Materi S2C : Selasa, 13 Februari 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Matius 12:34b; Lukas 6:45b
Tema : Sumber Perkataan
PENDAHULUAN.
Menjadi berkat dengan perkataan harus terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesempatan kali ini kita akan belajar dari mana perkaatan kita berasal atau bersumber.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dari mana perkataan itu bersumber atau berasal dari :
- Hati – Luk. 6:45b; Mat.12:34b
Hati seseorang tercermin dari perkataannya. Apa yang diucapkan oleh mulut seseorang meluap dari hatinya. Oleh karena itu melalui perkataan seseorang, minimal kita akan mengetahui apakah perbendaharaan hatinya itu baik atau tidak, apakah hatinya penuh dengan tipu daya atau tidak.
Orang yang baik akan mengucapkan kata-kata yang baik dan positif –Luk.6:45a, demikian juga sebaliknya. Firman Tuhan mengatakan bahwa pohon yang baik pasti mengeluarkan buah-buah yang baik. Sebaliknya, pohon yang tidak baik/buruk akan menghasilkan buah-buah yang buruk. Demikian juga orang baik akan melakukan perbuatan baik karena di dalamnya (hatinya) hanya ada kebaikan, sedangkan orang jahat hanya melakukan kejahatan karena di dalamnya (hatinya)penuh kejahatan.
Yeh.36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Ijinkan Tuhan mengubah hati kita. Saat kita dekat dengan Tuhan, harusnya kita bisa evaluasi perkataan kita, kapan kita mengeluarkan kata-kata yang tidak membangun- Maz.19:15.
Aplikasi: Maz.141:3 Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!
- Pikiran – Mat.9:4; Ef. 4:23
Keadaan pikiran kita seharusnya seperti yang tertulis dalam Fil 4:8. Kita memiliki pikiran Kristus, mulailah dengan menggunakannya. Dengan senantiasa “mengawasi” pikiran kita. Roh Kudus cepat mengingatkan kita jika pikiran kita mulai menyimpang ke arah yang keliru, kemudian keputusannya terletak kepada kita. Roma 8:5-6 Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
Semakin lama kita mempelajari firmanNya, kita akan semakin sadar tentang pentingnya pikiran dan perkataan. Ams.23:7 menurut Alkitab KJV berbunyi: ,”Sebagaimana dia berpikir dalam hatinya, demikianlah dia”. Pikiran Buruk Menghasilkan perkataan yang Buruk. Umat Israel tidak percaya kepada Tuhan. Sikap mereka berasal dari pola pikir yang salah. Umat Israel terus mengingat tentang asal keberangkatan mereka dan lamanya mereka sampai ke tempat tujuan mereka. Sehingga perkataan yang suka mengeluh dan cepat menyerah pada keadaan. Sadarkah kita bahwa keberhasilan akan sangat tergantung dari cara pandang atau pola pikir kita? Ada keterkaitan kuat antara seberapa besar daya tahan, semangat, daya juang, mental kita dengan apa yang ada di pikiran kita.
Aplikasi : Perkataan kita sangat penting karena mengukuhkan iman kita. Jika pikiran kita baik maka perkataan kita pun akan baik. Jauhkan dari pikiran yang menghakimi orang lain. Sehingga kita tidak mengeluarkan kata-kata yang menghakimi orang lain. Janganlah cemas dan gelisah! agar kita mengeluarkan kata-kata yang penuh Iman.
Kesimpulan. Hati merupakan sumber kehidupan yang harus kita jaga-Ams.4:23. Itu sungguh benar. Namun disamping itu, pikiran kita pun harus bisa kita kendalikan. Jangan sampai pikiran-pikiran kita berjalan liar tanpa terkendali karena itu bisa sangat berbahaya. Disamping itu jika pikiran-pikiran kita hanya berisi hal-hal negatif, maka kita pun akan terus berjalan di tempat, atau bahkan mundur, karena pikiran kita terus membatasi kita untuk maju. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Shalom,
Hadirilah Seminar WBI dengan
Tema “Difteri dan Cara Pencegahannya”
Dengan Narasumber : Dr. Anrih Roi Manthurio Sp. A
Pada Hari Rabu, 7 Februari 2018
Pukul. 17.00 Wita
Tempat : Lamin Bethany Lt.3
Tuhan Yesus Memberkati
Shalom,
Undangan untuk setiap para Wanita,
Mari bergabung dalam Ibadah Wanita Bethel Indonesia (WBI)
Setiap Hari Rabu Pukul. 17.00 Wita
Bertempat di Lamin Bethany Lt.3 – Ruko Mall Lembuswana Blok F23
Ajak Rekan, Kerabat, dan keluarga anda untuk ikut bergabung bersama Ibadah WBI.
Tuan Yesus Memberkati
Untuk 7 Februari 2018
WBI mengadakan Seminar
Tema “Difteri dan Cara Pencegahannya”
Dengan Narasumber : Dr. Anrih Roi Manthurio Sp. AUntuk Tanggal 14 Februari 2018,
Ibadah WBI mempunyai Tema Acara Valentine.
Dengan Dresscode Pink.
Dan Untuk Tanggal 21 Februari 2018,
Ibadah WBI mempunyai Tema Acara Imlek.
Dengan Dresscode Merah.
Materi S2C : Selasa, 06 Februari 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Zakharia 8:16-17; Efesus 4:25
Tema : Cara Berkata-kata menurut Alkitab
PENDAHULUAN.
Bulan ini kita akan mempelajari intisari pilar VII Keluarga Imamat Rajani, yaitu menjadikan Jemaat yang memiliki Nilai-nilai Kerajaan Allah, point kedua adalah Perkataannya Berkuasa. Memasuki bulan Februari ini kita akan belajar bagaimana menjadi berkat dengan perkataan kita. Perkataan berkuasa memberikan kehidupan melalui kata-kata yang jujur dan membangkitkan semangat. Namun, perkataan yang tidak baik dapat juga merusak dan membunuh lewat kebohongan dan gosip.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Bagaimana cara berkata-kata yang menurut Alkitab ?
- Berkatalah yang Benar (baca Ef. 4:25, Zak. 8:16-17)
Berterus terang mengatakan kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Budaya kita sekarang ini telah beralih kepada kepuasan diri sendiri, banyak dari kita yang merasa nyaman jika kita berbohong atau tidak berterus terang kepada orang lain.
Kebenaran memiliki banyak nilai-nilai penting. Kebenaran adalah dasar untuk sebuah kepercayaan, integritas, dan iman. Pada waktu kebenaran diganti dengan kebohongan, maka nilai-nilai tersebut menjadi hancur dan menghilang dari kehidupan kita.
Alkitab menekankan akibat dari bermain-main dengan ketidak-benaran, misalnya larangan berbohong tertulis di sepuluh hukum Tuhan- Kel. 20:16; Tuhan sangat membenci lidah dusta- Ams. 6:17; Semua pendusta akan mendapatkan bagian mereka di dalam lautan api dan belerang- Why. 21:8. Dusta adalah bagian dari manusia lama kita sebelum kita bertobat. Dusta adalah buah dari kedagingan kita yang sudah seharusnya kita tinggalkan seiring dengan bertumbuhnya iman kerohanian kita – Kol. 3:9-10 berkata: “Janganlah kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar khaliknya.”
Contohnya menjadi saksi palsu-1Raj.21:1-16;Mat.26:60-61. Perkataan-perkataan dusta dari para saksi palsu sangat ditentang Tuhan- Kel.20:16. Lidah yang kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh ternyata bisa membunuh Naboth dan bisa pula menyalibkan Kristus. Ams19:5 Kebohongan, Penipuan, Dusta dan Kesaksian yang palsu adalah semua cara yang digunakan Setan untuk menghalangi kemuliaan Tuhan dalam hidup kita.
Aplikasi : Hiduplah dalam Kebenaran Firman Tuhan sehingga kita bisa berkata yang benar dan tinggalkanlah segala dusta.
- Kuasailah Lidah kita (baca Yak.3:7-11)
Kata-kata kita bisa membuat orang lain merasa lebih baik atau lebih buruk-Ams.12:18. Perkataan yang “pahit”, yang seperti ”anak panah” atau ”pedang” untuk menyakiti orang lain –Maz.64:3. Orang yang memiliki nilai-nilai Kerajaan Allah, tidak akan menggunakan kata-kata yang kasar atau menyakitkan, sekalipun untuk bercanda. Bercanda itu baik dan dapat membuat apa yang kita katakan lebih menarik. Tapi, kita tidak boleh mengatakan hal-hal yang mempermalukan atau bahkan menghina orang agar orang lain tertawa. Alkitab melarang umat Tuhan untuk mengeluarkan ”cacian”. Ef. 4:29, 31”Jangan ada perkataan busuk yang keluar dari mulutmu melainkan perkataan apa pun yang baik, untuk membangun sesuai dengan kebutuhan, sehingga itu memberikan apa yang baik kepada para pendengar.”
Aplikasi : Kuasailah lidah hal itu akan menyelamatkan kita dan membuat kita melihat hari-hari baik -I Ptr. 3: 8-10; Mat.12: 36-37, Ams 13:12. dan Tuhan akan memperlakukan kita sesuai perkataan kita-Bil.14:28.
Kesimpulan. Mari kita berkata yang benar sesuai Firman Tuhan dan menjaga lidah kita dengan mengucapkan perkataan yang baik. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Rejoice Creative Ministry (RCM) membuka pendaftaran penerimaan anggota baru Angkatan Tahun 2018 dengan kelas dewasa Kategori A dan Kategori B dengan persyaratan sebagai berikut :
– Jemaat GBI Keluarga Imamat Rajani Samarinda.
– Kelas Dewasa Kategori A usia 12-30 Tahun.
– Kelas Dewasa Kategori B usia 30 Tahun keatas.
– Telah / Siap Baptis Selam.
– Telah / Siap mengikuti Sekolah Orientasi Melayani (SOM).
– Memiliki Komitmen melayani.
Pertemuan pertama akan dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2018.
Untuk informasi pendaftaran dapat menghubungi :
– Sdri. Fang-Fang (0812 5758 9557)
– Sdri. Selvi (0823 5123 8198)

Royal Conference adalah sebuah pertemuan yang diadakan oleh Gereja Bethel IndonesiaKeluarga Imamat Rajani, dengan tujuan untuk memperlengkapi setiap jemaat Tuhan terlebih lagi hamba-hamba Tuhan, dalam hal prinsip “Keluarga”, pelajaran “Keimamatan” dan pengetehuan tentang “Marketplace”.
Pembicara Royal Conference 2018 :
Lingkup Keluarga :
1. Pdt. DR. Julius Ishak Abraham, M.Sc – Peran Suami Isteri Dan Orang tua dalam Perjanjian Allah”
2. Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th – Peran Suami Isteri dan Anak dalam Perjanjian Allah
Lingkup Imamat :
3. Pdt. Ir. Timotius Subekti – Prinsip keimamatan Alkitabiah dalam kehidupan umat Tuhan masa kini
Lingkup Rajani :
4. Pdt. Daniel Prajogo – Prinsip Ekonomi dan Marketplace Kerajaan Allah
KKR 1 :
5. Pdt. Gilbert Lumoindong
KKR 2 :
6. Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th
Dukung dan hadirilah Royal Conference 2018 GBI KelIR se-Indonesia yang dilaksanakan pada :
Hari : Selasa-Kamis, 10-12 April 2018
Biaya Pendaftaran Rp. 100.000/Orang*(Free bagi anak 5 tahun ke bawah)
*Pendaftaran Tutup H-7 Khusus Luar Samarinda dan H-2 Khusus Samarinda (Di luar ini Pendaftaran jadi Rp. 200.000)
Termasuk :
- Penjemputan di Bandara & Akomodasi untuk 3 Malam (Khusus Dari Luar Samarinda)
- 3x makan/hari
- Seminar kits
- Sertifikat
- KKR
Untuk Informasi Pendaftaran & Konfirmasi Pembayaran dapat menhubungi :
1. Pdp. Dewi Setyowati (081296297542)
2. Ibu. Henny Moniaga (081351475117)
3. Bpk. Vany Hendrik Ambanaga (0811585617)
Atau dapat mengakses melalui Aplikasi KelIR Church.
Dan Website Royal Conference di :

“Telah dibuka penerimaan murid baru Mahkota KelIR tahun ajaran 2018/2019”,
Untuk PAUD :
PG A usia 3 tahun
PG B usia 4 tahun
TK A usia 5 tahun
TK B usia 6 tahun
Untuk SD :
Kelas 1 & 2
Dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia serta pengenalan Bahasa inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani.
Fasilitas kami :
– Ruang belajar Full AC
– Training Mini Toilet
– Ruang bermain
PENDAFTARAN di sekolah Mahkota KelIR Jln S.Parman Blok F no.23 Komplek Mall Lembuswana.
Khusus jemaat GBI Keluarga Imamat Rajani Samarinda dapatkan potongan uang masuk sampai dengan 50% sebelum tanggal 10 Febuari 2018
Segera hubungi kami :
Ms. Christine (0811559428)
Ms. Melly (085345402726)
Segera daftarkan putra putri anda sekarang !
Tuhan Yesus memberkati
Materi S2C : Selasa, 30 Januari 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : 1 Timotius 3:1-7
Tema : Karakteristik seorang pemimpin
PENDAHULUAN.
Pilar ke tujuh point satu yaitu kepemimpinan seperti Yesus. Di masa kini, terdapat banyak konsep kepemimpinan. Mungkin ada diantara kita beranggapan bahwa pemimpin harus menjadi orang yang dihormati dan dilayani para pengikutnya. Tanpa hak-hak itu, seorang pemimpin dirasa tidak akan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan ada yang berasumsi semakin otoriter dan berwibawa, maka orang baru merasakan kepemimpinannya. Berbeda dari pemahaman kepemimpinan yang melayani. Dalam nats di atas, rasul Paulus mengajarkan kepada Timotius agar tidak sembarangan dalam menentukan pemimpin-pemimpin rohani di tengah Jemaat, baik itu penilik jemaat maupun Diaken. Oleh sebab itu mari kita mempelajari karakteristik seorang pemimpin
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Apa saja karakteristik Seorang Pemimpin!
- Pemimpin harus punya keteladanan hidup yang baik
Keteladanan melalui kehidupan pribadi- 1Tim. 3: 2-3, 6, 8-10. Sebagai pemimpin perlu memiliki karakter dan kepribadian yang baik, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Keteladanan dalam kehidupan keluarga-1Tim.3:2, 4-5, 11-12. Hal ini juga tidak kalah penting, sebab jika seorang pemimpin itu tidak dapat memimpin keluarganya dengan baik, bagaimana mungkin ia mampu memimpin Jemaat Tuhan.
Menjadi seorang pemimpin ternyata bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih lagi menjadi seorang pemimpin rohani atau pemimpin gereja. Seorang pemimpin haruslah seorang yang bisa menjadi teladan dalam segala hal. Menjadi teladan berarti memiliki perilaku yang sangat baik sehingga tidak ada alasan bagi orang lain untuk menuduhkan suatu kesalahan atau memberikan dakwaan apa pun terhadap dirinya. Seseorang tidak layak menempati posisi sebagai pemimpin dan mengajar orang lain jika ia sendiri tidak menunjukkan tingkah laku yang benar dan rohani.
Karena itu jika kita berkeinginan untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus menjadi teladan bagi orang lain terlebih dahulu. Contoh : Kehidupan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi: mereka paham firman Tuhan dan mengajar orang lain bagaimana hidup benar tetapi mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran-Mat.23:27-28, band 1Tim.4:12b.
- Pemimpin harus menjadi saksi yang membawa berkat
Menjadi berkat bagi orang lain adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin. Karena itulah kita mempunyai tugas menjadi saksi Kristus yang menunjukkan prinsip-prinsip hidup ilahi secara nyata kepada orang lain sehingga mereka melihat Kristen dalam diri kita-1Tim.3:7,4-5. Beri Ilustrasi!
- Pemimpin harus siap menerima Proses
Di samping itu seorang pemimpin rohani “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.”-1Tim.3:6. Seorang pemimpin haruslah orang yang terbukti kemampuannya dan telah teruji kesetiaan dan ketekunannya melalui proses. Itulah sebabnya rasul Paulus melarang untuk menempatkan seseorang yang masih baru pada posisi kepemimpinan. Ia harus ditempa dan dipersiapkan terlebih dahulu melalui ujian demi ujian supaya karakternya benar-benar kuat, dan yang lebih penting lagi dia harus dewasa secara rohani.
Kesimpulan. Jabatan sebagai pemimpin adalah pekerjaan yang indah yang berasal dari Allah. Sebab itu, si pemangku jabatan tersebut haruslah orang-orang yang punya keteladanan hidup yang baik,
Yang menjadi cerminan Allah atau menjadi kesaksian bagi orang lain dan siap menerima proses. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 23 Januari 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Matius 20: 28; Lukas 22:26-27
Tema : Gaya kepemimpinan Yesus
PENDAHULUAN.
Bulan ini kita akan mempelajari Pilar ke Tujuh yaitu menjadikan jemaat berotoritas dengan nilai Kerajaan Allah, point satu yaitu kepemimpinan seperti Yesus. Kepemimpinan Kristen adalah memimpin seperti Yesus telah memimpin, melayani orang yang dipimpin tanpa mengharapkan keuntungan apa pun. Menjadi seorang pemimpin bukanlah proses sehari jadi, tetapi terus berproses hingga benar-benar menjadi pemimpin yang besar dan memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Bangsa dan negeri ini menantikan seorang pemimpin Kristen yang siap melayani, jujur, dan hidup berpusat bagi Kristus dan Injil. Oleh sebab itu, mari kita belajar tentang bagaimana gaya kepemimpinan Yesus di bawah ini.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Gaya Kepemimpinan Yesus !
- Gaya Kepemimpinan Yesus adalah Melayani
Motif dari pelayanan yakni memiliki sikap dan hati seorang pelayan, dan itu tampak sekali dalam kepemimpinan Yesus. Ia mengatakan “ Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. Sebelum Yesus meninggal, Ia memberikan teladan yaitu seorang pemimpin sebagai pelayan dengan membasuh kaki para muridnya satu per satu. Membasuh kaki adalah pekerjaan atau tugas seorang budak dan dipandang oleh masyarakat adalah tugas yang hina. Melalui teladanlah, Yesus mencontohkan kepemimpinan pelayanan dan meminta pengikutnya untuk berbuat demikian juga – baca : Mat.20: 28; Luk.22:26-27
Pemimpin yang memiliki sikap hati melayani ia memperjuangkan nilai-nilai kerajaan Allah, ada kepedulian pada kebutuhan orang lain dan sikap rendah hati. Yesus menanggalkan model kepemimpinan yang suka pamer, kemunafikan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Kepemimpinan yang melayani dan bukan melayani ia mampu memberdayakan orang melalui teladan.
Kepemimpinan yang melayani dan bukan dilayani, melihat kedudukan itu sebagai kesempatan untuk melayani sebesar-besarnya bukannya dilayani sebesar-besarnya. Memimpin berarti melayani untuk kepentingan sesama, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Mengutamakan atau mendahulukan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri. Kepemimpinan Yesus adalah untuk melayani bukan sebaliknya untuk dilayani!
- Gaya Kepemimpinan Yesus adalah kerelaan untuk berkorban
Kerelaan berkorban ini di gambarkan Yesus dengan mengorbankan diriNya. Pemimpin harus berkorban, bukan hanya berkorban waktu, tenaga dan pemikiran tetapi juga untuk berkorban meninggalkan kenyamanan demi meningkatkan kapasitas dirinya. Pemimpin juga tidak takut untuk mengupayakan peningkatan kapasitas pengikutnya. Pemimpin yang melayani bersedia “disamai” oleh pengikutnya. Bahkan mengijinkan pengikutnya untuk bisa mengerjakan hal-hal yang lebih besar daripada dirinya-Yoh.14:12
Pemimpin yang melayani tidak menggunakan pendekatan kekuasaan melainkan memberi dan membagi wewenang. Ia tidak mencari atau mementingkan rasa hormat dari pengikutnya tapi mengedepankan hubungan dan komunikasi dengan mereka-Yoh.10:11-15.
Kesimpulan. Milikilah Hati Seorang Pelayan, semakin tinggi kepemimpinannya, semakin besar pengorbanan yang telah diberikan. Tak ada sukses tanpa pengorbanan. Pemimpin harus rela berkorban dan mau memiliki kerendahan hati memiliki sikap dan hati seorang pelayan atau hamba. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 16 Januari 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Mazmur 132:12
Tema : The Covenant
PENDAHULUAN.
Bulan ini kita akan mempelajari intisari pilar VII Keluarga Imamat Rajani, yaitu menjadikan Jemaat yang memiliki Nilai-nilai Kerajaan Allah. Allah kita adalah Raja di atas segala raja.
PemerintahanNya tetap dan setiap kita yang percaya kepadaNya dijadikanNya anak-anakNya yang berhak meraih janji-janjiNya. Kerajaan Allah memerintah di setiap kehidupan orang-orang yang percaya dan mengasihiNya, sehingga setiap orang percaya seharusnya hidup di bawah system pemerintahan Allah. Sebagai orang-orang Kerajaan Allah, hidup kita harus berbeda dengan dunia ini. Nilai-nilai kerajaan Allah harus berlaku dan memerintah dalam hidup kita.
Tahun kesempurnaan (2017) mengandung pengertian salah satunya adalah kembali pada rencana Allah semula. Dan itulah awal Perjanjian Allah dengan manusia dimulai. Selanjutnya tahun 2018 adalah tahun Perjanjian. Perjanjian dimulai pada awal penciptaan. Kej 1:26-28. Saat Allah membuat perjanjian, Allah pasti akan membawa kita masuk di dalamnya.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Bagaimana caranya?
- Sepakat dengan Tuhan – Kej 1:26
Sepakat berarti menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki/ ciptakan. Manusia adalah gambar (tselem/bayangan) Allah. Manusia (Adam/ateos) berarti berjalan bersama Allah. Jadi seperti bayangan kita, yang selalu ikut dan melakukan apa yang kita lakukan demikian halnya dengan manusia yang seharusnya selalu berjalan bersama Allah, dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki (sepakat dengan Tuhan). Seperti bangsa Israel yang berjalan bersama Allah nenuju tanah Perjanjian. Allah memelihara mereka dan memberkati mereka. Makan dan minum mereka terjamin bahkan kasut mereka tidak rusak meski berjalan terus 40 tahun di padang gurun – Ul. 29:5. Demikian berkat bagi kita yang sepakat dengan Tuhan. Selalu berjalan dengan Allah juga dekat dengan berkat Allah.
- Menerima dan mengasihi pasangan kita- Kej 2:18
Tuhan berkata ‘tidak baik’ manusia itu seorang diri. Tidak baik berarti tidak berharga. Manusia menjadi berarti karena manusia berpasangan. Bukan hanya berpasangan, tetapi mengasihi dan menerima pasangannya. Istri adalah teman seperjanjian bagi suami (Mal. 2:16). Oleh karena itu suami harus mengasihi dan menerima istrinya, demikian sebaliknya. Tahun 2018, doa kita tidak ada lagi jemaat Tuhan yang bercerai. Semua memiliki keluarga yang bahagia. Sehingga berhak menerima janji-janji Allah.
- Hiduplah karena Janji bukan karena susah payah- Kej 2:16
Ketika manusia telah sepakat dengan Tuhan dan mengasihi serta menerima pasangannya, maka janji Tuhan akan menghidupi mereka. Hiduplah karena JanjiNya bukan untuk mengejar kebutuhan hidup yang tidak akan pernah habis.
Untuk hidup dalam janji Tuhan hanya diperlukan iman. Tetapi mengejar kebutuhan memerlukan susah payah. Banyak orang bersusah payah untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak lagi beribadah, tidak lagi melayani dengan sungguh-sungguh, mengorbankan keluarga bahkan kesehatan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi bagi kita, tahun 2018 kita akan hidup karena janji-janjiNya. Meski keadaan sulit, janji Tuhan yang tidak terbatas dan melampaui keadaan kita, akan menyertai dan dinikmati bagi semua orang percaya yang melakukan kehendakNya.
Kesimpulan. Perjanjian Tuhan adalah bagi kita dan keluarga untuk selama-lamanya. Kita hidup bukan untuk mengejar kebutuhan hidup, melainkan karena Janji Tuhan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
