[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 26 April 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Amsal 28:13

Tema         : Memahami Arti Keterbukaan

PENDAHULUAN.

26 april 2016Sebagai keluarga Kerajaan Allah, hal yang penting agar hubungan menjadi sehat & kuat. Maka yang perlu adalah adanya saling keterbukaan.

Arti Kertebukaan  adalah luapan hati nurani yang murni dan merupakan langkah menuju pemulihan jiwa yang terluka dalam keluarga yang mengalami masalah. Namun sebaliknya, salah satu bentuk hati nurani yang tidak murni adalah kesombongan & keangkuhan. Inilah yang menjadi penghalang terbesar bagi seseorang untuk dapat terbuka dan berani meminta maaf. Kesombongan ini membentuk pandangan yang terlalu berlebihan terhadap diri sendiri & merupakan sikap melawan Tuhan, dan tidak mentaati-Nya. Untuk terbuka diperlukan sikap kerendahan hati.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Arti Keterbukaan sebagai Keluarga Kerajaan Allah:

  1. Keterbukaan adalah awal dari pemulihan
  • 28:13 – pengakuan yang keluar dari mulut seseorang sangat penting. Hal itu merupakan bentuk kejujuran. Contoh: Luk 8:45-48 Perempuan 12 thn menderita pendarahan berani mengakui perbuatannya: pengakuan/keterbukaannya dengan keadaan/kondisinya, perempuan ini mengalami pemulihan dari sakitnya. Adakah diantara kita tidak mengalami pemulihan dikarenakan masih menyimpang sesuatu? Sulit untuk terbuka kepada Tuhan/hamba Tuhan. Bahkan pura-pura seakan-akan tidak ada yang melihat perbuatan dosa yang kita lakukan? Belajar dari raja Daud Maz 32:5.
  • Mengapa kita perlu mengaku? Hal ini merupakan ukuran yang akan diukurkan kepada kita Mat 5:37, Yak. 5:16. Keterbukaan awal dari pemulihan. Semua dosa pasti akan hukumannya, namun berbahagia orang yang tidak menyimpan dosanya namun mengakuinya.
  • Mengakulah dosa dihadapan Tuhan- 1Yoh.1:9. Tuhan tidak pernah mengungkit-ngungkit masa lalu kita, namun Tuhan menyiapkan masa depan. Iblis berbicara tentang masa lalu kita yang tidak baik. Namun Tuhan berbicara tentang masa depan kita. Berilah ilustrasi!

 

 

  1. Keterbukaan adalah sikap saling menegur dan ditegur
  • 1 Raja 22:6, 8, 13, 18. Raja Ahab sebenarnya sadar bahwa 400 nabi yang dia kumpulkan adalah nabi-nabi palsu yang hanya berusaha menyenangkan hati Raja Ahab. Dia sadar pula bahwa nabi TUHAN yang sesungguhnya adalah Nabi Mikha bin Yimla. Yang menjadi masalah, Nabi Mikha selalu menyampaikan firman TUHAN apa adanya. Karena kelakuan Raja Ahab sering menyakitkan hati TUHAN, firman TUHAN yang disampaikan melalui Nabi Mikha selalu mengenai malapetaka (hukuman TUHAN).
  • Sayangnya, Raja Ahab tidak cukup rendah hati untuk menerima teguran. Oleh karena itu, dia membenci Nabi Mikha 1 Raj. 22:8b. Dia hanya mau mendengar firman TUHAN yang enak (menghibur, membesarkan hati), dan dia tidak mau mendengar firman TUHAN yang tidak enak (bersifat menegur).
  • Dalam hidup kita, mungkin saja kita bersikap seperti Raja Ahab. Bila kita melakukan kesalahan, kita tidak mau mendengar teguran dan kita membenci orang yang menegur kita-Why. 3:19.

 

Kesimpulan.

Marilah kita mengintrospeksi diri kita:  adakah sikap kita seperti Perempuan 12 tahun yang sakit pendarahan berani mengakui/terbuka dihadapan Tuhan? Ataukah kita terjebak dengan sikap Ahab yang tidak mau ditegur? Bersyukurlah jika kita masih menerima teguran Wahyu 3:19 baik melalui FirmanTuhan dll. Keterbukaan adalah awal dari pemulihan & Keterbukaan adalah sikap saling menegur dan ditegur. Amin Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 19 April 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Galatia 6:1-10

Tema         : Peran saling melayani dan bekerjasama dalam keluarga

PENDAHULUAN.

19 april 2016Selasa lalu telah kita pelajari dampak dari kesatuan: Meringankan beban dalam keluarga, melakukan perkara-perkara besar dan mendatangkan berkat Tuhan.

Hari ini kita belajar bagaimana menjalankan peran kita untuk saling melayani dan berkerjasama sebagai keluarga kerajaan Allah.

Manusia adalah mahluk sosial yang tetap membutuhkan kehadiran orang lain yang bisa menyemangati atau mendorong untuk tidak menyerah dan terus maju. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Tuhan jelas berkata di awal penciptaan bahwa “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja…” (Kej. 2:16).

Ini menunjukkan dengan jelas bagaimana manusia sejak awal bukan dirancang untuk menjadi individualis-individualis egois yang berjalan sendirian, tetapi dibentuk menjadi mahluk sosial yang terhubung atau connected dengan sesamanya. Tidakkah kita pernah merasa bagai mendapat tenaga baru ketika mendapat dukungan dari teman-teman atau keluarga di saat kita mungkin sudah mulai berpikir untuk menyerah? Secara alamiah faktanya manusia adalah mahluk yang lemah dan terbatas.

Sejauh mana kita bisa melakukan sesuatu apabila hanya sendirian? Kelemahan dan keterbatasan ini cepat atau lambat bisa membuat kita patah semangat, frustasi dan kemudian menyerah. Di saat tekanan menerpa kita bertubi-tubi kita bisa kehabisan tenaga lalu mulai putus asa kehilangan harapan. Di saat seperti inilah  kita butuh orang-orang yang peduli pada kita.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  bagaimana peran kita untuk saling melayani dan bekerjasama sebagai keluarga kerajaan Allah?

 

  1. Jadilah Penyemangat bagi keluarga

Sosok seperti ini dibutuhkan semua orang tanpa terkecuali, apalagi dalam urusan iman. Hidup di dunia hari ini tidaklah gampang. Tekanan krisis dan rupa-rupa penyesatan hadir di mana-mana menekan kita dari setiap arah. Cepat atau lambat, tenaga kita akan melemah dan kita bisa menyerah, terjatuh dan masuk ke dalam jurang kegelapan.

Di saat seperti inilah pesan Penulis Ibrani begitu penting. Artinya kebersamaan di antara saudara-saudari seiman haruslah terbina erat dalam dasar saling mengasihi, memperhatikan, mengingatkan dan menguatkan satu sama lain. Ini penting dalam menghadapi hari-hari yang semakin sulit seperti apa yang kita hadapi saat ini. Jalan terasa makin terjal, langkah terasa makin berat. Karena itu kita harus tetap meluangkan waktu untuk berkumpul bersama-sama agar saling mengingatkan, mendukung maupun menguatkan- (Ibr. 10:25). Jadilah penyemangat bagi semua orang.

 

  1. Saling mengingatkan/menasehati

Sepanjang Perjanjian Baru kita membaca berulang-ulang mengenai kepastian kedatangan Kristus untuk kali kedua. Dan berulang kali pula kita diingatkan bahwa kedatanganNya yang kedua sudah dekat. “Tuhan sudah dekat!” (Fil. 4:5b; Yak.5:8; Why 22:12). Adalah penting bagi kita untuk terus berjalan di jalur yang benar menjelang kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya yang sudah semakin dekat, sehingga kita akhirnya bisa mencapai garis akhir yang baik (2 Tim. 4:7). Untuk itulah kita perlu saling menyemangati, saling mendorong, menasehati, menguatkan dalam kasih, agar jangan ada di antara kita yang tergelincir keluar dari jalur, sehingga kita semua bisa mencapai garis akhir dengan baik.

 

Kesimpulan. Bangunlah hubungan yang kuat, utuh dan erat dengan orang lain, dan isilah hubungan itu dengan segala sesuatu yang positif. Saling menguatkan, membangun, mengingatkan, mendorong, tolong menolong, peduli satu sama lain, itu akan membuat kita bisa tetap kuat menghadapi hari-hari yang berat. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 12 April 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Filipi 2:1-11

Tema         : Dampak dari kesatuan dalam keluarga

PENDAHULUAN.

12 april 2016Selasa ini akan kita pelajari pilar 1 point ke ke-enam : “memiliki relation yang erat (keintiman)”. Tercapainya kesatuan/keintiman yang berorientasi pada Tuhan.

Alkitab menjelaskan bahwa Kesatuan adalah hal yang penting. Doa Yesus pun juga berkaitan dengan kesatuan Yoh 17:20-23. Ada dampak atau akibat jika kita bersatu, baik dalam keluarga, gereja, dan berbangsa. Oleh sebab itu kesatuan berbicara tentang satu dalam pikiran, perasaan & kehendak.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Dampak dari kesatuan dalam keluarga !

  1. Meringankan beban

Paulus menganggap Timotius dapat diandalkan dan teruji dalam membimbing orang lain. Paulus menulis, “… Karena tak ada seorang pun padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku dan begitu bersungguh-sungguh memerhatikan kepentinganmu” (Filipi 2:19,20).

Jika kita hidup sehati dan sepikir merupakan tanda kesatuan. Hal yang sama terjadi dan dialami oleh Rasul Paulus ketika ia harus memikul beban seberat apaun dalam pelayanan karena ada kesatuan antara Paulus dengan anak rohaninya Timotius maka beban seberat apapun dalam pelayanan dapat mereka tanggung.

 

  1. Melakukan perkara-perkara besar

Jikalau kita bersatu dalam keluarga, kita dapat berkata seperti Yosua, Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! Yosua 24:15d. Kesatuan itu selalu dapat mengerjakan hal-hal diluar jangkauan pikiran kita (Kej. 6:8, 7:1, 8:18-20).

 Jika ada orang-orang yang mau sehati dalam keluarga untuk melayani Tuhan, mereka akan dapat melakukan hal-hal yang hebat. Berapa banyak orang yang membuat bahtera yang besar itu? Ini dapat dibuat oleh sebuah keluarga Nuh yang memiliki kesatuan. Kalau tidak memiliki kesatuan, jangan berharap kita akan mencapai Kepenuhan Allah di tahun 2016 ini.

 

  1. Mendatangkan berkat

Alkitab berkata bahwa berkat Tuhan akan diperintahkan kepada mereka yang hidup bersama dengan rukun (Maz.133). sebagai contoh Kisah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya-2 Raja-Raja 4:1-7. Dia beserta anak-anaknya hidup sangat kesulitan sehingga harus menjual segala barang miliknya. Saat mengadukan masalahnya kepada Nabi Elisa, janda itu berkata bahwa hanya ada sebuah buli-buli berisi minyak. Elisa kemudian menyuruh untuk meminta bejana milik orang lain, dan menuangkan minyak yang ada kepada bejana-bejana yang sudah terkumpul.

Janda itu menyuruh anaknya untuk meminta bejana dari tetangga-tetangga. Setelah anaknya pulang, ia menutup pintu, dan menyuruh anaknya membantunya. Sang ibu akan terus menuangkan minyak, sementara anak-anaknya memindahkan bejana yang sudah penuh dan menggantinya dengan yang masih kosong. Setelah semua bejana terisi penuh, maka minyak itu berhenti mengalir.

Dengan menjual minyak yang ada di beberapa bejana, keluarga itu dapat membayar hutang, dan dapat hidup dengan baik. Sungguh itu semua berkat Tuhan Allah. pernah kita berpikir bagaimana kalau anak-anaknya tidak mau meminta bejana tetangga? Bagaimana kalau anaknya malas membantu ibunya? Tidak mau memindahkan bejana yang sudah terisi minyak? tentu minyak yang didapatkan hanya sedikit saja.

 

Kesimpulan. Mari kita belajar melalui kisah keluarga sederhana ini, dimana ibu dan anak-anak bisa bersatu untuk terus berusaha dan bekerja. Bersatu hati dan percaya bahwa Tuhan Allah akan memberkati mereka. Kesatuan keluarga adalah kunci berkat Allah dampak kesatuan yang lain: dapat meringankan beban & dengan kesatuan kita mampu melakukan perkara-perkara besar. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 05 April 2016          Durasi: 20 Menit

Nats          : 1Korintus 12:26-31

Tema         : Menjalankan peran sebagai penjaga dan pelindung dalam keluarga

PENDAHULUAN.

 5 april 2016            Minggu lalu telah kita pelajari bagaimana kita menunjukkan kasih dan hormat. Memasuki Bulan April kita akan belajar tentang Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah point ke lima – Saling menjaga dan saling melindungi.

Kita dapat belajar dari contoh tentang kasih dan kepedulian serta menerapkannya dalam keluarga. Mereka yang menjadi milik Kristus merupakan bagian dari sebuah keluarga rohani dan perlu menyadari rasa sakit yang diderita anggota yang lain. Rasul Paulus berkata, “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut men-derita” (1Kor. 12:26). Apakah saat ini kita mengenal seorang saudara seiman yang membutuhkan “terapi keluarga” dari kita? dengan cara menjaga dan melindungi saudara seiman.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Beberapa hal yang patut kita perhatikan agar dapat menjalankan peran saling menjaga & melindungi dalam keluarga ?

 

  1. Sadarilah bahwa kita adalah satu tubuh
  • Tubuh terdiri dari berbagai bagian tetapi di dalamnya kita melihat keutuhan bagian satu sama lain. Saat kepala kita sakit, biasanya kita akan langsung mengatakan “Saya sedang sakit”. Perhatikan bahwa sebutan “saya” itu menandakan keutuhan tubuh. Begitu juga dengan kehadiran Kristus dalam Gereja dan Keluarga. Walau terdiri dari banyak bagian, Kristus mempersatukan kita masing-masing menjadi satu dalam kasih-Nya (Bulan Maret telah kita peringati Kematian Yesus Kristus karena kasihnya telah mempersatukan kita menjadi satu tubuh).
  • Prinsip berbeda-beda tetapi satu, penting dalam berkeluarga. Tidak boleh satu bagian keluarga berusaha untuk menjadi “tuan” bagi yang lain. Sebab jika itu terjadi, akan ada kekerasan dan pemaksaan kehendak yang acapkali berakhir dalam pertengkaran. Sebagai pengikut Kristus, setiap bagian dari keluarga belajar untuk melayani satu sama lain dengan menghidupi diri sebagai hamba yang melayani satu sama lain.
  • Gambaran tentang “tubuh” yang Rasul Paulus nasihatkan terkait dorongannya untuk menjaga keutuhan Gereja, dapat juga kita gunakan dalam menjaga keutuhan keluarga. Sebagaimana tubuh itu utuh di mana bagian demi bagian saling mendukung satu sama lain supaya tubuh dapat berfungsi dengan baik, demikian juga dalam keluarga kita seharusnya menyadari bahwa kita adalah satu tubuh Kristus.

 

  1. Sadarilah bahwa kita makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain
  • Setiap anggota keluarga tidak boleh menganggap pekerjaannya lebih penting ketimbang yang lain. Kritik yang melemahkan pribadi yang lain adalah tidak membangun dan hanya akan menambah masalah sebab tidak berguna. Masing-masing harus melaksanakan tanggungjawabnya dengan semangat dan dedikasi yang tinggi untuk yang lain Ams 12:18. 
  • Mengapa kita membutuhkan satu dengan yang lain? Karena kita diciptakan menjadi makhluk sosial. Perlu saling menjaga dan melindungi.  
  • Manfaat menjaga dan melindungi: terhindar dari marabahaya contoh : Abraham – ketika didengar bahwa kemenakannya Lot mengalami masalah ia bersegera menolongnya. Kej. 13:8; band. 14:1-16. Bagaimana sikap kita jika kerabat/keluarga seiman kita mengalami kesusahan, menderita dll? Tidakkah kita patut mencontoh teladan Bapa Abraham!

 

KESIMPULAN. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus.. (1 Kor. 12:26-27). Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 29 Maret 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : 1 Samuel 2:30

Tema         : Manfaat dari sikap saling menghormati

PENDAHULUAN.

29 marSikap saling menghormati perlu ditanamkan dalam keluarga. Dimana Suami menghormati Istri dan sebaliknya. Anak kepada Orangtua.

Sebagai umat Allah kita dituntut untuk bersikap menghargai dan menghormati, menyatakan kasih pengampunan dan bukan membalas kejahatan.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Manfaat dari sikap saling menghormati:

  1. Menjalin Hubungan yang baik
  • Hubungan yang baik sangat penting, terlebih hubungan Suami & istri – Ef 5:33; 1Pet 3:7 jika keduanya saling menghormati maka manfaatyang diperoleh adalah tercipta hubungan yang rukun Maz. 133 sehingga doanya tidak terhalang.
  • Hubungan yang baik ini bukan saja antara anggota keluarga, melainkan juga berhubungan dengan orang yang belum percaya kepada Tuhan. Paulus memberi alasan utama mengapa orang-orang percaya perlu unggul dalam sikap hormat: “Agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang”-I Tim 6:1.
  • Sayangnya, yang menunjukkan sikap tidak hormat yang terburuk kadang kala ditemukan di antara mereka yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Kita semua hendaknya menghormati dan memuliakan nama Tuhan. Unggul dalam menghormati orang lain berarti memuliakan Allah.
  1. Menerima berkat
  • Anak yang hormat pada orang tua akan menerima berkat: Kel 20:12b Jelas merupakan janji Tuhan bagi orang-orang yang menghormati orang tua mereka-Ul 5:16; Ef 6:1-3. Janji Tuhan bukan hanya panjang umur, tetapi juga bahagia/baik keadaannya.
  • Tidak hormat kepada orang tua berarti tidak hormat kepada Allah. Sikap tidak hormat kepada orang tua mempunyai akibat ketidak-hormatan kepada Allah sendiri – Kel 20:12; Im 19:32
  • Kita harus ‘menghormati’ mereka, yaitu mengakui otoritas yang diberikan oleh Allah kepada mereka, dan dengan demikian memberikan kepada mereka bukan hanya ketaatan kita, tetapi juga kasih kita dan hormat kita. Orang tua harus mengajar anaknya untuk hormat dan taat kepada mereka, dan bahkan kalau perlu mendisiplin anak-anaknya! 1Sam.2:12-17,22-25,27-36; Amsal 13:24; 19:18; 22:15; 23:13-14; 29:15;Ef 6:4
  1. Dihargai/dihormati
  • 12:3; Mat. 26:6-13 Wanita yang mengurapi Yesus bernama Maria. Namanya sering disebut ke mana pun Injil diberitakan. Hal ini karena Maria mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang harganya mahal dan menyeka dengan rambutnya sebagai tanda penghormatan menjelang kematian Yesus– Mat. 26:10,12; Yoh 12:13. Namun yang dilakukan Maria mendapatkan kritikan & dianggap melanggar tata susila dalam perjamuan bersama Yesus karena pemberiannya yang berlebihan serta dianggap pemborosan – Mat. 26:8-9; Yoh. 12:6. Akan tetapi Yesus menghargai, karena mengetahui sikap maria ini dilakukan sebagai penghormatan menjelang kematianNya – Mat 26:12; Mrk 14:8; Yoh 12:7-8.
  • Kita dapat memetik pelajaran berharga dari penghormatan Maria. Kita perlu mencurahkan “minyak wangi” (sesuatu yang terbaik) bagi orang yang masih hidup. Namun, kita kerap kali menunda untuk memberikan penghargaan kepada orang yang kita kenal sampai ia meninggal, sehingga kita gagal menunjukkannya saat ia masih hidup.

 

Kesimpulan. Adakah seseorang yang terlintas dalam benak kita, seorang teman/anggota keluarga, yang perlu diberi penghormatan & semangat melalui ungkapan kasih & penghargaan kita? Jika ada, lakukanlah sesuatu untuk menunjukkannya, selagi orang itu masih hidup. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C : Selasa, 22 Maret 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Maleakhi 1:6 – 2:2

Tema         : Dampak dari tidak adanya sikap hormat pada Tuhan

PENDAHULUAN.

22 marKata “respek” artinya rasa hormat, kehormatan. Apa yang tercakup dalam menghormati orang lain? Itu dimulai dengan respek. Sebenarnya, kata ”hormat” dan ”respek” sering digunakan bersama-sama karena keduanya berkaitan erat. Hormat adalah manifestasi, atau pertunjukan lahiriah, dari respek. Dengan kata lain, respek terutama menunjuk kepada cara kita memandang saudara kita, sedangkan hormat menunjuk kepada cara kita memperlakukan saudara kita. Roma 12:10. Sikap hormat kita bukan saja diperuntukkan kepada sesama namun yang utama pada Tuhan.

Dalam kitab Maleakhi tercatat sikap bangsa Israel yang tidak hormat kepada Tuhan: seperti roti yang dipersembahkan adalah roti yang cemar, roti yang tidak layak untuk dipersembahkan kepada Allah –Im.24:5-9; Kel. 25:30. Begitu juga dengan persembahan hewan sebagai korban bakaran, justru persembahan yang cacat. Mengapa cacat? Karena binatang yang dipersembahkan itu buta, timpang dan sakit dan jelas bertolak belakang dengan yang dikehendaki Allah yang menghendaki persembahan binatang yang sehat dan telah dikuduskan terlebih dahulu-Ul.15:19-21.

Sehingga persembahan umat itu jelas bukan suatu penyembahan melainkan penghinaan kepada Allah yang hidup. Mereka memandang rendah dan enteng Tuhan Allah sehingga tanpa merasa malu mereka datang dengan membawa persembahan yang tidak berkualitas. Cara ini menjadi petunjuk bahwa Israel tidak lagi memiliki sikap hormat kepada Allah.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dampak dari tidak adanya sikap hormat pada Tuhan:

  1. Menerima Kutuk – Maleakhi 2:2
  • Kitab Maleakhi menulis tentang bangsa Israel yang tidak menghormati Allah seperti anak yang tidak menghormati bapaknya dan seperti hamba yang tidak takut kepada tuannya. Sikap dalam ibadah yang seperti itu dilakukan oleh umat, karena para imam, pelayan Tuhan tidak mengajarkan apa yang sebenarnya Allah tuntut bagi mereka. Para imam tidak melakukan penyembahan yang benar. Sebagai akibatnya Allah mengirimkan kutuk kepada mereka dan menjadikan berkat-berkat mereka berubah menjadi kutuk (Mal. 3:1-2; Ul 27:16)
  • Peringatan yang sama juga bagi Imam Eli yang menghormati anak-anaknya lebih dari Tuhan maka ia mendapat kutuk bukan saja bagi dirinya namun juga bagi generasinya (1Sam. 2:29-36).

 

  1. Mendapat hinaan- Maleakhi 2:9a
  • Sikap tidak hormat dilakukan oleh Raja Saul dengan cara tidak mentaati Tuhan. Yang tadinya Saul dan keturunannya mendapat berkat, namun karena tidak ada sikap hormat kepada Tuhan maka ia mendapat hinaan/dipandang rendah- 1 Sam. 2:30.
  • Sebagai orang kristen kita harus mentaati/menghormati semua otoritas di atas kita. Hormat ini bukan hanya dalam tindakan luar, tetapi juga dalam kata-kata dan pemikiran kita. Juga mencakup ketaatan & rasa/sikap tahu berterima kasih.
  • Saat kita tidak menghormati Tuhan, kita akan mendapat hinaan bahkan menjadi tontonan Nahum 3:6.

 

  1. Direndahkan – Maleakhi 2:9b
  • Raja Nebukadnezar yang tidak menghormati Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi, sehingga Tuhan merendahkan dia dengan memperlakukannya seperti binatang Daniel 5:18-30.

 

Kesimpulan. Ada tiga dampak/akibat dari tidak adanya rasa hormat kepada Tuhan yaitu menerima kutuk dan bukan berkat, mendapat hinaan dan direndahkan. Marilah kita ciptakan sikap saling menghormati bukan saja kepada sesama kita namun juga kepada Tuhan. Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah”. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 15 Maret 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : 1 Petrus 2:17

Tema         : Makna Menghormati

PENDAHULUAN.

15 marMateri lalu jemaat Tuhan memahami alasan orang sulit untuh mengasihi, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama hal ini karena dalam hidup seseorang itu mengalami kegetiran / kesusahan / kepahitan; masih menyimpan kebencian & dendam serta bersukacita atas kemalangan orang yang menyakiti, mengecewakan dan lain sebagainya. Sikap bijaksana jika kita menyerahkan pembalasan ditangan Tuhan sebab Tuhanlah Hakim yang adil, Dialah yang akan membela kita, tanpa kita mencari pembelaan dari manusia.

Minggu ini kita lanjutkan pembelajaran Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah, point ke empat : Saling menghormati.

Dalam keluarga sikap menghormati harus tercipta. Antara orang tua dengan anak, Suami dan istri demikian sebaliknya. Sikap hormat selain ditujukan kepada sesamanya, hal yang paling prioritas hormat kepada Tuhan sehingga kita tidak bersikap yang tidak sopan bahkan cenderung kurang ajar. Marilah kita pelajari makna saling menghormati.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Makna Menghormati!

  1. Penghormatan berarti mengakui harkat dan martabat setiap manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya – 1 Pet. 2:17a.
  • Hormatilah semua orang : Memberikan perhatian penuh pada saat orang lain berbicara dengan kita adalah langkah awal yang sederhana, tetapi kerap kita abaikan. Kita dapat belajar dari Yesus. Orang-orang yang berhubungan dengan kita, siapa pun dia, patut kita perlakukan sebagai manusia yang layak dihargai. Menghormati setiap manusia berarti menghormati Allah yang menciptakannya – Ams. 14:31; 17:5.
  1. Penghormatan berarti memberi penghargaan – 1 Pet. 2:17b
  • Kata utama untuk ”kehormatan” dalam bahasa Ibrani secara harfiah berarti ”sesuatu yang berat”. Orang yang dihormati dianggap berbobot atau penting. Kata Ibrani yang sama sering juga diterjemahkan dalam Alkitab sebagai ”kemuliaan”, yang lebih jauh menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada orang yang dihormati-45:13. Kata Yunani yang diterjemahkan ”kehormatan” dalam Alkitab mengandung makna harga, nilai, hal penting-Luk. 14:10. Orang yang kita hormati biasanya berharga, bernilai bagi kita.
  • Siapa saja yang patut kita hormati atau hargai:
  • Tuhan – Yos. 7:9; 1 Sam 2:30.
  • Orang Tua – Ef 6:2
  • Semua orang – 1 petrus 2:17b
  • Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar – 1Tim 5:17
  • Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan Kristus yang juga nyaris mati dan mempertaruhkan jiwanya – Fil 2:25, 29-30
  • Orang yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu – 1Tes 5:12-13a
  • Orang-orang yang telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus dan mentaati setiap orang yang turut bekerja dan berjerih payah – 1Kor 16:15-18.

 

Kesimpulan. Hiduplah saling menghormati. Sikap hormat berarti kita sedang mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Ciptaan Allah dan juga bermakna kita sedang menghargai, memberi penghargaan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 08 Maret 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Roma 13:8-10

Tema         : Alasan orang tidak dapat mengasihi

PENDAHULUAN.

8 marSelasa lalu telah kita pelajari peran keluarga dalam mewujudkan hidup saling mengasihi yaitu: Mentaati Perintah Bapa kita untuk Saling mengasihi dan berani menunjukkan identitas kita sejati sebagai Murid Kristus yang hidup dalam kasih. Berikut ini alasan orang tidak dapat mengasihi!

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Berikut ini beberapa alasan orang tidak dapat mengasihi antara lain :

  1. Kegetiran Hidup
  • Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Kegetiran artinya : kepahitan; penderitaan atau kesusahan hidup.
  • Kita tidak dapat mengasihi, membantu orang lain jika sakit kita, kegetiran/kesusahan/kepahitan, hati yang kecewa, terluka belum disembuhkan oleh Tuhan. Terlalu banyak kepahitan/kesusahan yang dialami sehingga untuk mengasihi orang lain menjadi saat sukar.
  • Namun ada solusi jika menyerahkan kegetiran / kepahitan / kesusahan kepada Tuhan, Dialah yang akan menyembuhkan kita & terimalah Kasih Bapa dalam hati kita – Roma 5:5 “….kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”. Tanpa kita disembuhkan dan dipulihkan Tuhan untuk menerima kasihNya sulit untuk mengasihi sesama.

 

  1. Masih menyimpan kebencian & dendam – Imamat 19:16-18
  • Benci adalah sifat alamiah manusia, terkungkung dalam naungan keegoisan, dan si jahat. Arti benci adalah perasaan tidak suka, sedangkan dendam artinya berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan). Tuhan memperingatkan agar kita jangan menyimpan benci didalam hati dan menaruh dendam kepada orang yang berbuat jahat kepada kita – Im. 19:18. Serahkan penghakiman di tangan Tuhan Yak. 4:11-12. Sebab penghakiman Tuhan itu Adil – Yoh. 8:30; dan benar Yoh 8:16.
  • Apapun yang terjadi belajarlah untuk tidak membenci. Orang itu mungkin sering membuat kita kecewa, jatuh bahkan sakit hati, namun pisahkanlah sikap dan pribadinya. Mengasihi walaupun disakiti, memberi hati walaupun di balas duri.

 

  1. Bersukacita atas kemalangan mereka – Obaja 1:12-15
  • Pada kenyataannya masih banyak orang yang sangat senang melihat musuhnya mengalami kemalangan, sekalipun musuhnya itu saudaranya sendiri Contoh dalam Alkitab : Bersukacita melihat saudaranya menderita disaksikan oleh nabi Obaja.
  • 24:17-18 Betapa pun menyebalkannya musuh kita, kita harus menerima apa yang terjadi tanpa menyalahkan mereka. Kalau tidak, kita akan merasakan marah, frustasi, dan ingin membalas dendam. Paulus mengajarkan bahwa kita tidak boleh membalas, tetapi memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menghakimi, karena “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan” Rm. 12:19. Dengan berbuat baik kepada musuh kita, kita menumpukkan bara api di atas kepalanya Rm.12:20.
  • Apabila kita melihat musuh kita sedang menerima hukuman atau ditegur Tuhan, kita tidak boleh merasa senang karenanya. Sebaliknya, kita harus mempunyai hati yang simpatik, agar Tuhan tidak memindahkan murka-Nya kepada kita.

 

Kesimpulan. Kita akan terhindar dari perbuatan jahat bila kita memelihara kasih. Sebab kasih itu tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Petrus mendorong kita untuk saling mengasihi dan memberkati mereka yang menganiaya kita, agar kita dapat mewarisi sebuah berkat (1Ptr. 3:8-9). Memperoleh warisan kerajaan Sorga yang kekal, karena tidak ada kebencian di Sorga. Mari kita semua mengandalkan Tuhan untuk saling mengasihi. Amin. Berilah ilustrasi/kes aksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 01 Maret 2016         Durasi: 20 Menit

Nats          : Yohanes 15:9-17

Tema         : Peran keluarga dalam mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kasih.

PENDAHULUAN.

1 marJika bulan Januari telah kita pelajari Pilar I point kesatu : tentang mengenal Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus; Point kedua: membawa keluarga untuk memahami peran pemulihan-therapeia.

Memasuki Bulan Maret kita akan belajar tentang Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah, point ketiga : Membawa setiap keluarga untuk hidup Saling mengasihi. Yoh.15:12. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Sebagai keluarga Allah maka ada tanda atau ciri seseorang yang harus melekat yaitu Hidup saling mengasihi.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Peran keluarga dalam mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kasih:

  1. Peran yang kita lakukan adalah Mentaati Perintah Bapa kita yaitu Saling mengasihi –Yoh. 15:12; 14:15; 13:34.
  • Yesus memberi perintah baru yaitu : ‘kamu harus saling mengasihi’ (Yoh 13: 34). Perintah ini sebenarnya bukanlah perintah yang sama sekali baru (bandingkan Imamat 19:18). Penekanan baru di sini lebih di tunjukan pada tindakan kasih yang dicontohkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Artinya kasih yang ditunjukkan Yesus menjadi dasar dari tindakan kita yang saling mengasihi.
  • Sebagai perintah, saling mengasihi menjadi suatu keharusan atau kewajiban bahkan menjadi identitas bagi kita yang percaya.

Gereja Yesus Kristus adalah gereja yang hidup dalam kasih. Bukan gereja yang di dalamnya saling menggigit, fitnah atau bertikai. Yesus menghendaki agar kasih yang berdasar pada kasih-Nya harus selalu ada dan tersedia dalam hidup orang percaya I Kor. 13:1-4.

  • Jika kita hidup dalam Kasih Allah: 1) Dikenal Allah (1 Yoh. 4:7-8; 2). Dikasihi oleh Bapa (Yoh. 14:21; 16:27); 3). Dapat menggembalakan domba-domba (diri kita sendiri, keluarga kita jiwa-jiwa yang Tuhan kirimkan dll Yoh 21:16); 4). Menerima kebaikan dan mengalami penyediaan berkat (Rom. 8:28; 1Kor. 2:9); 5) Berada dalam terang dan tidak ada penyesatan (1Yoh. 2:10). Taatilah perintah Tuhan, karena kasih kepada Allah.

 

  1. Peran yang kita lakukan adalah berani menunjukkan identitas kita yang sejati sebagai murid Tuhan Yoh. 13:35
  • Saling mengasihi adalah identitas yang melekat dalam diri setiap orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu mari kita bangun hidup persekutuan kita dengan semangat saling mengasihi. Semua itu kita lakukan sebagai kesaksian, agar orang yang ada disekitar tahu bahwa Yesus itu Tuhan dan Juruselamat.
  • Kasih di antara suami istri dan di antara orang tua terhadap anak harus terus meningkat (1 Kor. 13:4-7). Kasih mencakup komitmen, perhatian, perlindungan, pemeliharaan, pertanggung jawaban, dan kesetiaan. Kasih yang seharusnya berlanjut dalam relasi suami istri tidak lagi sebatas ketertarikan secara fisik. Kasih itu harus diungkapkan dalam perbuatan nyata, saling berkomunikasi dan berelasi. Kasih itu juga diaktualisasikan ketika menghadapi masalah, memikul tugas dan tanggung jawab hidup. Ketiadaan kasih diantara orang tua dapat dirasakan oleh anak, akibat selanjutnya adalah mengganggu pertumbuhan watak mereka.

 

KESIMPULAN. Hendaklah kita hidup dalam kasih Ef.5:2. Jangan lupakan perintah yang satu ini. Jika kita mengasihi Tuhan maka tandanya adalah kita mentaati perintahNya Yoh.14:15. Saling mengasihi merupakan identitas kita. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 23 Februari 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Lukas 9:10-11

Tema         : Memahami Faktor Tercapainya Therapia Dalam Keluarga

PENDAHULUAN.

23 febKata “penyembuhan’ dalam Luk. 9:11 Dalam bahasa Yunaninya (Bahasa asli) yaitu Kata “therapeia” dalam Alkitab Perjanjian Baru digunakan untuk mendefinisikan pengertian tentang keluarga atau rumah tangga. Bentuk kata kerja ini sendiri mengandung arti “melayani”, memelihara” dan “memberi perhatian”. Jadi dapat dikatakan bahwa keluarga adalah suatu tempat dimana melayani, memelihara dan memberi perhatian itu diabdikan sebagai suatu tujuan berkeluarga.

Juga kata Therapeia mempunyai arti yang lainnya yaitu healing: Kesembuhan/Therapis Lukas 9:11; Why 22:2. Pengertiannya keluarga adalah tempat dimana seseorang mengalami kesembuhan, dipulihkan keadaannya. Sehingga hidup seseorang yang telah mengalami kesembuhan dan pemulihan memberi dampak bagi orang lain dan berguna baik untuk keluarganya, gereja, bermasyarakat dan berbangsa.

Hal ini bisa terjadi, tidak lepas dari peran seorang ibu dalam keluarga. Tuhan ingin memakai kaum wanita yang takut akan Tuhan, yang berpengaruh sampai kepada kekekalan.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Faktor – faktor tercapainya therapeia/pemulihan dalam keluarga belajar dari Eunike & Lois:

  1. Hidup takut akan Allah
  • Dalam Perjanjian Baru, ada seorang hamba Tuhan bernama Timotius. Timotius dididik oleh seorang ibu yang takut akan Tuhan (Kpr 6:1-3; 2 Tim. 1:5) Nenek Timotius yaitu Lois, dan ibunya Eunike, sangat mengasihi Timotius sehingga Timotius bertumbuh menjadi anak Tuhan yang takut akan Tuhan. Di tengah kesibukannya, seorang ibu membesarkan dan mendidik anaknya dalam takut akan Tuhan. Tanpa dedikasi seorang ibu, maka rumah tangga dapat hancur.
  • Didiklah anak sejak muda dengan takut Akan Allah – Ams. 3:7-8 sebab itulah yang akan menyembuhkan kita.

 

  1. Mendidik sejak kecil untuk rajin membaca Kitab Suci 2 Tim 1:5; 3:15; 1 Tim. 4:13.
  • Salah satu hal yang paling penting yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anak mereka adalah membantu mereka mengembangkan kebiasaan membaca Alkitab setiap hari. Adalah Firman Allah yang dapat dipakai oleh orang muda untuk membersihkan jalannya dari dunia yang jahat ini (Maz. 119:9). Firman Tuhan haruslah masuk ke dalam hati dan jiwa dan mengisi keseluruhan hidup individu tersebut, dan ini tidak akan terjadi tanpa membaca, mempelajari, menghafal, dan merenungkan Firman Tuhan menjadi praktek sehari-hari.
  • Firman Tuhan yang ada dalam hati kita berfungsi salah satunya adalah penyembuhan Ams. 3:1-8 bandingkan Maz.107:20.
  • 2 Tim 3:15 melalui Kitab suci/Firman Tuhan yang dipercaya dan dipegang oleh Timotius bahkan dengan tekun membaca menuntunnya kepada keselamatan – pemulihan dan kesembuhan.

 

Kesimpulan. Pemulihan tidak akan pernah terjadi apabila kita tidak mengijinkan Tuhan hadir dalam hidup kita. Sumber pemulihan yang sejati adalah dari Tuhan. Dimulai dari hidup takut Tuhan dan suka merenungkan dan mempraktekkan Firman Tuhan maka kita selain mengalami kesembuhan dan pemulihan maka kita akan membawa dampak kesembuhan dan pemulihan juga bagi orang lain. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Loading...