Materi S2C  : Selasa, 11 Juli 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : Mazmur 32:8, II Timotius 4:2

Tema         : Pentingnya bimbingan dan nasehat dalam kehidupan

PENDAHULUAN. 

Minggu ke 2 bulan Juli ini kita akan belajar memahami Pilar V (Lima) : Menjadikan Jemaat, Imam yang berprinsip Keluarga. Point ke 4 (empat): Pelayanan dalam bimbingan dan memberi nasehat.

 Jika kita mencari kata “nasihat” atau “saling menasihati” di dalam Alkitab yang biasa kita gunakan, mungkin kita tidak akan banyak menemukan kata tersebut. Meskipun tidak secara langsung menggunakan kata nasihat, Alkitab menggunakan kata-kata seperti hikmat, didikan dan pengajaran yang memiliki arti yang kurang lebih sama dengan arti kata nasihat. Jika demikian, kita tentu setuju bahwa di banyak tempat dalam Alkitab, pengajaran mengenai nasihat dan saling menasihati menjadi salah satu hal yang penting dan ditekankan.

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan nasihat? Nasihat kurang lebih dapat diartikan sebagai segala kata-kata bijak yang diucapkan atau ditulis dengan tujuan untuk membangun dan menunjukan suatu kebenaran yang akan dapat mendatangkan kebaikan bagi siapa saja yang menerimanya.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Pentingnya bimbingan dan nasehat dalam kehidupan!

  1. Nasehat membuat kita menjadi pribadi yang berhikmat dan bijaksana – Amsal 13:10; 12:15.
  • Kitab Amsal menekankan pentingnya mendengarkan nasihat-Ams1:8, 10, 2:1, 3:1. Perlunya mencari dan mendengarkan pertimbangan atau nasihat yang bijak. Mengabaikan nasihat akan mendapat kemalangan-Ams1:22-27.

Aplikasi :  “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” –Ams 19:20.

 

  1. Nasehat menghasilkan keputusan yang bijak.
  • Alkitab banyak mambahas bagaimana membuat keputusan-keputusan bijak. Bukan hanya itu, juga penuh dengan contoh-contoh keputusan yang baik dan buruk, serta akibat keputusan-keputusan tersebut. Alkitab menunjukkan keputusan-keputusan yang baik, sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, yang mengarah kepada hasil-hasil yang baik.
  • Kitab Amsal secara konsisten menghargai upaya pencarian nasihat dalam membuat keputusan. “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”- Ams15:22. “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.”-11:14. “Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat.” –Ams 20:18.

Aplikasi : Allah itu “ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.”Yes.28:29; 11:2.

 

  1. Nasehat penting untuk mencapai kesuksesan hidup
  • Berbahagialah orang yang menerima nasihat Firman Tuhan dalam masa pertimbangannya, karena mereka akan menang dalam segala pekerjaannya-Ams 24:6. Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan Ams 13:18.
  • Beberapa orang memiliki pemahaman bahwa sukses adalah memilik segala hal (materi secara jasmani: Mobil, Rumah, dll). Namun Salomo juga menekankan tentang betapa pentingnya pengetahuan dan menerima didikan itu untuk mencapai kesuksesan hidup.
  • Pengetahuan dan didikan itu terdiri dari dua jenis : yakni pengetahuan formal lewat bangku pendidikan dan tingkatan pendidikan; kedua pengetahuan informal lewat belajar dari pengalaman orang lain; teguran orang lain dan nasehat orang lain termasuk didalamnya Nasehat Tuhan melalui FirmanNya.

Aplikasi : Terimalah didikan Tuhan, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. Ams. 8:10.

 

Kesimpulan. Tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak!!! Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 4 Juli 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Petrus 3:13-17

Tema         : Memahami Etika Dalam Masyarakat

PENDAHULUAN. 

          Sebagai penghujung pembelajaran Pilar V: Menjadikan Jemaat, Imam yang berprinsip Keluarga. Point ke 3 (tiga): Pelayanan dalam Etika. Etika berbicara tentang apa yang seharusnya, sehingga “menilai” sesuatu hal setiap orang diajak untuk mengujinya dengan bertanya “apa yang seharusnya”. Sebab jika kita hanya berbicara benar itu belum tentu baik, dan saat kita berbicara apa yang baik belum tentu itu benar, berbicara tentang tepat belum tentu benar dan baik.

Berbicara tentang apa yang seharusnya berarti kita diajak untuk menguji tindakan kita apakah itu menunjuk kepada apa yang Yesus kehendaki di dalam kehidupan kita.  Dengan kata lain dengan tuntunan Roh Kudus kita diajak untuk melakukan yang seharusnya.
Selanjutnya, oleh karena Etika berdasar pada nilai-nilai yang dianut, maka Orang percaya dituntut untuk memahami apa nilai-nilai kekristenan itu sendiri, kita diajak untuk memahami siapa manusia menurut pandangan iman Kristiani. Namun itu semua akan sia-sia jika nilai-nilai tersebut tidak menjadi tindakan atau pola hidup kita.

Hal yang perlu direnungkan adalah apakah kita telah memberlakukan Etika Kristen di dalam hidup kita? Apakah nilai-nilai kekristenan yang kita imani telah menjadi pola hidup di dalam tindakan kita?

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  memahami Etika Dalam Masyarakat?

  1. Belajar dari Abraham
  • Kata ‘etika’ berasal dari kata Yunani ‘ηθoς – ethos’, ‘susila’; istilah itu terdapat dalam 1 Kor.15:33, diterjemahkan ‘kebiasaan yang baik’, tapi dalam PB kata yg lebih banyak dipakai untuk mengartikan cara hidup ialah anastrophê dan kata kerja yang berpadanan (2 Pet.3:11).
  • Sebagai contoh memahami etika dalam masyarakat: Abraham –Kej. 12. Etika & moral Abraham dapat terlihat ketika ia dipanggil Allah. Berani melangkah mentaati perintah Tuhan untuk menuju ke negeri yang belum diketahui keadaannya. Bersedia meninggalkan rumahnya & pergi mengembara yang penuh suka duka serta ancaman bahaya. Ketika Abraham mencapai tempat yang ia tuju, ada bencana kelaparan disana, namun Abraham tidak meninggalkan tempat itu melainkan tetap percaya dan setia pada Tuhan. Percaya bahwa  Tuhan  pasti akan  memberikan yang terbaik. Sekalipun Abraham hidup ditengah-tengah masyarakat yang tidak takut Tuhan, ia berani hidup tetap takut Tuhan.

Aplikasi : Etika dalam masyarakat artinya kita tampil beda ditengah masyarakat, namun tidak mengeksklusifkan/mengkhususkan diri.

 

  1. Belajar etika bermasyarakat melalui ajaran Yesus Kristus.
  • Yesus mempermasalahkan etik orang farisi yang sangat berpegang teguh pada pelaksanaan hukum taurat tetapi tidak mengarah kepada kegenapan hukum taurat dan kitab para  Yesus mengatakan bahwa “jika  hidup  keagamaanmu  tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga”Mat 5:20. Ajaran etik Yesus juga meminta kepada manusia  untuk menjadi seorang manusia yang bersifat ilahi/menjadi manusia rohani. Kata manusia ilahi/manusia rohani ini memiliki arti menjadi seseorang yang lebih baik dari yang lain-baca-Mat.5:39-47.

Aplikasi: Etika dalam masyarakat menerapkan keseimbangan antara kehidupan manusia rohani dengan kehidupan jasmani.

 

Kesimpulan. Etika Kristen yang ditekankan adalah kehendak Tuhan. Dalam Etika Kristen kehendak Tuhan dikedepankan. Mari kita berpegang pada nilai etika yang sesuai Firman Allah yang menuntun kita menjadi manusia yang disempurnakan oleh Tuhan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 27 Juni 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Korintus 15:33; Matius 5:16

Tema         : Memahami Etika dalam Gereja

PENDAHULUAN. 

          Minggu lalu kita sudah memahami etika dalam keluarga, yakni mengembangkan sikap berterima kasih dan sikap patuh/taat. Kesempatan kali ini kita akan membahas bagaimana sikap atau etika kita dalam bergereja.

Firman Tuhan berkata bahwa, “Hendaklah terangmu bercahaya sehingga dunia bisa melihat terang itu dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Terang yang dimaksud di sini adalah perbuatan dan tingkah laku hidup kita sebagai orang percaya, yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai yang tidak hanya berlaku umum di masyarakat, akan tetapi juga nilai-nilai yang sesuai dengan firman Tuhan.

Kita harus menyadari, bahwa sebagai orang percaya, maka etika yang harus dijalankan tidak hanya etika yang berlaku di dunia ini, akan tetapi kita pun harus menjalankan etika yang tertulis dalam firman Tuhan, sekalipun itu nampaknya menyulitkan atau merugikan kita. Salah satu tanda orang beriman adalah orang tersebut senantiasa berpegang dan menjunjung tinggi etika kekristenan di mana pun dan apa pun situasi yang dihadapinya.

Keadaan manusia di akhir zaman, mengalami penurunan kualitas moral dalam kehidupan, menyebabkan hal-hal semakin hari tampak semakin jahat-2 Tim. 3:1-5. Jadi etika apa saja yang harus kita jaga dalam gereja pada akhir zaman ini?

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Memahami Etika dalam Gereja?

  1. Sebagai gereja Tuhan harus menetapkan komitmen untuk memuliakan Allah dalam segala bidang kehidupan dan pelayanan, yang diwujudkan melalui pikiran, perasaan, kehendak, sikap, kata dan tindakan dalam hidup keseharian dan pengabdian-Rom.11:36.
  • Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah ? (1 Tim.3:4-5), Syarat itu sangat dapat diterima ketika kita sadar bahwa penatua dalam Perjanjian Baru mengawasi gereja rumah kecil. Perannya mirip dengan peran seorang bapak yang mengawasi rumah-tangganya.

Aplikasi : Gereja yang memuliakan Tuhan tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.

 

  1. Sebagai gereja Tuhan harus menjaga kemurnian iman sebagai landasan etika, dengan hidup dalam kesucian, kebenaran, dan kebaikkan sambil memperhatikan bagaimana hidup sebagai orang beriman, khususnya seorang pelayan Tuhan yang mempertahankan karakter luhur dalam setiap konteks masyarakat-Ef.5:15-17.
  • “untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.-1Pet.1:7Seperti halnya emas diproses hingga menjadi murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian lewat pencobaan-pencobaan yang mungkin rasanya sangat menyakitkan seperti dibakar-Ayub 23:10

Aplikasi : Reaksi dan tindakan dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup bisa menunjukkan tingkat keimanan seseorang.

KESIMPULAN.  Sikap menempatkan kepentingan adanya etika dengan sendirinya akan meneguhkan setiap orang percaya. Sangatlah diyakini bahwa dengan etika pelayanan yang Alkitabiah ini, setiap pelayan Tuhan akan tertuntun dan mampu menghidupi kehidupan secara bertanggungjawab sehingga membawa kemuliaan bagi TUHAN Allah, serta menjadi berkat bagi sesama. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 20 Juni 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : 2 Timotius 3:1-5

Tema         : Memahami Etika Dalam Keluarga

PENDAHULUAN. 

Diakhir zaman ini Paulus mengingatkan kita sebagai umat Tuhan, di dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga atau di tengah-tengah masyarakat jangan mengabaikan atau bahkan tidak peduli lagi dengan yang namanya etika.

 Apabila kita sebagai umat percaya/ Kristen mengabaikan etika maka kita tidak akan maju namun mundur, akal kita menjadi bobrok -2Tim 3:8-9 dll. Dalam keluarga hal yang tidak boleh hilang adalah etika, sikap yang baik dan benar yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Beretika adalah hal yang penting untuk dilakukan, karena hanya dengan menjadi orang percaya yang beretikalah, maka kita bisa menjadi saksi-saksi Allah yang hidup.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Memahami etika dalam keluarga ?

  1. Etika keluarga tercermin dari Ucapan Terima Kasih
  • Kata terima Kasih memiki makna yang sangat mendalam. Hanya sayangnya budaya untuk berterima kasih ini beberapa orang saja yang mau mempraktekkannya-2 Tim.3:5. Hal yang sama telah dialami oleh Tuhan Yesus dimana Ia menyembuhkan sepuluh orang penderita penyakit kusta, tetapi hanya satu saja yang kembali untuk mengucapkan terima kasih kepada-Nya-Luk17:11-18.
  • Apakah kita sering mengucapkan “terima kasih” kepada orang yang telah menolong kita? Apakah kita pernah mengucapkan terima kasih kepada orang yang menyakiti kita? Apakah suami-suami sering mengucapkan terima kasih kepada istrinya demikian sebaliknya? Apakah anak-anak sering berterima kasih kepada orangtuanya?
  • Pada umumnya orang mau mengucapkan terima kasih kepada orang yang lebih tinggi pangkat maupun derajatnya, tetapi merasa sungkan untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang lebih rendah tingkatnya daripada kita. Kuasa ucapan terima kasih kita akan bisa membahagiakan orang. Seperti rasul Paulus juga menunjukkan terima kasih kepada teman sepelayanannya – Rom.16:4. Etika berterima kasih harus menjadi budaya dalam keluarga kita.

Aplikasi : Kita perlu membiasakan diri untuk berterima kasih atas semua perkara.

 

  1. Etika keluarga tercermin dari ketaatanya.
  • Ibu Yesus berkata kepadaNya,  “Mereka kehabisan anggur” –2:4. Kata  ‘Saat-Ku belum tiba’ sebagai penegas bahwa Yesus memiliki waktu tersendiri. Walau secara jasmani Yesus adalah anak Maria, tetapi Ia sesungguhnya adalah Anak Allah.  Jadi Maria (ibu Yesus) tidak punya kuasa menentukan kapan Yesus harus bertindak dan menyelesaikan masalah yang ada. Meski demikian Maria sangat percaya bahwa Yesus sanggup melakukan perkara besar, karena itu ia menyuruh para pelayan pesta untuk taat melakukan apa pun yang diperintahkan Yesus. 
  • Prinsip etika Yesus adalah prinsip ketaatan. Seperti Yesus taat kepada BapaNya, dan mengaruniakan nama segala nama. Ketaatan adalah sikap yang perlu dibangun, dipelihara dan dipraktekan setiap hari di dalam keluarga.

Aplikasi : Ketaatan kita kepada Allah adalah sikap etika yang dapat menghasilkan mujizat luar biasa.

 

Kesimpulan. Sadarilah, bahwa sebagai orang percaya, kita memiliki nilai-nilai kehidupan yang jauh lebih tinggi standarnya dari pada orang dunia dan untuk bisa menjalankannya. Mintalah pertolongan Roh Kudus, agar kita mampu untuk senantiasa menjalankan setiap nilai-nilai kekristenan yang tertulis di Alkitab, yang adalah firman Tuhan sendiri. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 13 Juni 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : Roma 12:10

Tema         : Menerapkan etika dalam Pelayanan

PENDAHULUAN. 

Memahami Pilar V (Lima) : Menjadikan Jemaat, Imam yang berprinsip Keluarga. Point ke 3 (tiga): Pelayanan dalam Etika. Tentu kita sudah mengetahui  pelayanan dalam etika bahwa dasar kita adalah Alkitab yang didalamnya terdapat landasan etika yang benar yakni Iman & nilai-nilai etika & Etika dapat terwujud karena dalam hidup kita ada Kasih yang sejati. Sebagai imam Tuhan kita dimampukan untuk dapat menerapkan etika dalam pelayanan. Dimana setiap kita dipelengkapi dengan hikmat dari atas dan perbuatan baik- 2Tim. 3:17, 1Pet. 2:12, Yak. 3:12-18.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Menerapkan etika dalam Pelayanan?

  1. Etika dalam Pelayanan yang haruslah dibangun diatas komitmen menerapkan sikap tanggung jawab.
  • Sikap tanggung jawab ini haruslah diwujudkan dalam hubungan kepada Tuhan, gereja dan masyarakat secara konsisten. Dalam kaitan ini, etika pelayanan haruslah melibatkan upaya bertanggungjawab untuk membawa kebaikan tertinggi kepada sesama manusia, khususnya terhadap mereka yang dilayani (Kol.3:23; Gal. 6:1-10).
  • Penting etika pelayanan bagi para hamba Tuhan yang berperan untuk menuntun mereka dalam pelayanan. Cth: bagaimana kita bisa berharap orang bisa mengenal Yesus jika orang sudah terlebih dahulu anti pati melihat sikap kita? Kita harus bisa menjadi contoh teladan. Ini jelas merupakan sebuah tanggung jawab kita sebagai orang percaya.

Aplikasi : Pelayanan yang beretika dapat terlihat dari tanggung jawab kita.

  1. Etika Pelayanan dibangun dengan karakter yang baik.
  • Karakter yang baik yang dimaksud adalah buah Roh Kudus yang terekpresi secara lahiriah- Gal. 5:22-23. Dengan melihat ekspresi lahiriah berupa sikap, kata dan tindakkan seseorang, orang lain dapat menerka karakter macam apa yang ada di dalam dirinya. Rasul Paulus mengatakan dalam I Tim.4:16, keterkaitan di antara nilai diri hamba Tuhan yang terkontrol dan ekspresi lahiriahnya (ajaran-mu), yang sangat berhubungan dengan orang yang dilayani.
  • Seorang hamba Tuhan di dalam pelayanannya tidak hanya mengajar tetapi juga harus menjadi teladan. Jemaat dapat melihat dan mengetahui bahwa apa yang dia ajarkan tidak hanya menjadi sesuatu yang kosong, namun sungguh itu dia hidupi di dalam kehidupannya secara pribadi. Orang yang mencapai ketinggian namun tidak memiliki karakter yang kuat untuk menopangnya pasti akan jatuh.

Aplikasi : Seseorang hidup dengan nilai–nilai Firman Tuhan, tentu ia akan menghasilkan karakter yang baik.

 

  1. Etika dalam Pelayanan dibangun dengan Profesional
  • profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau ciri orang yang professional.
  • Profesionalisme hamba Tuhan merupakan ekspresi etika dalam lingkup tugas pelayanan yang diembannya. Dalam menerapkan etika dan moral Kristen dalam pelayanan, sangat diperlukan adanya suatu cara kerja yang profesional atau memiliki moralitas etis dan semangat yang tinggi.

Aplikasi : Hamba Tuhan yang mengerjakan pelayananya secara profesional akan terus membekali dirinya dan meningkatkan pengetahuan dan juga wawasannya supaya dapat memberikan pelayanan yang terbaik.

 

Kesimpulan. Marilah kita menerapkan Etika dalam Pelayanan dibangun dengan komitmen sikap tanggung jawab, berkarakter yang baik dan disertai profesionalisme. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 6 Juni  2017                  Durasi: 20 Menit

Nats           : 1Korintus 13:4-5

Tema         : Memahami Pelayanan dalam hal Etika

PENDAHULUAN.  

Memasuki Bulan Juni ini kita akan belajar Pilar V: Menjadikan Jemaat, Imam yang berprinsip Keluarga. Point ke 3 (tiga): Pelayanan dalam Etika.

Etika menunjukkan seluruh sikap manusia yang bersifat jasmaniah dan rohaniah. Etika dan sopan santun seharusnya menjadi bagian hidup siapapun. Predikat kita sebagai hamba Kristus tentu harus menjaga sikap dan tingkah laku, etika dan sopan santun. Namun tidak sedikit di antara hamba Tuhan pun masih juga ada yang tidak siap menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruk di masyarakat.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Memahami Pelayanan dalam hal Etika!

  1. Pelayanan dalam hal Etika artinya Pelayanan yang harus dibangun diatas Alkitab sebagai landasan Iman dan nilai/noma yang tertinggi bagi perilaku kita.
  • Mengapa : Iman tanpa perbuatan adalah mati- 2:26. Apabila kita tidak menjaga perilaku dan perkataan kita, maka ibadah kita pun menjadi sia-sia- Yak. 1:26.
  • Mari kita menjadi contoh yang benar, baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia disekitar kita tengah dilanda degradasi moral, krisis tata krama, etika dan sopan santun. Janganlah kita ikut-ikutan terseret kepada hal tersebut, namun jadilah orang yang berbeda dengan dunia, penuh sopan santun dan beretika sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita dimanapun kita berada-II Tim.3:15-17; Maz.1. ikutilah ajaranNya- I Yoh.2:6; Fil.2:5-11

Aplikasi : Sebagai Pelayan / hamba Kristus, jadilah contoh/teladan mengenai etika dan sopan santun.

 

  1. Pelayanan dalam hal etika artinya pelayanan yang secara khusus diwujudkan berdasarkan Kasih.
  • Inti dari kekristenan adalah kasih, dan itulah yang harus menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali. Apa hubungannya kasih dengan sopan santun? Kita baca 1 Kor.13:4-5 dalam kasih itu …. tidak mengenal ketidaksopanan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
  • Contoh : Paulus menasehatkan bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong melainkan tahu etika dan tahu sopan santun-1 Tes. 4:11-12. Kita diminta untuk hidup dengan tenang, tidak mencampuri persoalan orang lain apalagi mengganggu ketentraman orang, mencari nafkah tanpa mengganggu orang lain, dan dengan demikian kita akan hidup dengan sopan, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus pun akan melihat perbedaannya dan menghormati kita.

Aplikasi: Kesopanan dan rendah hati adalah bagian dari kasih yang merupakan inti dari kekristenan.

  

KESIMPULAN. Pelayanan dalam hal etika mencerminkan inti dari kekristenan-Kol.3:6; 1Pet.3:15.-17. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 30 Mei 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : Roma 14:12; Ibrani 4:13; Matius 25:21, 23.

Tema         : Karakteristik Orang Yang bertanggung jawab dalam

                   Tugasnya.

PENDAHULUAN. 

          Melanjutkan materi minggu lalu. Selasa ini kita masih belajar Point kedua: Pelayanan dalam hal Tugas dan Tanggung Jawab. Menurut kamus besar bahasa Indonesia:  Tanggung Jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak sengaja dan perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Misalnya tanggung jawab terhadap Tuhan, tanggung jawab terhadap bangsa/Negara, tanggung jawab terhadap masyarakat, tanggung jawab terhadap keluarga, tanggung jawab terhadap gereja dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Karakteristik Orang Yang bertanggung jawab dalam tugasnya ?

  1. Disiplin diri
  • Kita harus bisa mendisiplinkan diri sendiri agar bisa menjadi orang yang bertanggung jawab. Menjadi orang yang mampu mendisiplinkan diri sendiri berarti mampu menentukan target dan mencapainya tanpa teralihkan. Buatlah daftar berisi tugas yang harus kita lakukan setiap hari lalu selesaikan sebanyak mungkin. Ingatlah apa tujuan akhir yang ingin kita capai agar tetap termotivasi.
  • Jika benar-benar ingin bertanggung jawab, kita perlu memahami cara menghadapi semua tantangan hidup. Ini bisa juga berarti memahami cara bersikap jika terjadi kemalangan atau kesulitan. Berlatihlah menghadapi kesulitan.

Aplikasi : mendisplinkan diri kunci agar kita bisa bertanggung jawab.

  1. Bertanggungjawab terhadap perkataan.
  • Tanggung jawab kita dapat dilihat dari perkataan kita. Melakukan apa yang kita ucapkan, bukan tidak melakukan apa yang telah kita ucapkan-Mat.12:36
  • 12:33-37 Siapa yang masih sering berkata-kata yang negatif? harus dihilangkan kebiasaan yang satu ini. Orang kristen yang bertanggung jawab adalah orang yang bisa menjaga perkataan nya dari hal-hal yang tidak baik. Sebuah perkataan itu punya kuasa- Ams 18:21, dari sebuah perkataan itu, seseorang bisa dinilai  karakternya..

Aplikasi : orang yang bertanggung jawab ciri kedua adalah bisa berubah dalam perkataan.

 

  1. Kebiasaan yang tidak suka menunda dan berdalih
  • Jangan suka mengulur-ulur waktu. Ini adalah ciri-ciri utama dari orang yang tidak bertanggung jawab yang harus kita hindari. Buatlah rencana untuk mencapai tujuan sedini mungkin dan capailah sedikit demi sedikit sesuai jadwal yang sudah kita tentukan. Menunda-nunda adalah suatu kebiasaan buruk yang sering kali berbuntut panjang. Alkitab mengajarkan kita agar jangan suka menunda-nunda. Buatlah ilustrasi.
  • 22:13-kebiasaan menunda-nunda waktu dalam mengerjakan segala sesuatu adalah bukti bahwa ia adalah seorang pemalas. Fakta membuktikan bahwa seorang pemalas selalu punya kiat jitu untuk berdalih atau mengemukakan 1001 alasan seperti ayat nas di atas-Ams13:4, dan karena ia tidak langsung bertindak-Ams.26:14. Cth : Yosua tidak sabar melihat orang Israel yang suka menunda-nunda waktu – Yos.18:3. Kebiasaan menunda-nunda waktu jika terus dipelihara akan sangat merugikan diri sendiri.

Aplikasi : Jangan membiasakan diri menunda-nunda tugas; kerjakan sekarang juga apa yang bisa kita kerjakan saat ini.

 

Kesimpulan. Karakteristik  Orang Yang bertanggung jawab dalam tugasnya adalah displin diri, mampu bertanggung jawab terhadap perkataan dan tidak suka menunda dan berdalih. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 23 Mei 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : Galatia 6:5

Tema         : Memahami Tugas dan Tanggung Jawab

PENDAHULUAN. 

          Minggu ini kita belajar Pilar V: Menjadikan Jemaat, Menjadi Imam yang berprinsip keluarga. Point kedua: Pelayanan dalam hal Tugas dan Tanggung Jawab.

Keimamatan dengan prinsip keluarga berisi tentang bagaimana seorang pribadi yang berdiri di hadapan Tuhan sebagai imam atau pengantara dapat menerapkan prinsip atau nilai-nilai kekeluargaan dalam menjalankan tugasnya ditengah keluarganya, komunitasnya, gereja maupun lingkungannya.

 Sebab setiap orang harus menanggung bebannya sendiriGalatia 6:5. Masing-masing pelayan Tuhan memiliki tugas / tanggung jawab sendiri-sendiri dan berbeda satu dengan lainnya, penuhilah atau lakukanlah semua tugas itu dengan penuh tanggung jawab seperti kepada Tuhan dan bukan kepada manusia- Kol. 3:23.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Memahami Tugas dan Tanggung Jawab?

  1. Tugas dan Tanggung jawab merupakan identitas kita sebagai Hamba Tuhan
  • Ada beberapa orang enggan disebut ‘hamba Tuhan’ atau alergi disebut sebagai hamba Tuha, namun tidak sedikit juga pihak yang lain mau disebut hamba Tuhan tetapi dalam kesehariannya tidak takut Tuhan.
  • Memahami tugas dan tanggung jawab kita sebagai imam Tuhan. Kita tidak lagi melayani sebagai hamba dari allah-allah (ilah) yang hakekatnya bukanlah Allah – Gal. 4:8. Paulus menekankan perbedaan antara kita dengan hamba ilah lain yang sebenarnya bukan Allah.- Rom 6:22. Jika Tuhan adalah tuan kita dan kita hambaNya Kol.3:24. Maka kita mengerjakan tugas kita-Luk 17:9-10 band Gal 1:10, Kol. 3:24; 1 Kor. 7:22-23.
  • Agar kita memahami tugas dan tanggung jawab marilah kita bersedia menjadi hamba Tuhan adan diwujudkan dalam keseharian kita- Mat. 12:18; Luk. 1:38

Aplikasi : memahami tugas dan tanggung jawab mengingatkan akan identitas kita sebagai Hamba Tuhan.

 

  1. Tugas dan tanggung jawab maknanya adalah siap menerima kewajiban atau tugas.
  • Dalam artian disini bahwa ketika seseorang diberikan kewajiban atau tugas, seseorang tersebut akan menghadapi suatu pilihan yaitu menerima dan menghadapinya dengan dedikasi atau menunda dan mengabaikan tugas atau kewajiban tersebut.
  • Tanggung jawab berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Kata Alkitab tentang Tanggung Jawab, Menurut Bil.11:11, tanggung jawab berarti beban, sedangkan dalam ayat 14, tanggung jawab berarti Gal.5:6 ”Sebab masing-masing orang memikul tanggung jawab sendiri”.
  • Kata Hamba Tuhan dalam PL (eved) dan PB (doulos) artinya seseorang yang bekerja untuk keperluan orang lain, untuk melaksanakan kehendak orang lain. Jadi sebagai hamba Tuhan kita bekerja untuk keperluan Tuhan- 1 Kor 4:1, melaksanakan kehendak Tuhan- Rom. 11:36; Ef. 6:6, menjadi milik Tuhan-Luk. 17:9-10, Gal. 1:10; Kol. 3:24 dan bergantung kepada Tuhan- 1 Kor 7:22-23, Mat 7:21.

Aplikasi : memahami tugas dan tanggung jawab mengingatkan bahwa tanggung jawab orang percaya adalah kewajiban, tugas,  beban yang harus ditanggung dan dijalankan dengan setia dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kesimpulan. Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu-Luk 1:38 inilah perkaatan Maria. Mari kita belajar memahami tugas dan tanggung jawab sebagai hamba Tuhan/imam Tuhan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 16 Mei 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : Matius 12:25-26 & Matius 5:22-24

Tema         : Memahami Pelayanan berprinsip kekeluargaan bag-2.

PENDAHULUAN. 

Hal yang perlu untuk diperhatikan para imam-imam Tuhan dalam melayani adalah bagaimana cara kita dalam membangun hubungan. Serta memperhatikan bagaimana hubungan kita dengan Tuhan dan hubungan kita dengan sesama. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib membelah tabir pemisah antara manusia dan Allah. Betapa Allah rindu akan pulihnya suatu hubungan. Allah adalah Kesatuan yang sempurna yang merupakan Kasih.

Berdasarkan Matius 5:22-24, hubungan lebih penting dari pelayanan yang kasat mata. Allah rindu setiap umatnya dipulihkan dalam hal hubungan. Alangkah menyedihkannya jika seseorang berkata bahwa ia mengasihi Tuhan tetapi ia membenci saudaranya-1 Yoh.4:20. Jemaat mula-mula merupakan teladan yang luar biasa mengenai kesatuan hati-Kis. 2:46-47. Mereka berkumpul setiap hari dan bersatu hati. Di ayat 27, setelah dijelaskan mengenai kesatuan, ada tertulis “..Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Artinya Allah bekerja dengan leluasa di dalam kesatuan. Dengan kata lain, Allah akan lebih mempercayakan jiwa kepada kumpulan orang-orang percaya yang bersatu hati.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Memahami Pelayanan berprinsip kekeluargaan?

  1. Pelayanan yang didasari dengan keterbukaan.
  • Sifat Allah adalah terang dan di dalam terang tidak ada yang tersembunyi. Keterbukaan membuka jalan untuk pemulihan-1 Yoh.1:7, Yak.5:16. Keterbukaan dapat menutupi celah-celah yang bisa dipakai iblis untuk menyerang kita. Allah ingin anak-anak-Nya hidup di dalam terang, jujur, tulus, apa adanya, dan tidak memakai topeng.
  • Dalam persekutuan Kristen sejati, kita tidak perlu berusaha menutup-nutupi kekurangan-kekurangan kita. Kita dapat bersikap jujur dan terbuka. Tentu saja, kita tidak terbuka ke semua orang, tetapi hanya kepada orang-orang yang memiliki akuntabilitas dan tanggungjawab atas hidup kita. Dengan keterbukaan, akan terbuka jalan untuk saling mendoakan dan menjagai satu sama lain.

Aplikasi: Pelayanan berprinsip kekeluargaan tentu harus didasari dengan keterbukaan.

 

  1. Pelayanan yang didasari dengan sikap menghargai.
  • Dalam sebuah keluarga sikap menghargai sangat penting. Contoh : Kisah Yusuf dan saudara-saudara. Pada saat orang menyakiti kita apakah kita masih memiliki sikap menghargai ? Pengampunan yang diberikan Yusuf kepada saudara-saudaranya ternyata berdampak baik pula terhadap Yakub, ayahnya. Setelah sekian lama larut dalam kesedihan karena kehilangan anak yang paling dikasihinya, kini bangkitlah semangatnya kembali setelah mendengar kabar bahwa Yusuf masih hidup-Kej.45:27-28. Demikian besarnya dampak pengampunan. Jikalau iri hati berdampak besar untuk menyakiti hati orang lain, maka pengampunan berdampak besar untuk menghadirkan pemulihan dan damai sejahtera dalam hati manusia.
  • Pengampunan bukanlah hal yang sulit jika dilakukan dengan kasih karunia-Matius 18:21-35. Menyimpan akar pahit kepada siapapun akan merusak kehidupan kita dan menghambat pertumbuhan kita. Akar pahit dapat menghambat rencana Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita tidak maksimal.

Aplikasi: Pelayanan berprinsip kekeluargaan tentu harus didasari dengan sikap menghargai (mampu mengampuni).

 

Kesimpulan. Pelayanan berprinsip keluarga adalah didasari dengan keterbukaan dan sikap mengahargai (mengampuni). Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 09 Mei 2017       Durasi: 20 Menit

Nats           : Matius 12:25-26

Tema         : Memahami Pelayanan berprinsip kekeluargaan  bag-1

PENDAHULUAN. 

Memahami pelayanan yang  berprinsip kekeluargaan yang dimaksud adalah bagaimana sikap yang benar di dalam sebuah keluarga misalnya ada sikap saling menghargai, menghormati dan lainnya. Di dalam pilar V (lima) ini, kita akan membangun pelayanan dengan memperhatikan beberapa prinsip, seperti; menghargai dan mempertahankan hubungan yang baik dengan berbagai pihak. Pelayanan kepada Tuhan membawa dampak yang besar, termasuk di dalamnya adalah pemulihan hubungan.  

Pelayanan yang benar tidak ‘asal’ dan akhirnya melukai banyak pihak, pelayanan yang benar harus professional namun tidak eksklusif dan merendahkan keluarga yang lain, karena di dalam prinsip keluarga, kita harus saling menghormati. Pelayanan yang benar harus kudus, namun itu tidak berarti karena merasa kudus sehingga tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan, yang seharusnya gereja harus menjadi terang di dalam dunia. Pelayanan yang benar ‘sedapat-dapatnya, jika itu tergantung padamu, berusalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan’. Dengan hati yang benar, kita memiliki hubungan yang benar dan membawa pada kekudusan hidup yang benar.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Memahami Pelayanan berprinsip kekeluargaan?

  1. Pelayanan yang didasari dengan Kedamaianan bukan pertikaian
  • Dalam hidup bersama dengan keluarga setiap orang tidak akan bisa lepas dari perselisihan, entah besar atau kecil skalanya perselisihan yang terjadi pasti akan dialami. Namun, sebenarnya perselisihan tersebut sesungguhnya dapat semakin mempererat atau justru menghancurkan hubungan keluarga tergantung pada bagaimana masing-masing individu meresponnya. Setiap keluarga memiliki karakter yang berbeda-beda, ada yang sangat sensitif merespon perselisihan ada juga yang sangat toleran terhadap perselisihan. Bila kita tinggal di dalam keluarga yang sensitif terhadap perselisihan, maka satu-satunya cara adalah dengan menghindari penyebab perselisihan tersebut, seperti contohnya utang-piutang.
  • Hindarilah perselisihan. Sebab hal ini hanya menunjukkan bahwa kita masih manusia duniawi 1Kor. 3:3

Aplikasi : Pelayanan berprinsip kekeluargaan tentu harus didasari dengan kedamaian dan menghindari perselisihan.

 

  1. Pelayanan yang didasari dengan kasih
  • Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”, sebuah pepatah yang menggambarkan bahwa persatuan dalam segala hal adalah mutlak adanya, bahwa pertikaian sekecil apa pun bila tidak segera diselesaikan lama kelamaan akan menjadi besar dan akhirnya dapat menghancurkannya.
  • Kasih adalah pengikat persatuan. Dengan kata lain kesatuan dihasilkan dari kasih yang terus menerus mengalir-Kol.3:14-15. Matius 12:25-26 Kesatuan begitu dahsyat kekuatannya. Adanya benih perpecahan, rasa saling tidak percaya, mencurigai satu sama lain, dan kepahitan membuat Gereja tidak maksimal dalam menjalankan panggilannya. Iblis tahu di celah mana dia menyerang anak-anak Tuhan. Untuk itu, kita perlu memandang penting kesatuan Tubuh Kristus dan waspada terhadap perpecahan. Kenakanlah Kristus sebagai pengikat kita bersama.

Aplikasi : Pelayanan berprinsip kekeluargaan tentu harus didasari dengan kasih yang terus menerus mengalir.

 

Kesimpulan. Pelayanan berprinsip keluarga adalah menciptakan kedamaian bukan pertikaian, serta menciptakan kesatuan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Loading...