekedar mengajar tentang pengampunan melainkan Ia sendiri menghidupi ajaran-Nya melalui doa pengampunan yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang menyalibkan Dia (Lukas 23:34).

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Prinsip Pendidikan Melalui Percontohan Keluarga Eli :

  1. Melihat Model yang Salah

Kehidupan keluarga Imam Eli menarik untuk diangkat sebagai bahan kajian tentang pentingnya keteladanan. Sebagai senior, tentu Imam Eli mendidik Samuel. Tanpa disadari kehidupan Imam Eli berpengaruh dalam kehidupan Samuel ialah kegagalannya dalam melaksanakan pendidikan keluarga.

Apa yang terjadi dalam kehidupan Imam Eli di kemudian hari terjadi juga dalam rumah tangga Samuel. Meskipun tidak separah anak-anak Eli, salah satu alasan mengapa bangsa Israel meminta raja ialah karena anak-anak Samuel tidak hidup seperti dia (1 Sam 8:1-6). Mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Selain karakter anak-anak Samuel yang tidak baik, Samuel juga tidak memperoleh contoh bagaimana mendidik anak maupun membina keluarga yang takut akan Tuhan. Samuel membutuhkan model yang dapat memberikan konsep sebuah rumah tangga serta fungsi orang tua sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Kemungkinan juga apa yang dilakukan Eli dalam menegur anak-anaknya juga dicontoh oleh Samuel sehingga meskipun Samuel tegas terhadap orang lain tetapi tidak terhadap anak-anaknya.

 

  1. Anak Tanpa Disiplin

Sebagai kepala keluarga dan sekaligus imam, Eli tidak dapat menerapkan disiplin terhadap anak-anaknya. Segala kejahatan yang dilakukan anak-anaknya tidak ditindak tegas melainkan hanya memberikan teguran (I Samue1 2:23-25). Padahal dalam peraturan keimamam seharusnya mereka dikucilkan dari jabatannya sebagai imam. Akibatnya mereka tidak mempunyai rasa segan atau hormat kepada Eli.

Disiplin adalah bagian dari sifat yang dibangun orang tua dalam diri anak yang akan memberi jalan kehidupan kepada anak di mana disiplin tersebut menjadi efektif bila berjalan bersama kasih. Kitab Amsal banyak mengupas prinsip Alkitab dalam mendisiplinkan anak sebagai tindakan mendidik untuk kebaikan anak (Ams 3:11-12; 6:20-23). Baca Ams.19:18.

 

Kesimpulan. Jagalah hidup kita dengan sesuai Firman Tuhan, sebab suka-tidak suka, mau tidak mau hidup kita menjadi contoh/teladan bagi orang lain. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 23 Juni 2015       Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Timotius 4:12

Tema         : Nilai Keteladanan bagian 1

PENDAHULUAN.

good habitsApakah pentingnya sebuah keteladanan? sebuah teladan hidup yang baik adalah khotbah yang terbaik yang dapat disampaikan kepada semua orang. Melalui teladan hidup itulah orang bisa melihat dengan nyata bagaimana teladan hidup anak-anak Tuhan bukan hanya sekedar sebuah teori, bukan hanya sekedar suatu pemahaman teologi, melainkan nyata dalam kehidupan pribadi demi pribadi. Teladan bukanlah hal yang sembarangan, melainkan merupakan suatu faktor ampuh yang bisa dipakai untuk membawa orang kepada Kristus. Teladan hidup, teladan berjemaat merupakan suatu harta karun, suatu keseriusan, suatu perjuangan, dan suatu komitmen untuk mau membawa orang kepada Tuhan.

Keteladanan hidup bukan datang dalam sehari, bukan dibangun berdasarkan 1 perjuangan yang remeh, tetapi merupakan perjuangan yang disertai jutaan tetesan air mata. Keteladanan juga dibentuk dari berbagai macam ketajaman/kepekaan diri dan kewaspadaan diri. Kita tidak bisa menjadi teladan hanya dengan lenggang kangkung dan sekedar berkata-kata melainkan kita perlu masuk ke dalam perjuangan yang terus menerus. Gereja adalah wajah dimana pemerintahan Tuhan ada di muka bumi ini. Gereja adalah wajah dimana kasih Allah dinyatakan di dalam dunia ini. Gereja adalah suatu eksistensi yang sedang diperhatikan oleh seluruh dunia bahkan juga setan. Berarti kita sebagai anak-anak Tuhan bukan sekedar ada di tempat ini sebagaimana kita ada, tetapi banyak mata yang sedang memperhatikan dan melihat bagaimana kita hidup didalam pengajaran yang kita jalani.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Nilai Keteladanan apakah yang harus ada dalam hidup sebagai orang percaya?

 

  1. Dalam Perkataan

Paulus menghendaki Timotius dapat menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataan. Perkataan dalam bahasa Yunani “Logos” yang memiliki makna yaitu: perkataan, pembicaraan, pemberitaan, firman, khotbah,. Menyatakan bahwa kita selalu berkata-kata jujur dan penuh kasih. Menjadi teladan dalam perkataan kita harus berkata jujur, mengucapkan kata-kata yang membangun, dapat memberi semangat atau dorongan kepada orang lain.

 

2.Dalam Tingkah laku/perbuatan

            Tingkah laku dalam bahasa yunani “Anastrophe” yang memiliki makna yakni: cara hidup, prilaku, sikap. Mengandung arti bahwa kehidupan kita harus di kendalikan oleh firman Allah, dalam tingkah laku harus sabar, bertanggung jawab  dan berintegritas.    

  

3.Dalam Kasih

            Kasih dalam yunani “Agape”artinya: Kasih yang sejati, kasih illahi, kasih tanpa syarat, kasih yang rela berkorban, kasih yang tidak akan di goyahkan oleh karena situasi- kondisi yang bangaimana pun buruknya. Menunjuk kepada motivasi kehidupan kita dan hanya Tuhan yang dapat memampukan kita mengasihi dengan kasih “Agape”. Dalam kasih (Agape) kita mampu mendoakan musuh-musuh kita dan mampu memberkati orang yang membenci kita.

 

Kesimpulan. Nilai keteladanan yang Rasul Paulus nasehatkan kepada anak didiknya, Timotius yaitu: Menjadi Teladan dalam Perkataan, Tingkah laku/perbuatan dan dalam kasih. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 30 Juni 2015       Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Timotius 4:12

Tema         : Nilai Keteladanan bagian 2

PENDAHULUAN.

nilai keteladananTeladan mengandung arti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (KBBI). Teladan berasal dari ‘hupodeigma‘ (Yun) yang dapat juga diartikan sebagai gambaran (Ibr 8:5). Jadi, teladan merupakan nilai-nilai yang baik dan patut ditiru oleh orang lain, sehingga mereka mengalami kebaikan dari nilai-nilai itu dan meninggalkan nilai-nilai mereka yang kurang atau tidak baik. Kristen adalah sesuatu yang unik sejak awal mula keberadaannya.

Kedewasaan Setiap orang yang mengikut Yesus, pasti akan mengalami perubahan di dalam gaya hidup mereka, karena Tuhan Yesus bukan memberikan sekedar teori pengajaran agama, tetapi Ia sendiri melakukan apa yang diajarkanNya (Yoh.13:15). KeteladananNya merupakan contoh yang memberi kita kesadaran dan kekuatan bahwa kita pasti bisa melakukan kehendak Allah sebagaimana telah dilakukanNya, Bahkan sampai saat ini, kita bisa melihat dan membuktikan bahwa Firman dan kehadiranNya pasti akan mengubah setiap orang percaya (ITesalonika 1:5), dan membuat mereka menjadi dewasa rohani. Hingga pada akhirnya menjadi teladan-teladan rohani (ITesalonika 1:7). Membangun Teladan Untuk itulah sampai saat inipun, kita perlu melanjutkan membangun keteladanan yang sudah Tuhan Yesus dan para pemimpin kita terdahulu berikan ( Ibr 13:7). Karena kekristenan tidak sekedar bicara masalah keselamatan dan keagamaan, tetapi merupakan perubahan pola hidup yang membutuhkan contoh yang dapat ditiru sebagai kekuatan dalam menjalani proses perubahan itu. Dalam pelayanan, pemberitaan Firman dan pengajaran yang hebat belum tentu efektif dalam memenangkan jiwa. Tetapi ketika kita membangun diri agar menjadi teladan, itu akan lebih efektif untuk mengubah orang karena mereka tidak sekedar mendapatkan teori tetapi juga contoh. Keteladanan yang kita – sebagai pemimpin – berikan itulah yang menjadi dasar dan kekuatan bagi mereka untuk berubah. Karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus membangun keteladanan dalam diri kita menjadi contoh yang dapat ditiru karena mempunyai nilai-nilai yang baik (I Tesalonika 1:7).

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Nilai Keteladanan apakah yang harus ada dalam hidup sebagai orang percaya?

4.Dalam Kesetiaan

            Kesetiaan dalam bahasa Yunani”Pistis” kepercayaan, iman, kesetiaan. Menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah dan setia kepadaNya. Dalam bahasa aslinya kata “iman” dan “kesetiaan” memiliki akar kata yang sama (pistis). Inggris: Faithfull = Penuh Iman = Setia. Bhs Grika: Phistos = Setia. Phitis = Iman, Setia.

Jadi iman tidak terlepas dari setia. Orang yang tidak setia, menurut Ulangan 32:20 adalah suatu angkatan yang bengkok. Tuhan akan menyembunyikan wajah-Nya dari angkatan yang bengkok ini. Bagi yang tetap setia, Tuhan akan menjagai dengan damai sejahtera (Yesaya 26:2-3). Iman memang selalu membawa kepada kesetiaan. Kesetiaan berarti selalu bertanggung jawab dalam pelayanan, dalam tugas yang dipercayakan.   

 

5.Dalam Kesucian

            Kesucian dalam bahasa Yunani “Hagneia” kemurnian hidup tanpa cacat cela, memelihara agar hati, pikiran tetap suci dan murni, menjauhkan diri dari hal-hal yang negative 1 Tesalonika 5:23

 

Kesimpulan. Diakhir bulan ini marilah kita Menjadi Teladan dalam Perkataan, Tingkah laku/perbuatan, dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kesucian. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 07 Juli 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Matius 11:29

Tema         : Belajar dari Yesus dalam hal kerendahan hati Bag. 1

PENDAHULUAN.

rendah hatiBulan Mei s/d Agustus kita akan belajar Pilar delapan yaitu Menjadikan Jemaat Memiliki Otoritas Raja yang mengutamakan prinsip keluarga. Point pertama: tidak mengorbankan keluarga demi mencapai tujuan, point Kedua:Kebesaran dari keteladanan dan Point Ketiga : Kerendahan hati.

Jika kita mengaku orang-orang yang memiliki otoritas Raja, hendaknya kita tidak mengorbankan keluarga demi tujuan yang salah. Berani tampil menjadi Teladan dan mengenakan kerendahan hati sehingga kapasitas diri kita diperbesar oleh Tuhan.

Hidup merupakan pilihan, seumpama di dalam hidup kita ada dua tabung : tabung pertama berisi kesombongan dan tabung kedua berisi kerendahan hati. Sifat kedua tabung itu berbeda, tabung yang berisi kesombongan dalam diri manusia akan terisi secara otomatis, karena benih itu ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan tabung yang berisi kerendahan hati perlu upaya, diusahakan, bahkan perlu belajar dan berlatih. Sama seperti perkataan Yesus dalam kitab Matius 11:29 pikullah kuk yang Kupasang dan BELAJARLAH PADA-KU, u  karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu v  akan mendapat ketenangan.

Yesus adalah contoh sempurna dari kerendahan hati manusia. Itu berarti, kita sebagai manusia biasa pasti mampu melakukan apa yang Yesus lakukan.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Bagaimana Yesus sebagai manusia menunjukkan kerendahan hati yang berkenan di hati Bapa?

  1. Yesus mengesampingkan kemuliaanNya

”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yohanes 17:4)

  • Hal ini mengandung pengertian bahwa ciri orang yang rendah hati adalah tidak “gila hormat”, gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup. Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi orang hina dina, dilecehkan, direndahkan, atau tidak dihargai di dunia ini. Perumpamaan Yesus dalam Lukas 14:7-11 semua orang ingin dihormati, tetapi jangan sampai minta hormat. Jangan kita mencuri kemuliaan Tuhan. Berilah Ilustrasi!

 

  1. Yesus mengesampingkan keAllahanNya

”Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30, bd Fil 2:6-7).

  • Sikap rendah hati yang sempurna adalah yang diteladankan Yesus dalam Filipi 2: 1-17 & I Petrus 2:21-23. Kristus yang adalah Allah rela untuk menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba. Berilah Ilustrasi Konsep Kerendahan hati.

 

KESIMPULAN Pemeliharaan Karakter rendah hati yang terbentuk harus terus menerus diulang-ulang atau dibiasakan agar menjadi kepribadian yang utuh. Agar pemeliharaan karakter ini terbentuk dengan baik diperlukan komitmen yang kuat dan model keteladanan. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 14 Juli 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Matius 23:12

Tema         : Belajar dari Yesus dalam hal kerendahan hati Bag. 2

PENDAHULUAN.

humbleSelasa lalu telah belajar tentang kerendahan hati dari Yesus, yakni: Yesus mengesampingkan kemuliaanNya (tidak haus dengan pujian) dan Yesus mengesampingkan keAllahanNya (tidak memaksakan kehendaknya sendiri melainkan melakukan kehendak Bapanya yang diSurga). Berikutnya kita akan belajar dua hal lagi.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Bagaimana Yesus sebagai manusia menunjukkan keredahan hati yang berkenan di hati Bapa?

 

  1. Yesus mengesampingkan kekayaanNya

”Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9). 

 

  • Dalam Kitab Yeremia 9:23-24, dan Mazmur 20:8 Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Ciri orang yang rendah hati adalah tidak memegahkan atau mengandalkan kekayaanya semata-mata. Mazmur 49:7-21 tidak ada kekayaan yang berasal dari dunia ini bersifat kekal.
  • Oleh sebab itu milikilah kerendahan hati untuk terus mengakui dan mengadalkan Tuhan saja itulah harta kekayaaan kita sesungguhnya Amsal 22:4. Berilah ilustrasi!

 

  1. Yesus mengesampingkan hak-hak sorgawiNya

”Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” (Lukas 22:27)

  • Yesus dengan rela dan rendah hati bersedia menderita menggantikan kita. Dunia sering mendorong manusia untuk selalu meninggikan diri dengan segala keberadaannya. Maka dari itu, ”Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).
  • Ciri orang yang rendah hati adalah memberikan hidup kita untuk melayani Tuhan . Allah sangat menyukai orang-orang yang rendah hati dan membenci orang yang sombong (Matius 23:11-12).

 

KESIMPULAN.

Maka dari itu rendahkanlah diri kita di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kita (Yakobus 4:10). Tidak perlu kita menyibukkan diri menyombongkan keadaan kita, jika kita hidup dengan sikap yang rendah hati dan sederhana maka Allah sendiri yang akan mengangkat kita setinggi yang Dia kehendaki. ”Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (1 Petrus 5:6). 

Hidup yang diwarnai dengan kerendahan hati harus dimiliki oleh orang-orang yang memiliki otoritas Raja. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Loading...