Materi S2C : Selasa, 10 November 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Kisah Para Rasul 4:12; Matius 4:19, Mrk 1:17
Tema : Bagaimana Menjadi Seorang Pemenang Jiwa Yang Berhasil
PENDAHULUAN.
Allah mengharapkan anak-anakNya, menjadi orang yang dapat dipercaya dalam hal berkat dan orotitas yang telah diberikanNya (1Kor 4:1).
Karena semua sarana dan fasilitas yang terima dari Allah, semata-mata demi kasihNya untuk menyelamatkan dunia. Allah memberkati kita karena Allah mengasihi kita, dan setiap kita yang adalah imam di hadapan Allah, yang dekat denganNya, dan yang mengasihiNya, dapat menggunakan semua yang kita terima dari Dia bagi keselamatan jiwa-jiwa dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus semata. Jika ingin menyelamatkan jiwa bagi Kristus, kita harus memiliki beberapa sifat tertentu yang harus ada pada seorang pemenang jiwa. Marilah kita periksa apa yang firman Tuhan katakan tentang hal ini.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Bagaimana Menjadi Seorang Pemenang Jiwa Yang Berhasil?
- Seorang pemenang jiwa bukan saja harus bersaksi tentang Kristus, tetapi ia harus memiliki Kristus dalam kehidupannya sendiri.
Bukan saja mengaku dengan mulutnya, tapi juga pengalaman dengan hatinya (Yoh. 4:39-42). Orang yang hanya berkata saja tetapi tidak mengalami sendiri adalah orang yang berpura-pura. Orang yang pura-pura (munafik) tak mungkin menjadi seorang pemenang jiwa. Tetapi orang yang memiliki Kristus, yang hidup dalam persekutuan dengan Allah, ialah yang dapat menjadi pemenang jiwa yang berhasil. Tuhan Yesus melawan orang-orang yang pura-pura, yang hanya mementingkan perkara lahir saja dan tidak mementingkan perkara batin (Matius 23). Bilamana kita mempunyai persekutuan dengan Allah, ketika kita berbicara dengan orang lain, mereka akan mudah menerima kesaksian kita (Yoh. 1:35-51).
- Seorang pemenang jiwa harus menyadari bahwa kita duta Kerajaan Allah.
Tiap-tiap anak Tuhan mempunyai tanggung jawab yang besar, yaitu ia dipanggil menjadi utusan Kerajaan Surga untuk mengabarkan kepada dunia ini bahwa Allah mau berdamai dengan manusia di dalam dan oleh Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal (2 Kor. 5:18-21). Perintah Tuhan yang terakhir dan terbesar pada murid-murid-Nya ialah: “Pergilah kamu ke seluruh muka bumi dan kabarkan Injil” (Mrk 16:9-20; Mat.28:16-20; Luk.24; dan KPR 1:8)
- Seorang pemenang jiwa harus bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa.
Kita harus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus (2 Pet. 3:18). Itulah kehendak Tuhan dan tujuan keselamatan kita, yakni supaya kita maju terus menuju kedewasaan rohani (band. Ibr 5:11-14 dgn Ef 4:11-16).
Artinya kita harus menjadi orang Kristen yang dewasa, menjadi gambar dan serupa dengan Allah (Rom 8:29), menjadi garam dan terang (teladan atau panutan-1Tim. 4:12; 2 Kor 3:2-3), menjadikan Firman Allah pegangan hidup (Yoh. 15:7), hidup dalam hubungan yang intim dengan Tuhan.
Kesimpulan. Inilah beberapa hal yang harus ada dalam hidup kita jika kita mau jadi pemenang jiwa yang berhasil. Jika kita belum memiliki, mulailah berdoa dan minta kepada Tuhan supaya Dia mengubahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya, supaya kita bisa menjadi alat dalam tangan-Nya untuk menyelamatkan banyak jiwa. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 03 November 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Kisah Para Rasul 20:18-38
Tema : Otoritas untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan
Yesus, belajar dari prinsip Rasul Paulus
PENDAHULUAN.
Beberapa bulan yang lalu telah kita pelajari bagaimana mengubah mental pengemis menjadi mental Kerajaan Allah. Sebagai akhir pembahasan minggu lalu telah kita kenali ciri dari orang-orang Kerajaan Allah adalah suka menabur dengan tidak berfokus pada hasil atau tuaian dari apa yang kita tabur.
Memasuki bulan November & Desember kita akan belajar Pilar ke 9 yakni: Menjadikan Jemaat Berotoritas Raja Yang Mengutamakan Prinsip Keimamatan, Point 2: Otoritas untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan Yesus dan MengasihiNya
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Otoritas untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan Yesus, belajar dari prinsip Rasul Paulus!
- Prinsip pertama: Manusia terhilang tanpa Kristus
Kekuatan atau kuasa dari kata-kata Paulus ditemukan dalam pribadinya untuk memenangkan jiwa (KPR 20:20-21, 31) itu adalah karakteristik pribadi Paulus, Ia memiliki keyakinan bahwa manusia terhilang tanpa Kristus Roma 3:10, 23, (Contoh : Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah; Seorang yang saleh dan yang memberi banyak sedekah kepada orang-orang dan yang senantiasa berdoa kepada Allah –KPR 10:30, 31).
Alkitab menjelaskan kebaikan Kornelius tidaklah cukup di hadapan Tuhan. Sebagai orang yang baik, tapi tanpa Kristus. Ia seorang yang terhilang dan malaikat berkata kepada Kornelius ketika berdoa untuk menyuruh dia mengirim seseorang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus yang akan menyampaikan firman kepadanya supaya ia dan seisi rumahnya selamat (KPR 10:3, 32-48, 11:14; Yes. 53:6; Rom.3:10). Oleh sebab itu manusia memerlukan keselamatan (KPR 4:12; 1 Tes 5:9).
Jadi, Paulus harus pergi dari rumah ke rumah, di hadapan umum dan secara pribadi agar orang-orang bertobat kepada Allah dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengingatkan setiap orang siang dan malam dengan cucuran air mata. Itulah pelayanan Paulus.
- Prinsip kedua: Paulus bertanggung jawab terhadap jiwa-jiwa yang terhilang
Hal kedua yang dapat kita lihat tentang Paulus adalah bahwa ia merasa bertanggung jawab kepada Allah terhadap orang-orang yang terhilang Mat. 28:18-20.
Dalam Kisah Para Rasul 20:26 Paulus berkata, “Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa.” Dengan kata lain Paulus berkata bahwa ia telah melakukan bagiannya, ia telah melakukan yang terbaik untuk memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang bagi Kristus, dan tangannya bersih.
- Prinsip ketiga: Paulus menangisi jiwa-jiwa yang terhilang.
Hal terakhir tentang pelayanan Paulus adalah bahwa ia menangisi jiwa-jiwa yang masih terhilang. Ia mengejarnya, dan mengasihi dengan hati yang penuh belas kasihan. Dalam Kisah Para Rasul 20:31 ia berkata, “…bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.”
Sudahkah kita berdoa bagi jiwa-jiwa yang belum percaya dan menangisi mereka dihadapan Tuhan? (Ibr.5:7; Doa Yesus disertai dengan tangisan Lukas 19:41-44).
KESIMPULAN. Setiap kita diberi Otoritas untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan Yesus lakukan dengan setia dan belajar dari prinsip Rasul Paulus! Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 20 Oktober 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Mikha 6:9-16
Tema : Penyebab Tidak Menuai Apa Yang Ditabur bag. 2
PENDAHULUAN.
Selasa lalu kita telah belajar penyebab tidak menuai apa yang ditabur: (1). Salah menempatkan prioritas, (2). Perilaku yang Tidak Sesuai Kehendak Tuhan, & (3). Salah memahami dengan benar tujuan/motivasi dalam menabur yaitu semata-mata bukan bertujuan untuk menuai, melainkan sebagai tanda bahwa kita mengasihi Tuhan.
Orang Kerajaan Allah bercirikan suka menabur. Hal ini karena hati kita tidak terikat kepada harta benda/mamon Luk. 16:13. Selanjutnya kita akan belajar dua hal yang membuat kita sering gagal dalam menuai.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Penyebab Tidak Menuai Apa Yang Ditabur, yang perlu kita perhatikan!
- Tidak menyadari adanya “Belalang Pelahap”-Yoel 1:4, 3:10-11.
Belalang pelahap adalah jenis serangga yang merusak sedemikian rupa, yang menghabiskan apa yang seharusnya dituai Yoel 1:4. Dapat disimpulkan bahwa perpuluhan adalah “anti serangga” yang ampuh untuk melindungi tuaian kita. Tidak cukup hanya menabur, tapi perlu merawat apa yang telah kita tabur dengan mengembalikan milik Tuhan. Kalau kita mencuri milik Tuhan maka kita membuka pintu untuk belalang pelahap menghabiskan apa yang seharusnya kita tuai.
Mengabaikan persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Lama berdampak langsung pada sikap hormat kepada Allah (Mal.3:8). Oleh karena itu, Allah menegur keras Israel dan meminta mereka memberikan persepuluhan yang keluar dari hati yang menghormati Allah. Hanya ketika mereka belajar mengutamakan Tuhan dalam hidup mereka, hidup taat pada firman-Nya, maka mereka akan kembali menjadi umat kesayangan-Nya dan berkat-berkat Tuhan kembali dicurahkan (Mal.3:16-18). Tuhan berjanji akan menjauhkan umat-Nya dari hama yang bisa menyerang tuaian mereka, apabila mereka bertobat Yoel 2:25-27.
Nabi Maleakhi menegur umat Israel yang terus-menerus tidak setia dan tidak sungguh-sungguh percaya kepada-Nya (Mal.3:7). Walaupun secara lahiriah mereka masih beribadah kepada Allah, namun mereka tidak melihat Allah sebagai sumber hidup mereka sehingga mereka pun melalaikan perintah Hukum Taurat mengenai persembahan persepuluhan.
- Menjadi Lemah
Gal .6:9 Paulus mengingatkan Jemaat Galatia bahwa panen akan tiba apabila sudah datang waktunya. Segala sesuatu ada waktunya, karena itu iman kita harus tetap kuat, agar tidak menjadi lemah. Orang bisa menjadi lemah jika cepat-cepat mengharapkan panen. Kesabaran kita menunggu waktu Tuhan adalah bukti bahwa kita beriman.
Abraham adalah contoh nyata di mana dia sabar dalam menanti penggenapan janji Tuhan. Rom.4:19 “Imannya tidak menjadi lemah, ..” Iman atau keyakinan bahwa kita pasti menuai karena Tuhan tidak pernah ingkar janji, akan terus membuat kita dengan tekun merawat apa yang telah kita tabur sampai kita menuai.
Kesimpulan. Perhatikan bagaimana kita bersikap! Hal itulah yang menentukan apakah kita dapat menuai dari apa yang kita tabur. Jangan sampai kita lemah yang berarti iman kita “loyo”, namun hendaklah Iman kita kuat untuk selama-lamanya. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 13 Oktober 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Mikha 6:9-16
Tema : Penyebab Tidak Menuai Apa Yang Ditabur bag. 1
PENDAHULUAN.
Dalam Mikha 6:15 kita menabur tetapi tidak menuai, hal ini terjadi karena sikap kita. Sikap kita menentukan jalan hidup kita. Patut kita simak, mengapa seseorang telah merasa menabur tidak menuai?
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Penyebab Tidak Menuai Apa Yang Ditabur, yang perlu kita perhatikan!
- Salah menempatkan Prioritas-Hagai 1:5, 6, 9-11
Teguran Nabi Hagai ditujukan kepada umat Tuhan yang kembali dari pembuangan. Mereka tahu bahwa Tanah Perjanjian adalah bagian rencana Allah bagi umat-Nya. Lalu mereka kembali ke Yerusalem. Pertama kali ketika tiba di Yerusalem mereka segera berupaya membangun kembali rumah Allah yang telah diruntuhkan musuh. Namun pembangunan Bait Allah, berakhir tanpa kejelasan band Ezra 4:1, 5:1-5. Dalam kitab Hagai 1:2-4 bangsa Israel larut dalam kehidupan mereka sendiri dan menunda-nunda pembangunan.
Tuhan mendesak mereka untuk berpikir mengapa hasil kerja menjadi gagal (Hag 1:5-6). Mereka salah menempatkan prioritas, yaitu mengesampingkan Tuhan. Prioritas yang salah telah meyebabkan musim kering, demikian juga prioritas yang benar akan menjadi cuaca yang baik buat segala kebaikan yang telah kita tabur, sehingga pada akhirnya kita akan menuai apa yang telah kita tabur.
Umat Tuhan yang tidak menuai, apa yang telah dia tabur, hal ini karena prioritasnya salah, hanya memikirkan kebutuhan sendiri mengabaikan kebutuhan Rumah Tuhan. Mementingkan diri sendiri tidak punya kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan. Untuk itu mari kita perduli dengan Rumah Tuhan dan pekerjaannya. Sebab apa yang telah ditabur, suatu saat pasti kita akan menuai. Marilah kita terus memberi prioritas yang benar untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya Hagai 2:16-20.
- Perilaku yang Tidak Sesuai Kehendak Tuhan-12:13
Nabi Yeremia melayani kurang lebih selama 40 tahun, selama pemerintahan 5 raja Yehuda (Yer.1:1-3). Dalam Yer.12:13-17 karena perbuatan bangsa Yehuda yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan seperti : menentang Tuhan-Yer.12:7; murtad– Yer.2:8; 2:19; & sombong Yer.2:35, maka meskipun mereka menabur benih yang mereka tuai adalah semak duri (kesulitan/masalah). Jadi tanpa perkenanan Tuhan, taburan kita tidak akan menghasilkan apa-apa, bahkan akan datang malapetaka dalam hidup ini-Im.26:14-16; Mikha 6:11-16.
Namun, apabila perilaku kita yang setia dan taat terhadap Tuhan, yang berkenan pada Allah adalah pagar yang kuat terhadap apa yang telah kita tabur, sehingga kita akan menuai. Maz.5:12-13; Yes.37:35; Yes.38:6.
- Memiliki Motivasi yang salah
Orang yang suka menabur adalah tanda/ciri Orang Kerajaan Allah bahwa ia tidak terikat dengan Harta/mamon (Mat 6:24). Tujuan/motivasi menabur adalah mengasihi Tuhan, dan bukan untuk menuai. Prinsip dalam Kerajaan Allah adalah menabur dan menabur, memberi dan terus memberi tanpa mengharapkan balasan dari apa yang telah ditabur/diberi dan fokusnya bukan untuk menuai.
Jika kita mengasihi Tuhan perhatikan tujuan/motivasi dalam menabur. Dimana hartamu berada disitu hatimu berada (Luk.12:34). Apabila kita sulit memberi/menabur, maka itu menyatakan bahwa hati kita masih terikat dengan uang/mamon.
Kesimpulan. Sudakah kita mengetahui prioritas hidup kita? Dan apakah perilaku kita telah mencerminkan kehendak Allah & apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam menabur? Marilah kita memeriksa diri kita. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 06 Oktober 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Galatia 6:7-10
Tema : Hukum Tabur Tuai
PENDAHULUAN.
Memasuki bulan Oktober kita akan belajar bagaimana prinsip dari kerajaan Allah itu. Salah satunya adalah menabur. Dalam Markus 4:26 Kata Yesus: Beginilah hal kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Bulan lalu telah kita pelajari bagaimana mengubah mental pengemis menjadi mental kerajaan Allah. Berikut kita belajar prinsip dari Kerajaan Allah yakni hukum tabur dan tuai.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Poin-poin penting tentang Tabur dan Tuai:
- Perhatikan Benih yang kita tabur sekarang menentukan buah yang akan kita tuai esok
Paulus menekankan pentingnya menaburkan benih-benih tindakan yang memuliakan Allah, karena “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Kita tidak dapat berharap menikmati buah-buah berkat Allah jika kita tidak menyadari pentingnya melakukan bagian kita. Jika kita menabur dengan kasih, tanpa pamrih dan tekun apakah itu doa, perkatakan iman, kebajikan, uang dan waktu untuk Tuhan karena kita mengasihi Dia dan sesama, maka kita akan menuai dengan sukacita.
- Perhatikan kualitas benih kita ketika menabur sebab menentukan kualitas tuaian kita.
Ada dua macam kualitas yaitu baik atau buruk. Kualitas ketika menabur ada dua juga Galatia. 6:8 “Menabur di dalam daging artinya mencoba untuk melakukan-hal-hal yang baik, tetapi dengan mengandalkan diri sendiri sebagai sumber dan pelaku. Hasilnya tentunya kehancuran (kebinasaan) dari dagingnya. Seharusnya kita menabur dalam Roh. Menabur dalam Roh artinya melakukan kehendak Allah dengan mengandalkan Kristus sebagai sumber dan pelaku kehidupan kita.
Tubuh kita dahulu, sebelum lahir baru menjadi wadah untuk daging berekspresi. Karena daging berulang-ulang berekspresi, maka tubuh kita telah diperhamba. Tubuh kita melakukan perbuatan-perbuatan daging berulang-ulang sampai menjadi respon otomatis.
oleh sebab itu tubuh kita perlu ditaklukkan oleh kebenaran secara berulang-ulang sampai ia taat kepada kebenaran secara otomatis- Roma 6:18-23.
- Jangan pernah menunda-nunda waktu dalam menabur
Gal.6:10 “Selama masih ada kesempatan….” Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa kesempatan kita berada di dunia adalah terbatas, menurut pemazmur “masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat delapan puluh tahun dan kebanggaannya ialah kesukaran dan penderitaan..” (Maz. 90:10). Keputusan kita kerap memiliki jangkauan dan dampak yang luas. Dengan demikian, perkataan Rasul Paulus mengingatkan kita untuk mengambil keputusan dengan bijaksana. Keputusan yang kita ambil hari ini menghasilkan konsekuensi yang akan kita tuai esok hari.
KESIMPULAN. Hati – hati dengan apa yang kita tabur, menabur yang baik akan menuai yang baik, demikian sebaliknya. Hari ini kita belajar hal-hal yang berkaitan dengan hukum tabur tuai: perhatikan benih, kualitas & jangan pernah menunda waktu dalam menabur! Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 29 September 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 14:17-18
Tema : Milikilah Mentalitas Kerajaan Allah bag- 2
PENDAHULUAN.
Orang yang hidup dalam Kerajaan Allah berarti kesukaannya adalah hidup dalam pemerintahan Allah, atau dengan kata lain hidup dalam Firman Tuhan.
Ketika seseorang dipercayakan berkat untuk dikelola, senantiasa harus diingat bahwa semua berkat itu untuk membawa kita semakin dekat dengan Tuhan.
Bagi orang Kerajaan Allah, kita sudah membahas tentang mental Perjanjian dan Mental Prajurit yang menitik beratkan pada pengabdian total pada kehendak Kristus, Raja di atas segala raja. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang ciri mental kerajaan Allah yang lain, yaitu:
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): milikilah mentalitas Kerajaan Allah, diantaranya:
- Mentalitas Penyembah
Kerajaan Allah, tidak berbicara tentang makan dan minum dan hal-hal lahirian lainnya. Salah satu kebiasaan dalam kerajaan Allah adalah hidup dalam penyembahan yang tak putus-putusnya kepada Raja kita yaitu Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 4:10-11).
Ada dua prinsip mental penyembah dalam Kerajaan Allah, Yaitu:
3.a. Dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24).
Mentalitas penyembah adalah orang-orang kerajaan Allah yang senantiasa mau dipimpin oleh Roh Allah (Roma 8:14; Galatia 5:25) untuk hidup dalam kebenaran. Bersedia dipimpin oleh Roh Allah, menyatakan kepada kita bagaimana kita harus setuju dengan kehendak Tuhan, bergaul “intim” dengan Dia, memuji dan menyembah Dia senantiasa, berdoa dengan tidak jemu-jemu, sehingga benar-benar kehidupan kita diubah dari hari ke hari, semakin serupa serupa dengan Dia. Ingat bahwa kita akan menjadi sama dengan apa yang kita sembah.
Dalam kebenaran, artinya: hidup yang sudah dibenarkan oleh kuasa Firman yang membawa kita pada kekudusan hidup karena Allah itu kudus sehingga menjadi penyembah yang benar, mutlak harus hidup dalam kekudusan.
3.b Mentalitas penyembah berarti juga belajar memberi yang terbaik (Yohnes 12:3-4) orang yang menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Akan semakin hari semakin mengasihi Tuhan. Itulah sebabnya ia mampu memberikan apa saja, bahkan yang paling berharga sekalipun, dalam melaksanakan kehendakNya. Jadi, untuk melihat apakah kita penyembah sejati, apakah kita mampu memberikan yang terbaik bagai Dia.
Inilah hati seorang penyembah, memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Apakah itu waktu kita, tenaga kita, harta, uang bahkan hidup kita sendiri dipersembahkan bagi Tuhan. Ketika kita bekerja, bekerjalah dengan terbaik. Pelayanan, melayanilah dengan terbaik (Kolose 3:23).
Kesimpulan. Milikilah mentalitas Kerajaan Allah, diantaranya: Mentalitas Perjanjian, Mentalitas Prajurit, dan Mentalitas Penyembah. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 22 September 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 14:17-18
Tema : Milikilah Mentalitas Kerajaan Allah bag- 1
PENDAHULUAN.
Ciri mental pengemis perlu kita dibuang, dan digantikan dengan mentalitas kerajaan Allah. Kerajaan Allah tidak terbatas hanya tentang kita masuk sorga ketika meninggalkan dunia ini, tetapi Kerajaan Allah itu juga berbicara tentang keadaan sekarang, yaitu bagaimana kita menghadirkan sorga ke bumi. (Mat. 6:10). Kerajaan Allah harus terus dicari (Mat. 6:33). Kita harus terus mencari rahasia Kerajaan Allah dan menerapkan prinsip Kerajaan Allah dalam setiap bidang kehidupan kita, maka kebahagiaan, kedamaian, sukacita, dan kekayaan sekalipun akan ditambahkan kepada kita. Begitu dahsyatnya hidup kita ketika kita mengerti dan menerapkan prinsip Kerajaan Allah dalam setiap kehidupan kita.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Milikilah mentalitas Kerajaan Allah, diantaranya:
- Mentalitas Perjanjian – Kejadian13
Perjanjian sifatnya mengikat kedua belah pihak. Semua orang didunia ini mempunyai perjanjian. Ketika Tuhan memerintahkan Abram untuk keluar dari keluarganya dan memberikan kepadanya suatu perjanjian. Perjanjian inilah yang membuat Abram berbeda dengan manusia lain dimuka bumi.
Begitu juga setiap kita, Tuhan memberikan perjanjian yang baru bagi setiap kita. Kita memiliki perjanjian dengan Tuhan. Bagian yang harus Abram lakukan adalah meninggalkan rumahnya (menaati perintah), dan Tuhan yang menyediakan tanah perjanjian, Tuhan berjanji untuk memberkati, melindungi dan melipat gandakan, menjadikan keturunannya menjadi berkat. Temukan dalam diri kita Perjanjian yang Allah berikan kepada Kita (1Petrus 2:9-10). Perjanjian yang perlu kita perhatikan: Perjanjian antar Tuhan dengan kita Ul. 28: Perjanjian Perkawinan. Dan lain-lain
- Mentalitas Prajurit – Kejadian 14
Ketika Abram mendengar berita tentang apa yang menimpa Lot, maka ia mengerahkan 318 orang-orang yang terlatih (Kejadian 14:14)!! Kita harus mempunyai mentalitas prajurit, yang selalu siap dan terlatih untuk berperang. Efesus 6:11-20 mengatakan bahwa kita harus senantiasa mengenakan perlengkapan senjata Allah.
Selama di Mesir, orang Israel hidup sebagai budak selama bertahun-tahun (Kel 1:8-14). Akibatnya, sewaktu keluar dari Mesir, mental budak terbentuk dalam diri mereka. Padahal, di Kanaan mereka harus menghadapi banyak musuh, sehingga diperlukan mental prajurit. Oleh karena itu, dalam perjalanan, Tuhan mengubah mental umat-Nya, dari mental budak menjadi mental prajurit. Tuhan membentuk dalam diri mereka mental disiplin dan penguasaan diri Keluaran 16:21 Melalui cara ini, Tuhan melatih mereka untuk menguasai diri dan disiplin dalam bekerja.
Kesimpulan. Tuhan tidak mengajarkan untuk kita memiliki mental pengemis, namun milikilah mentalitas kerajaan Allah yakni: Mentalitas Perjanjian, Mentalitas Prajurit. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 15 September 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Kisah Para Rasul 3:1-10
Tema : Ciri Mental Pengemis bagian 2
PENDAHULUAN.
Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang mental pengemis bagian ke- 2. Sesuai dengan pembacaan kita hari ini, bahwa pertemuan dengan Yesus, melalui hambaNya Petrus, telah mengubah hidup pengemis tersebut. Artinya Allah tidak menghendaki umatNya yang percaya kepadaNya, hidup sebagai pengemis yang tidak memiliki otoritas KerajaanNya. Adapun mental pengemis selanjutnya adalah sebagai berikut:
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Ciri Mental pengemis, seperti:
- Hidup tidak teratur
Paulus menasehati untuk menegur orang yang hidupnya tidak tertib dan yang tidak mau bekerja (1Tes 5:14; 2 Tes 3:11 ). Nasehat dan teguran yang Paulus berikan bukan omong kosong. Sebab Rasul Paulus sendiri mempraktekkan apa yang diajarkannya (2 Tes 3:8, 12). Meskipun kadang-kadang lapar, tidak mempunyai rumah, dan hampir tidak berpakaian, para Rasul berjerih lelah, ’bekerja dengan tangan mereka sendiri, malam dan siang, supaya tidak menjadi beban bagi orang lain’ (1Kor 4:11-12; 1Tes 2:9) Bagi orang Kristen berlaku standar, ”Jika seseorang tidak mau bekerja, biarlah ia tidak makan.”—2Tes 3:10-12. Prinsipnya ialah anak Tuhan harus menjadi teladan dalam mengelola keuangan dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Berbeda dengan ciri mental pengemis, walaupun berulang kali ditertibkan, namun mereka tidak mau hidup tertib. Hidup semaunya, tidak fokus sehingga mereka tidak berhasil.
- Tidak mau berubah
Mental pengemis selanjutnya adalah tidak mau berubah (seperti pintu berputar pada engselnya, Ams.26:14 yang berputar-putar di situ saja). Lihat pada pengemis yang lumpuh, mengalami perubahan hidup setelah berjumpa dengan Petrus (KPR 3:6). Pengemis yang lumpuh itu memang membutuhkan uang. Tetapi Petrus melihat bahwa sesungguhnya yang paling dibutuhkannya adalah kesembuhan. Karena Rasul Petrus tahu dengan pasti, bahwa kelumpuhanlah yang menjadikan orang itu pengemis. Tentu harapannya adalah ketika orang itu sembuh, ia berhenti menjadi pengemis, sehingga hidupnya tidak menjadi beban bagi orang lain. Hidupnya mengalami perubahan yang total. Mental pengemis membuat seseorang hidup merasa nyaman, karena hanya dengan hanya meminta-minta, tidak perlu lagi kerja keras sudah mendapatkan keinginannya. Enggan berubah, itulah salah satu mental pengemis.
- Merasa tidak mampu
Sikap mental pengemis selanjutnya adalah merasa tidak mampu, daya juang yang rapuh, semangat yang gampang pudar, mengukur kapasitas diri terlalu kecil dan cenderung memandang kepada besarnya masalah atau tantangan seringkali membuat orang menyerah sebelum bertanding. Ams.26:15 “si pemalas hanya untuk mengembalikan tangannya ke mulutnya, ia sudah merasa tidak mampu, apalagi pekerjaan lain? Oleh karena itu kita memerlukan sebuah mental baja yang tidak kenal takut. Sebuah mental yang kuat akan sulit dibangun dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, tetapi akan bisa tumbuh jika kita berpusat kepada Allah yang punya kuasa melebihi segalanya.
Kesimpulan. Sebagai jemaat yang berotoritas Raja, hendaknya tidak ada mental pengemis dalam hidup kita, seperti: 1). Hidup meminta-minta, 2). Berharap pada manusia (pemberian), 3). Tidak mau bekerja keras, 4). Hidup tidak tertib/teratur, 5). Tidak mau berubah serta 6). Merasa tidak mampu. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 08 September 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 8:15
Tema : Ciri Mental Pengemis bagian 1
PENDAHULUAN.
Point 1 dari pilar 9 yani: Otoritas untuk mengubah mental pengemis. Minggu lalu kita telah belajar Mengapa Mental seseorang perlu diubah? 1). Dampak Dosa, 2). Mental seseorang menentukan baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan Negara, dan 3). Mental adalah sesuatu perilaku yang masih dapat berubah.
Pelajaran selanjutnya adalah memahami bagaimana ciri mental pengemis. Pengemis dapat saja di sebut profesi seseorang, yang sebenarnya tidak disukai banyak orang. Namun pernahkah kita berpikir bahwa meskipun tidak memiliki profesi pengemis, namun perilaku (mental) pengemis dapat tinggal dalam hidup seseorang. Hal tersebut yang mewarnai caranya dalam berpikir dan berperilaku yang sangat bertentangan dengan mental kerajaan Allah beberapa ciri mental pengemis adalah:
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Ciri Mental pengemis, seperti:
- Hidup meminta- minta
Mengemis dalam Yohanes 9:8 memakai kata “Prosaiteo” yang artinya meminta. Meminta- minta disini bukan berarti meminta-minta bantuan, pertolongan biasa, melainkan kebiasaan meminta-minta pada sesama untuk segala hal yang dia perlukan untuk hidupnya. Firman Tuhan berkata bahwa kita harus bekerja jika ingin makan (2 Tes.3:10), bukan meminta-minta pada orang lain. Prinsip kerajaan Allah adalah memberi & menabur (Mat. 13:23-25), bukan meminta-minta. Permintaan kita biarlah senantiasa ditujukan pada Tuhan Yesus semata didalam doa kita. Jika kita ingin meminta bantuan dari sesama, biarlah itu dilandaskan pada motivasi kebutuhan sosial manusia, yang harus saling membantu dan bekerjasama, bukan karena mengandalkan manusia untuk hidup. Hanya dengan meminta belaskasihan orang lain, berharaplah penuh hanya pada Tuhan (Yer.17:7).
- Berharap pada manusia (pemberian)- Yer.17:5
Mental pengemis berikutnya adalah suka berharap pada manusia. Kisah Gehazi, abdi Elisa (2Raj.5:1-27. Dimana Elisa menolak pemberian dari Naaman, bagi Elisa hidupnya bukan bergantung pada pemberian Naaman, melainkan (2 Raj. 5:16, Rat.3:25;ITim.6:17), namun bagi Gehazi ia menaruh pengharapannya kepada pemberian manusia pada akhirnya penyakit Naaman berpindah kepadanya. Jangan pernah menaruh pengharapan kepada manusia, yang akan berakibat fatal. Dan buanglah mental pengemis dalam hidup kita.
- Tidak mau bekerja Keras (Malas)
Tentang mental miskin ini, Oprah Winfrey pada tahun 2006 membuat penelitian sosial kecil-kecilan yang didokumentasikan untuk acara talk shownya, salah satu kasus pengemis di Bandung, Oprah Winfrey pernah menawarkan dua hal, baju jaket &pekerjaan kepada seorang gelandangan di dekat rumahnya. Baju jaket ia ambil tapi pekerjaan yang ditawarkan oleh Oprah ditolaknya.
Inilah mental miskin yang barangkali lebih berbahaya dari kemiskinan itu sendiri. Ciri mental pengemis adalah malas atau tidak mau bekerja keras. Paulus memberikan keteladanan bagaimana ia bekerja keras mencukupkan kebutuhan hidupnya bahkan Ia berkata dalam 2 Tesalonika 3:8 “…tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam..”
Kesimpulan. Ciri Mental pengemis diantaranya Hidup meminta-minta, berharap pada manusia (pemberian), dan tidak mau bekerja keras dalam pelajaran kali ini, sebagai anak Allah waspadai apakah dalam hidup kita terdapat salah satu dari ciri ketiganya mental pengemis? Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 01 September 2015 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 12:2; 2 Korintus 4:16
Tema : Mengapa Mental seseorang Perlu Berubah!
PENDAHULUAN.
Memasuki bulan September s/d Desember kita akan belajar Pilar ke 9 yakni: Pilar IX- Menjadikan Jemaat Berotoritas Raja Yang Mengutamakan Prinsip Keimamatan, yang mengarah pada pengertian tentang bagaimana kekuasaan dan otoritas yang telah diberikan Allah kepada kita yang percaya digunakan dalam pelayanan kepada Allah.
Point 1 dari pilar IX yakni Otoritas untuk mengubah mental pengemis. Dalam ilmu psikiatri dan psikoterapi, kata mental sering digunakan sebagai ganti dari kata personality (kepribadian) yang berarti bahwa mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap (attitude) dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan dan sebagainya.
Fakta mental adalah kondisi yang dapat menggambarkan suasana pikiran, perasaan batin, kerohanian dan sikap yang mendasari suatu karya cipta. Jadi fakta mental bertalian dengan perilaku, ataupun tindakan moral manusia yang mampu menentukan baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan negara. Peristiwa yang terjadi pada masa lampau dapat memengaruhi mental kehidupan pada masa kini bahkan ke masa depan. Fakta mental erat hubungannya antara peristiwa yang terjadi dengan batin manusia, sebab perkembangan batin pada suatu masyarakat dapat mencetuskan munculnya suatu peristiwa.
Sedang arti Pengemis adalah mereka yang tidak bisa bekerja atau tidak produktif lagi karena berbagai kendala; cacat atau karena sudah tua.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Mengapa Mental seseorang perlu diubah?
- Dampak dari Dosa
Dosa mengakibatkan cara berpikir seseorang menyimpang dari yang seharusnya, sehingga menghasilkan perilaku (mental) yang salah. Oleh sebab itu mental kita harus berubah, kembali ke arah Kristus Roma 12:1-2; 2 Korintus 4:16.
- Karena mental seseorang menentukan baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan Negara.
Sebagai contoh: 12 pengintai yang diutus Musa, sepuluh orang yang memiliki mental yang salah, hanya dua orang yang memiliki mental yang benar. Dalam Bilangan 14: 24 “Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya “. Mental Kaleb luar biasa, menghantarkannya meraih janji Tuhan untuk masuk tanah Perjanjian.
- Mental adalah sesuatu perilaku yang masih dapat berubah
Mental bukan ‘nasib’ seseorang, yang dibawa sejak lahir sehingga tidak dapat berubah. Mental kita, dapat diubah! Itulah kebenarannya, dari yang tidak baik menjadi mental yang luar biasa. Contoh : Perempual Sundal yaitu Rahab, Yabes dan lain sebagainya. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan Paulus yang dahulunya memiliki mental yang tidak baik, setuju dengan penganiayaan dan pembunuhan pengikut Kristus, berubah mentalnya secara luar biasa -baca Filipi 1:21, juga ada Petrus ketika ia mau berubah mentalnya dari yang tidak baik menjadi baik ia menjadi Rasul yang luar biasa.
KESIMPULAN. Mental seseorang menentukan cara berperilaku benar atau salah. Itu sebabnya, mental kita harus berubah senantiasa ke arah Kristus. Sehingga kehidupan kita semakin hari semakin kuat dan berkemenangan, karena Kristus adalah Tuhan yang sanggup melakukan segala perkara dalam hidup kita. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!