[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 01 Maret 2016         Durasi: 20 Menit

Nats          : Yohanes 15:9-17

Tema         : Peran keluarga dalam mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kasih.

PENDAHULUAN.

1 marJika bulan Januari telah kita pelajari Pilar I point kesatu : tentang mengenal Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus; Point kedua: membawa keluarga untuk memahami peran pemulihan-therapeia.

Memasuki Bulan Maret kita akan belajar tentang Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah, point ketiga : Membawa setiap keluarga untuk hidup Saling mengasihi. Yoh.15:12. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Sebagai keluarga Allah maka ada tanda atau ciri seseorang yang harus melekat yaitu Hidup saling mengasihi.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Peran keluarga dalam mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kasih:

  1. Peran yang kita lakukan adalah Mentaati Perintah Bapa kita yaitu Saling mengasihi –Yoh. 15:12; 14:15; 13:34.
  • Yesus memberi perintah baru yaitu : ‘kamu harus saling mengasihi’ (Yoh 13: 34). Perintah ini sebenarnya bukanlah perintah yang sama sekali baru (bandingkan Imamat 19:18). Penekanan baru di sini lebih di tunjukan pada tindakan kasih yang dicontohkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Artinya kasih yang ditunjukkan Yesus menjadi dasar dari tindakan kita yang saling mengasihi.
  • Sebagai perintah, saling mengasihi menjadi suatu keharusan atau kewajiban bahkan menjadi identitas bagi kita yang percaya.

Gereja Yesus Kristus adalah gereja yang hidup dalam kasih. Bukan gereja yang di dalamnya saling menggigit, fitnah atau bertikai. Yesus menghendaki agar kasih yang berdasar pada kasih-Nya harus selalu ada dan tersedia dalam hidup orang percaya I Kor. 13:1-4.

  • Jika kita hidup dalam Kasih Allah: 1) Dikenal Allah (1 Yoh. 4:7-8; 2). Dikasihi oleh Bapa (Yoh. 14:21; 16:27); 3). Dapat menggembalakan domba-domba (diri kita sendiri, keluarga kita jiwa-jiwa yang Tuhan kirimkan dll Yoh 21:16); 4). Menerima kebaikan dan mengalami penyediaan berkat (Rom. 8:28; 1Kor. 2:9); 5) Berada dalam terang dan tidak ada penyesatan (1Yoh. 2:10). Taatilah perintah Tuhan, karena kasih kepada Allah.

 

  1. Peran yang kita lakukan adalah berani menunjukkan identitas kita yang sejati sebagai murid Tuhan Yoh. 13:35
  • Saling mengasihi adalah identitas yang melekat dalam diri setiap orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu mari kita bangun hidup persekutuan kita dengan semangat saling mengasihi. Semua itu kita lakukan sebagai kesaksian, agar orang yang ada disekitar tahu bahwa Yesus itu Tuhan dan Juruselamat.
  • Kasih di antara suami istri dan di antara orang tua terhadap anak harus terus meningkat (1 Kor. 13:4-7). Kasih mencakup komitmen, perhatian, perlindungan, pemeliharaan, pertanggung jawaban, dan kesetiaan. Kasih yang seharusnya berlanjut dalam relasi suami istri tidak lagi sebatas ketertarikan secara fisik. Kasih itu harus diungkapkan dalam perbuatan nyata, saling berkomunikasi dan berelasi. Kasih itu juga diaktualisasikan ketika menghadapi masalah, memikul tugas dan tanggung jawab hidup. Ketiadaan kasih diantara orang tua dapat dirasakan oleh anak, akibat selanjutnya adalah mengganggu pertumbuhan watak mereka.

 

KESIMPULAN. Hendaklah kita hidup dalam kasih Ef.5:2. Jangan lupakan perintah yang satu ini. Jika kita mengasihi Tuhan maka tandanya adalah kita mentaati perintahNya Yoh.14:15. Saling mengasihi merupakan identitas kita. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 23 Februari 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Lukas 9:10-11

Tema         : Memahami Faktor Tercapainya Therapia Dalam Keluarga

PENDAHULUAN.

23 febKata “penyembuhan’ dalam Luk. 9:11 Dalam bahasa Yunaninya (Bahasa asli) yaitu Kata “therapeia” dalam Alkitab Perjanjian Baru digunakan untuk mendefinisikan pengertian tentang keluarga atau rumah tangga. Bentuk kata kerja ini sendiri mengandung arti “melayani”, memelihara” dan “memberi perhatian”. Jadi dapat dikatakan bahwa keluarga adalah suatu tempat dimana melayani, memelihara dan memberi perhatian itu diabdikan sebagai suatu tujuan berkeluarga.

Juga kata Therapeia mempunyai arti yang lainnya yaitu healing: Kesembuhan/Therapis Lukas 9:11; Why 22:2. Pengertiannya keluarga adalah tempat dimana seseorang mengalami kesembuhan, dipulihkan keadaannya. Sehingga hidup seseorang yang telah mengalami kesembuhan dan pemulihan memberi dampak bagi orang lain dan berguna baik untuk keluarganya, gereja, bermasyarakat dan berbangsa.

Hal ini bisa terjadi, tidak lepas dari peran seorang ibu dalam keluarga. Tuhan ingin memakai kaum wanita yang takut akan Tuhan, yang berpengaruh sampai kepada kekekalan.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Faktor – faktor tercapainya therapeia/pemulihan dalam keluarga belajar dari Eunike & Lois:

  1. Hidup takut akan Allah
  • Dalam Perjanjian Baru, ada seorang hamba Tuhan bernama Timotius. Timotius dididik oleh seorang ibu yang takut akan Tuhan (Kpr 6:1-3; 2 Tim. 1:5) Nenek Timotius yaitu Lois, dan ibunya Eunike, sangat mengasihi Timotius sehingga Timotius bertumbuh menjadi anak Tuhan yang takut akan Tuhan. Di tengah kesibukannya, seorang ibu membesarkan dan mendidik anaknya dalam takut akan Tuhan. Tanpa dedikasi seorang ibu, maka rumah tangga dapat hancur.
  • Didiklah anak sejak muda dengan takut Akan Allah – Ams. 3:7-8 sebab itulah yang akan menyembuhkan kita.

 

  1. Mendidik sejak kecil untuk rajin membaca Kitab Suci 2 Tim 1:5; 3:15; 1 Tim. 4:13.
  • Salah satu hal yang paling penting yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anak mereka adalah membantu mereka mengembangkan kebiasaan membaca Alkitab setiap hari. Adalah Firman Allah yang dapat dipakai oleh orang muda untuk membersihkan jalannya dari dunia yang jahat ini (Maz. 119:9). Firman Tuhan haruslah masuk ke dalam hati dan jiwa dan mengisi keseluruhan hidup individu tersebut, dan ini tidak akan terjadi tanpa membaca, mempelajari, menghafal, dan merenungkan Firman Tuhan menjadi praktek sehari-hari.
  • Firman Tuhan yang ada dalam hati kita berfungsi salah satunya adalah penyembuhan Ams. 3:1-8 bandingkan Maz.107:20.
  • 2 Tim 3:15 melalui Kitab suci/Firman Tuhan yang dipercaya dan dipegang oleh Timotius bahkan dengan tekun membaca menuntunnya kepada keselamatan – pemulihan dan kesembuhan.

 

Kesimpulan. Pemulihan tidak akan pernah terjadi apabila kita tidak mengijinkan Tuhan hadir dalam hidup kita. Sumber pemulihan yang sejati adalah dari Tuhan. Dimulai dari hidup takut Tuhan dan suka merenungkan dan mempraktekkan Firman Tuhan maka kita selain mengalami kesembuhan dan pemulihan maka kita akan membawa dampak kesembuhan dan pemulihan juga bagi orang lain. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 16 Februari 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Matius 12:50; 18:12-14

Tema         : Dampak atau akibat kehilangan Figur Bapa

PENDAHULUAN.

16 febMinggu lalu telah kita pelajari kualitas hidup akibat memiliki atau mendapat figur Bapa. Kualitas hidup yang rendah diri dihadapan Tuhan, memiliki tujuan hidup yang jelas dan memiliki kesetiaan. Maka hari ini beberapa hal akibat atau dampak kehilangan figur Bapa.

Figur atau teladan sangat penting menjadi salah satu penentu sebuah generasi. Samuel pada masa kecilnya kurang mendapat figur yang baik dari bapa rohaninya yaitu Imam Eli, dalam hal mendidik anak. Sebagai bapa dari anak-anaknya Imam Eli tidak bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dimana anak-anaknya tidak takut kepada Tuhan bahkan dikatakan Imam Eli tidak memarahinya ketika anak-anaknya menghujat Tuhan, menghina/tidak hormat kepada Allah 1 Sam. 2:11-36; 3:11-14, hal ini tanpa disadari Samuel mengalami hal yang sama dimana ia tidak bisa mendidik anak-anaknya untuk takut Tuhan 1 Samuel 8:1-5. Jika kita memahami peran bapa salah satunya adalah perencana, sudahkan kita merencanakan dan mempersiapkan generasi kita untuk hidup takut akan Tuhan? Samuel memang memiliki kualitas hidup yang baik, sehingga Tuhan memanggil dan mengangkatnya menjadi hakim atas orang Israel, memberikan jabatan nabi kepadanya. Namun setelah ia menjadi tua, anak-anaknya tidak meniru teladan bapanya Samuel yang baik.

Hal ini menjadi pelajaran, bukan sekedar kita memiliki kualitas hidup yang baik, namun apakah kita bisa mempersiapkan & merencanakan generasi kita untuk dapat memiliki kualitas hidup yang baik. Berikut ini kita mempelajari akibat atau dampak dari kehilangan figur seorang bapa.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dampak atau akibat kehilangan figure Bapa:

  1. Menjadi Pendusta
  • Ada dua pilihan dalam hidup ini : mengikuti bapa pendusta yang tidak hidup dalam kebenaran (artinya kehilangan figur Bapa di Sorga) atau mengikuti ajaran atau kebenaran dari Bapa kita di Sorga (arti memiliki figur Bapa di Sorga)-Yohanes 8:44.
  • I Yoh.2:22 Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
  • Artinya jika kita hidup dalam kebenaran, berarti kita mengakui Yesus adalah Kristus, sebagai Bapa kita, maka kita akan melakukan kebenaran/kehendak Bapa. Sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan bukan pendusta – 1 Yoh. 3:10; Mat. 12:50.

 

  1. Menjadi Penyesat
  • Kisah Raja Yoram ini menarik, dari beberapa kisah raja-raja Yehuda, Raja Yoram ini memiliki figur bapanya yaitu Yosafat yang hidup benar. Namun karena tidak mengikuti figur ayah/bapanya, melainkan memilih mengikuti figur ayah mertuanya yang jahat 2 Taw. 21:2-20, sehingga ia menyesatkan generasi yang dipimpinnya 2 Taw. 21:11. Maka ia kehilangan banyak berkat. Berkat kesehatan, bahkan ia mati dengan tidak di cintai 2 Taw. 21:12-15.
  • Bandingkan 2 Yoh 1:7-9 setiap orang yang tinggal dalam, ajaran Kristus ia memiliki figur Bapa dan tidak kehilangan upahnya.

 

  1. Menjadi Pribadi yang jahat
  • 2 Taw. 24:2 Raja Yoas melakukan apa yang benar selama hidup imam Yoyada, namun setelah kematian Imam Yoyada, raja Yoas menjadi jahat ia membunuh anak dari imam Yoyada yang telah menegur raja Yoas- 2 Taw. 24:15-22. Berilah ilustrasi.

 

Kesimpulan. Janganlan sampai kita kehilangan figur Bapa di Sorga, contohlah figur/teladan dari bapa-bapa leluhur kita yang baik. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 09 Februari 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Roma 8:18-30

Tema         : Memahami Kualitas Hidup Akibat memiliki Figur/Teladan Bapa

PENDAHULUAN.

9 febSelasa lalu telah kita pelajari pilar 1 point ke satu dimana kita mengenal peran Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Berikut kita akan memahami pentingnya figur Bapa. Peran Bapa salah satunya adalah membuat perencanaan. Dalam Alkitab menjelaskan pentingnya fungsi, peran dan teladan seorang Bapa yang dapat menghasilkan kualitas hidup bagi generasi berikutnya. Bapa yang baik ia dapat menjalankan fungsi, perannya dengan sebaik-baiknya. Pribadi yang mendapat figur/teladan bapa yang baik akan menghasilkan Kualitas hidup yang baik juga.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Kualitas hidup akibat memiliki figur/Teladan Bapa antara lain :

  1. Kualitas hidup dari Raja Yosia yaitu rendah diri dihadapan Tuhan 2Taw. 34:1-7; 2Raja22:1-2; 23:21-24, 25; Yer.ps 25-26.
  • Sekalipun ia seorang raja, tidak menjadikan kedudukan sebagai sesuatu yang dibanggakan/disombongkan. Bahkan ia memberikan harta miliknya untuk persembahan kepada Tuhan 2Taw. 35:7. Hal ini terjadi karena ia meniru/meneladankan bapa leluhurnya yaitu Raja Daud yang hidup rendah diri dihadapan Tuhan.
  • Pentingnya memiliki sikap rendah diri dihadapan Tuhan: Bapak Gembala King Anderonikus menyampaikan pernyataan bahwa jika kita berhadapan dengan Tuhan, hendaknya kita memiliki sikap rendah diri: artinya kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan, diluar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa Yoh 15:5. Namun dihadapan manusia kita harus rendah hati, artinya tidak boleh menyombongkan diri Fil. 2:3 Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.
  • Hiduplah rendah diri hanya dihadapan Tuhan, dan hendaklah kita memiliki sikap rendah hati satu sama lain.

 

  1. Kualitas hidup dari Yesus yaitu mempunyai tujuan hidup yang jelas 8:26-30.
  • Beberapa orang telah memahami arti tujuan hidupnya, namun tidak sedikit juga kurang memahami tujuan hidupnya. Belajar dari pribadi Yesus yang telah mendapatkan firgur Bapa di Sorga, sehingga ia mengetahui tujuan hidup di dunia ini Yoh.8:18; 10:11-18, 25-30, 37-38. Yesus memahami tujuan hidupnya karena Ia menerima ajaran/figure dari BapaNya Yoh. 8:26-30.
  • Pentingnya memahami tujuan hidup kita salah satunya kita akan hidup secara maksimal, seperti Yesus menyelesaikan segala sesuatu yang diajarkan oleh BapaNya, seperti Rasul Paulus memahami arti hidupnya – 2 Tim. 4:5-8. Berilah ilustrasi.

 

  1. Kualitas Hidup dari Timotius yaitu Kesetiaannya teruji Fil. 2:19-24; 2 Tim. 3:10-17; Kis.16:1-3; 2Tim1:5.
  • Kesetiaan dan ketaatan adalah sifat yang sulit ditemukan di era modern ini. Akan tetapi sifat / karakter/kualitas hidup yang demikianlah yang Tuhan cari hari-hari ini. Sifat setia dan taat ini dimiliki oleh seorang muda yang bernama Timotius. Hal diakui oleh bapa rohaninya yaitu Paulus – 1 Tim 1:18-19; Fil. 19-22.
  • Pentingnya kesetiaan Why 2: 10 ada upah yang menanti. Dan yang akan bersama-sama Kristus adalah pribadi yang setia. Why 17:14. Sifat yang Tuhan inginkan adalah kesetiaan II Tes 3:3; Ibr. 10:23, Ams. 19:22. Orang yang setia sudah pasti ia taat. Hendaklah kita setia sampai akhir Why. 2:10b.

 

Kesimpulan. Syukur kepada Allah yang mengangkat kita menjadi Anak-anakNya Yoh.1:12; Rom 8:19. Dan melayakkan kita memanggil Dia Bapa Roma 8:15, Gal 4:6. Sehingga kita memiliki kualitas hidup yang baik. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 02 Februari 2016            Durasi: 20 Menit

Nats          : Efesus1:1-14

Tema         : Mengenal Peran Allah Bapa, Anak & Roh Kudus

PENDAHULUAN.

2 feb          Memasuki Bulan Februari kita akan belajar tentang Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah (Membawa setiap keluarga untuk mengenal Allah Bapa secara pribadi Keluarga (berbicara setiap pribadi dalam keluarga, baik itu ayah, ibu (wanita), anak kecil, dan pemuda).

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Mengenal Peran Allah Bapa, Anak & Roh kudus:

  1. Peran Allah Bapa Yaitu Perencana/Perancang Ef. 1:3-6
  • Bapa di Sorga telah memilih dan menentukan kita untuk menerima Yesus sebagai “segala berkat rohani di dalam sorga,” dengan tujuan: supaya kita yang tidak kudus menjadi kudus dan yang bercacat cela dalam segala hal menjadi tidak bercacat, untuk menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.
  • Berkat rohani di dalam Sorga menunjuk kepada Kristus. Bapa memilih kita dan menganugerahkan Anak-Nya sebagai penebusan dosa-dosa kita, lebih dari sekedar menggunakan kedaulatan-Nya, tetapi dengan kerelaan-Nya. Hanya dengan kerelaan kehendak-Nya, Bapa bisa mengorbankan Anak Tunggal yang paling dikasihi-Nya -Roma 8:32.
  • Setelah dipilih, kita harus ditebus. Bukan dengan darah domba yang harus berkali-kali dilakukan, tetapi dengan darah Anak Domba Allah, yaitu Anak Allah yang harus menjadi manusia di dalam Yesus Kristus – Ibrani 9:14.

 

  1. Peran Anak Dalam Kristus Yesus yaitu Pelaksana rencana Allah Bapa Ef. 1:7-12
  • Peran Sang Anak adalah menjalankan rencana kerelaan Sang Bapa, untuk mengasihi menusia yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Bapa, dan untuk itu rela menjadi manusia, rela untuk disiksa, dihina, dicemoohkan, disalibkan, dan pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati.
  • Tujuan penebusan adalah mempersatukan kita dengan Kristus sebagai kepala, yaitu sebagai gereja dengan jemaat-Nya, selama masih di dunia, maupun dipersatukan sebagai warga Kerajaan Allah dan keluarga Allah baik di bumi & Sorga, menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya, melalui kesaksian hidup kita yang berkenan di hadapan Allah. Tetapi, penebusan yang dilakukan Sang Anak perlu diteguhkan. Kita harus mati di dalam Kristus (materi Selasa yang lalu) dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus.

 

3 Peran Roh Kudus Yaitu Memeteraikan/pendukung Ef. 1:13-14

  • Setelah dipilih oleh Bapa, dan ditebus oleh Anak, kita pun harus dimeteraikan oleh Roh Kudus agar tak satupun yang bisa menggagalkan rencana kerelaan Allah untuk memilih, menebus, dan menjadikan kita sebagai anak-anak Allah.
  • Roma 8: 33-35 .. tak satupun bisa memisahkan kita dari Kasih Kristus. Bahkan dinyatakan bahwa tak satupun akan menggugat kita sebagai orang-orang pilihan Allah, termasuk: Bapa juga tidak akan menggugat kita sebagai orang-orang pilihan Allah, karena Dia yang telah membenarkan kita. Kristus Yesus pun tidak akan menghukum kita, supaya kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya tidak sia-sia. Malah Dia, yang duduk di sebelah kanan Allah (mendapat kuasa untuk menghukum), telah menjadi pembela kita. Baca Yoh.14:15-26.

 

KESIMPULAN. Kenali peran Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sehingga kita memahami betapa kayanya kita, kekayaan yang sering tidak kita sadari atau kalaupun kita tahu, sering kita abaikan hanya karena kita terpaku kepada materi dan harta kekayaan dunia ini. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 26 Januari 2016       Durasi: 20 Menit

Nats          : Roma 8:18-30

Tema         : Menerima Kepenuhan Allah – Belajar dari Yesus

PENDAHULUAN.

Kepenuhan Allah ada dalam Yesus – Ibrani 1:1-4 Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.

Dalam Roma 8:29-30 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Setiap orang percaya yang rindu mengalami kepenuhan Allah. Dimana jubahNya Allah dikenakan dalam hidup kita, menerima apa yang dijanjikan Allah dan mewarisi janji-janjiNya- Roma 8:17. Pada zaman akhir ini semua mahkluk/ciptaan Allah menantikan anak-anak Allah dinyatakan.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Yesus mengalami kepenuhan Allah, agar kita juga mengalami hal yang sama maka ada beberapa hal perlu untuk dilakukan:

  1. Siap untuk memperbaharui manusia baru kita secara terus menerus – Ef 4:23-24; Kol. 3:10; Kej.1:26.
  • Mengenakan manusia baru kita, yang terus menerus diperbaharui artinya menanggalkan kehidupan masa lalu. Yesus berpesan pada perempuan yang kedapatan berzinah Yoh 8:11. Dosa yang disembunyikan menghambat berkat Tuhan-Ams 28:13. Terlalu sibuk mengurus dosa orang, lupa akan membereskan dosa pribadi.
  • Pentingnya manusia baru yang terus menerus diperbarui. Setiap anggur yang baru pasti simpan dikantong yang baru- 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya”

 

  1. Siap bertumbuh dan berbuah.
  • Yang diperlukan untuk pertumbuhan secara rohani adalah Firman Tuhan – Mat.4:4; Luk 4:4; Ul.8:3 Roti yang berfungsi sebagai makanan yang segar, dibutuhkan sehari-hari. Sudahkah kita merenungkan dan melakukan Firman Tuhan? Sehingga terbentuk karakter-karakter ilahi dalam hidup kita?
  • Mengapa kita tidak dapat bertumbuh ? Karena imannya terkandas – 1 Tim 1:19. Imannya tidak berkembang/bertumbuh karena ia tidak menganggap Firman Allah sebagai sesuatu yang patut kita hargai/hormati lebih berbahaya lagi jika ia tidak membutuhkan lagi Mat. 13:19-23. Roma 10:17 iman timbul dari pendengaran akan firman Allah. Ams. 13:13- Apakah kita menghargai Firman Tuhan? Kita hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
  • Pentingnya mengalami pertumbuhan karakter Allah. Yesus bertumbuh semakin besar, baik secara jasmani dan rohani. Lukas 2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

 

Kesimpulan. Perbesar kapasitas kita untuk menerima kepenuhan dari Allah dengan memperbarui manusia baru kita secara terus menerus & siap bertumbuh serta berbuah. Sebab Dunia menantikan anak-anak Allah yang memiliki kepenuhan Allah dinyatakan pada akhir zaman ini. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]

Materi S2C : Selasa, 19 Januari 2016              Durasi: 20 Menit

Nats          : Efesus 3:14-21

Tema         : Enlarge Capacity – Fullness Of God

PENDAHULUAN.

 fullness-of-god         Memasuki tahun 2016 Tema tahunan GBI KelIR yaitu Enlarge Your Capacity (Memperbesar Kapasitas) –Fullness of Gof (Kepenuhan Allah).

Bagaimana dengan kapasitas hidup kita yang telah diperbesar untuk menerima kepenuhan dari Allah.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): ada 4 hal yang perlu kita perhatikan bagaimana hidup kita telah diperbesar kapasitas untuk menerima kepenuhan dari Allah?

 

  1. Mengenal Lebar (Platos) Ef. 3:18
  • Lebar =Luas=Lapang; lapang dada. Menerima segala dari Tuhan dengan lapang dada; tidak berbantah-bantah dengan Tuhan karena merasa tidak adil, dll.
  • Betapa pentingnya kita tidak berbantah – Roma 9:20 hanya orang yang menerima dirinya adalah orang yang sedang membangun kepenuhan Allah dalam dirinya. Hanya orang yang lapang hatinya yang akan diperbesar kapasitasnya.

 

  1. Mengenal Panjang (Mekos) Ef. 3:18
  • Ketika kita lapang dada, maka hidup kita dapat dipanjangkan patoknya, sepanjang kasih kasih Yesus, yaitu sampai mati dikayu salib (berkorban)- Fil 2:8. Seberapa besar kita mau berkorban untuk Tuhan demikian hidup kita diperbesar oleh Tuhan.
  1. Mengenal Tinggi (Hupsos) Ef. 3:18
  • Setelah hati kita lapang – Yes. 54:2, kita mampu berkorban untuk Tuhan maka hidup kita diperluas, dan kita memandang ke tempat Tinggi yaitu Tuhan. Maka jubahNya diberikan bagi kita, yaitu kuasa dan otoritasNya.

 

  1. Mengenal Dalam (Bathos) 3:18
  • Untuk menerima hal-hal yang tersembunyi dalam Allah – Kepenuhan Allah- rahasia Allah.

 

KESIMPULAN.

Untuk menerima kepenuhan dari Allah yaitu : tidak berbantah/lapang dada, rela berkorban, memandang Tuhan dan menerima jubahNya dan kepenuhan dari Allah, semua yang Allah sediakan bagi kita. Tahun 2016 Allah sedang mengenakan jubahNya bagi kita, sehingga kita berjalan dengan kuasa dan kemenangan bersama Dia. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

fullnes of godShalom…
Selamat Natal 2015 & Tahun Baru 2016.
Berikut ringkasan khotbah
Bapak Gembala Pdt. Dr. King Anderonikus Rorong, D.Min, D.Th di penghujung pergantian tahun, memasuki tahun 2016.
Tema untuk tahun 2016 :
Enlarge Capacity – Fullness of God. (Efesus 3:14-21)

Bagaimana dengan kapasitas hidup kita yang telah diperbesar untuk menerima kepenuhan dari Allah (Efesus 3:18) :

1. Mengenal lebar (Platos).
Lebar=luas=lapang; lapang dada. Menerima segala yang dari Tuhan dengan lapang dada; tidak berbantah dengan Tuhan karena merasa tidak adil atau karena penghakiman.

2. Panjang (Mekos) – Berkorban.
Ketika hati kita lapang, maka hidup kita dapat dipanjangkan patoknya sepanjang kasih Yesus, yaitu sampai mati di kayu salib. Seberapa besar kita mau berkorban untuk Tuhan demikian hidup kita diperbesar oleh Tuhan.

3. Tinggi (Hupsos).
Setelah hati kita lapang, kita mampu berkorban untuk Tuhan maka hidup kita diperluas, dan kita memandang ke tempat Tinggi yaitu Tuhan. Maka jubahNya diberikan bagi kita, yaitu kuasa dan otoritasNya.

4. Dalam (Bathos).
Untuk menerima hal hal yang tersembunyi dalam Allah – kepenuhan Allah – rahasia Allah.

Kesimpulan.
Untuk menerima kepenuhan dari Allah yaitu :
Tidak berbantah/ lapang dada, rela berkorban, memandang Tuhan dan menerima jubahNya dan kepenuhan dari Allah, semua yang Allah sediakan bagi kita.
Tahun 2016, Allah sedang mengenakan jubahNya bagi kita, sehingga kita berjalan dengan kuasa dan kemenangan bersama Dia.

Tuhan Yesus Memberkati

Materi S2C : Selasa, 01 Desember 2015       Durasi: 20 Menit

Nats          : Efesus 5:8-14, Matius 5:14, Daniel 12:3

Tema         : Terangilah Dunia

PENDAHULUAN.

terangiDalam Kisah Para Rasul 8, dikisahkan orang kristiani di Yerusalem tersebar hingga ke berbagai negeri untuk menghindari hukuman mati. Mereka mewartakan Injil ke mana pun mereka pergi (KPR8:4). Saulus, salah satu penganiaya mereka, justru bertobat dan menjadi rasul. Menjelang akhir hidupnya, Saulus yang kemudian disebut Paulus, memutuskan untuk pergi ke Yerusalem, meski ia tahu di sana ia akan dihukum mati. Namun Paulus tak merasa gentar dan mengatakan bahwa tujuannya adalah “untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (KPR 20:24). Allah masih memanggil kita untuk mengabarkan Kabar Baik tentang Yesus kepada mereka yang belum mengenal Dia.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Mengapa kita harus menerangi Dunia

  1. Kita dapat menarik orang kepada kristus, apabila hidup kita memancarkan terangNya

Yohanes Pembaptis datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya –Yohanes 1:7 Yesus mengatakan bahwa kita, yang mengenal Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan, adalah terang dalam dunia yang digelapkan dosa (Mat. 5:14-16). Kita adalah cerminan Kristus Sang “Terang yang sesungguhnya” (Yoh.1:9).

Seperti Yohanes Pembaptis yang bersaksi tentang Terang itu dan memimpin orang-orang kepada Yesus (Yoh.1:7), kita pun dapat seperti dia. Jalan ketaatan kita yang setia kepada-Nya adalah mercusuar kasih dan kebenaran Allah. Hidup dan ucapan kita menjadi cahaya hangat yang menembus dunia yang dingin dan gelap ini. Mungkin salah satu anggota keluarga kita masih ada dalam kegelapan. Mungkin juga kawan atau rekan kerja kita. Jangan berhenti mendoakan mereka. Teruslah berusaha menarik perhatian mereka kepada Tuhan. Kita dapat menarik orang kepada kristus
apabila hidup kita memancarkan terang-nya.

Ini adalah tantangan besar yang harus membuat kita memikirkan secara serius bagaimana kita hidup. Tanyakanlah pada diri kita sendiri, “Sudahkah saya menjadi terang bagi hidup orang lain? Apakah hidup dan perkataan saya menuntun orang-orang keluar dari kegelapan dan datang kepada terang Yesus?”

Dunia ini gelap, tetapi kita memiliki terang. Sudahkah kita menerangi sekeliling kita? hidup kita dapat memancarkan terang
atau mengusir kegelapan. Sebab Allah telah menempatkan kita di dunia ini untuk bersaksi pada dunia.

  1. Dunia membutuhkan Terang Injil Yohanes 8:12

Dengan mempercayai Yesus sebagai Juruselamat, kita dapat menyinari dunia (Mat.5:16). Dengan kekuatan Roh Kudus kita dapat menjadi seperti jemaat kristiani yang disurati Paulus, “Kamu bercahaya di antara mereka” (Fil.2:15). Dan seperti yang diucapkan Fransiskus Asisi, “Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai, bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih, … bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang. Hendaklah kita yang percaya dan mengikut Sang Juruselamat dapat mencerminkan Dia, yang adalah terang dunia. Kehidupan kekristenan adalah jendela tempat orang dapat melihat Yesus.

Kesimpulan. Orang yang hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah, hidup penuh otoritas untuk menjadi pengelola, untuk itu setiap orang percaya harus memahami prinsip kerajaan Allah, & hidup di dalamnya. Harapan kami, dengan akan berakhirnya tahun 2015 biarlah kita semua senantiasa berjalan bersama dengan Allah, mengikuti kehendakNya dan rencanaNya, sehingga melalui kita banyak orang mengenal Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dan akhirnya diselamatkan dalam kehidupan yang kekal. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Loading...