Materi S2C : Selasa, 24 Juli 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Amsal 22:4; 15:33; 29:23
Tema : Berkat dari kerendahan hati
PENDAHULUAN.
Orang yang rendah hati pasti akan menerima berkat-berkatNya- Ams.22:4. Orang yang lemah lembut atau rendah hati termasuk orang yang “akan memiliki bumi”-Mat.5:5, perhatikan dalam menyatakan “kelemah-lembutan”, naskah bahasa Ibraninya juga menggunakan kata yang sama dengan Amsal 22:4.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Berkat dari kerendahan hati?
- Mendatangkan kekayaan dan kemuliaan dan kehidupan.
Untuk menjadi kaya itu adalah kewenangan mutlak dari Allah. Tuhan membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan dan meninggikan juga-I Sam.2:7; Luk.1:52-53; Ams 22:2; 2Kor.8:9. Kaya dari Tuhan yaitu: kaya secara materi dan kaya secara rohani-Ams 10:2, Luk.12:15,21; Why.3:17
Gereja di Smirna, walaupun mereka miskin secara materi, namun mereka kaya dalam Tuhan-Why2:9. Yang dimaksud dengan kaya dalam Tuhan menurut II Korintus 8:7 itu adalah kaya dalam hal: iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu, dan kasih – demikian juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Menjadi kaya dalam kebajikan: adil, setia, berbelas-kasih, sabar- 1Tim.6:18; 2Ptr.1:5-9, dengan meneladani Kristus Yesus-1 Tim. 6:11; 1 Kor. 13:4-7.
Selain mendatangkan kekayaan, kerendahan hati juga mendatangkan kemuliaan atau kehormatan. Contoh: Salomo menuliskan, ”Hasil dari kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan dan kemuliaan dan kehidupan.”- Ams.22:4; Raja Hizkia juga kaya, ia mendapatkan kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar-IITaw. 32:27-30. Demikianlah pengakuan pujian Daud kepada Allah dalam-ITaw.29:10–19.
Beberapa orang lebih suka akan kehormatan manusia dari pada keh ormatan Allah-Yoh.12:43. Janganlah kita mengejar penghormatan dan puji-pujian manusia dengan cara memuji diri sendiri. Biarlah kita melakukan segala sesuatu dengan ketulusan dan kerendahan hati, maka puji-pujian itu akan datang kepada kita-Ams.27:1-2; Ams. 29:23.
Berkat dari kerendahan hati berikutnya adalah mendapatkan Kehidupan-Maz.69:33, 22:26. Mengalami kesejahteraan yang berlimpah-limpah-Maz. 37:11; Zef. 2:3 Kerendahan hati membawa kepada kehidupan- 2Taw.12:6-8,12; 32:26.
Marilah kita belajar melakukan segala sesuatu yang baik dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Ingatlah bahwa kerendahan hati akan mendatangkan berkat kekayaan, kehormatan, dan kehidupan. Berikan ilustrasi!
- Peninggian atau promosi dari Tuhan
Kerendahan hati juga nyata bila kita dengan tulus menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri, menganggap yang lebih utama dari pada dirinya-Fil.2:3. Yesus berkata ”…Barang siapa meninggikan dirinya akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan dirinya akan ditinggikan.”—Mat.23:11-12.
Kerendahan hati menghasilkan keadaan ditinggikan di mata Allah- Yak. 4:10. “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain-Maz.75:7-8.
Kurangnya kerendahan hati telah mengakibatkan banyak kekacauan dan pertikaian, kehancuran antar kelompok dan antar individu, misalnya: Raja Uzia – 2 Taw.26:12-21, sebaliknya dengan menjadi orang yang rendah hati, kita menikmati berkat Tuhan, misalnya : Raja Nebukadnezar- Daniel 4:20-37.
Kesimpulan. Dengan mengikuti teladan dan nasihat Paulus, mengenakan pada diri kita kerendahan hati. Kerendahan hati harus merupakan ciri semua orang percaya-Yak.4:6 Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi.
Materi S2C : Selasa, 17 Juli 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : I Petrus 5:5-6
Tema : Proses terbentuknya kerendahan hati
PENDAHULUAN.
Setiap kita akan mengalami masa pembentukan Allah, untuk dapat melewati masa pembentukan Allah dengan berhasil dibutuhkan karakter kerendahan hati. Banyak orang berkata bahwa mereka rendah hati, tetapi perbuatannya menyangkal perkataan mereka sendiri.
Kerendahan hati berarti kita dapat menerima semua proses Allah dengan baik tanpa bersungut-sungut.Kehidupan kita seperti tanah liat yang siap diproses sampai selesai- Yes.64:8; Yer.18:1-12.
Kerendahan hati juga membuat kita tidak menjadi sombong ketika diangkat Allah karena semua adalah kasih karunia atau anugerahNya semata. Orang yang rendah hati tidak akan mencari pembelaan dari diri sendiri atau manusia, tetapi mencari pembelaan dari Tuhan . Allah menyukai orang yang rendah hati. Belajar menjadi seseorang yang rendah hati juga membutuhkan waktu yang cukup panjang. Berikut ini proses terbentuknya kerendahan hati.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Proses terbentuknya kerendahan hati!
- Rendahkan diri di hadapan Tuhan
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu- Yak.4:10, 1 Ptr 5:5 Ayat ini mengatakan bahwa hendaknya kita merendahkan diri di hadapan Tuhan. Seringkali sebagai manusia ada kalanya kita menginginkan pengakuan atas diri kita atau hasil pekerjaan kita sehingga tanpa sadar kita meninggikan diri di hadapan orang lain. Namun, jika kita merendahkan diri di hadapan Tuhan, menyadari dan menerima bahwa kita tidak sempurna dan karena itu kita memerlukan kasih dan tuntunan-Nya dalam hidup kita, Ia akan memenuhi hati kita dengan kedamaian.
- Kerendahan hati muncul apabila kita memiliki kepedulian akan orang lain dan menganggap orang lain utama.
“… Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”- Fil.2:2-4
Kerendahan hati tidak dapat dipisahkan dari kepedulian atau kasih untuk orang lain. Terkadang sifat “mencintai” diri sendiri-2Tim.3:2a membuat pikiran orang terlalu fokus pada dirinya sendiri. Tidak demikian halnya dengan orang yang rendah hati. Kerendahan hati membuat seseorang menjadi lebih peduli dengan sekitarnya, sehingga dapat lebih menyatu atau “satu hati” dengan komunitasnya, baik itu keluarga, teman-teman, rekan kerja. Berikan ilustrasi!
- Pengenalan akan Kristus membawa pada kerendahan hati
1 Kor.15:9-11, Ef.3:8 – Dalam prosesnya melayani Tuhan dan pengenalan akan Kristus yang terus bertumbuh, membuat Rasul Paulus tidak bermegah atas dirinya sendiri. Sebaliknya, ia memilih untuk bermegah dalam Tuhan-Roma 5:11; 1Kor.1:31; 2Kor.10:17; Yer.9:23-24. Tanpa adanya kesadaran bahwa kita adalah manusia berdosa dan karena itu memerlukan Tuhan dalam hidup kita. Kesadaran ini pun muncul dari kerendahan hati-Gal.6:14.
Kesimpulan. Sekarang kita sudah lebih memahami apa yang Alkitab katakan mengenai merendahkan diri atau hati kita, terutama di hadapan Tuhan. Hendaknya firman Tuhan ini kita tanamkan dalam hati kita dan kita praktikkan dalam keseharian agar kita dapat menjadi semakin serupa dengan karakter Kristus. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 10 Juli 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Mazmur 119:71
Tema : Ciri kerendahan hati yang sejati bagian 2
PENDAHULUAN.
“Kerendahan hati” dalam bahasa Ibrani berasal dari kata dasar: Anah, berarti: dibuat menderita, direndahkan, ditindas. Kata-kata turunannya diterjemahkan secara bervariasi menjadi “kerendahan hati”, “kelembutan hati”, “penderitaan”, dan lain-lain. Bentuk nominanya adalah: Anav, berarti seorang yang rendah hati dan seorang yang lemah lembut. Dua kata kerja Ibrani lain yang berkaitan dengan “kerendahan hati” ialah Kana, harfiah, menundukkan diri; Shafel, harfiah: merendah atau menjadi rendah. Dan Rafas artinya merendahkan diri, menundukkan diri.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Ciri kerendahan hati yang sejati bagian 2:
- Tunduk/Taat
Kita berupaya memupuk kerendahan hati yang sejati, kita sadar bahwa upaya keras diperlukan untuk membuat kerendahan hati sebagai gaya hidup. Hal itu mencakup selalu tunduk kepada kehendak Allah ketimbang mengikuti haluan termudah atau menyerah kepada kecenderungan kedagingan/dosa. Taat/ Ketaatan adalah sikap tunduk kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang dituntut, atau menjauhkan diri dari apa yang dilarang-Mrk.12:28-34; Kis.5: 29; Titus 3:1
Kepatuhan terhadap kekuasaan yang ditegakkan Allah dalam (1) Keluarga –Ef. 5:22; 6:1, bdg 2 Tim.3:2, (2) Gereja-Fil. 2: 12; Ibr.13:17, dan (3) Negara –Mat.22:21; Roma 13:1; 1 Ptr 2:13; Titus 3:1.
”Yesus merendahkan diriNya dan taat sampai mati”-Fil. 2:8. Yesus telah meninggalkan pola kerendahan hati. Yesus dengan rendah hati ”terus tunduk kepada orangtuanya”-Luk. 2:51 Sungguh teladan yang harusnya dicontoh bagi anak-anak! Allah pasti akan memberkati mereka jika mereka rela menaati orang tua. Setelah dewasa, Yesus memperlihatkan kerendahan hati dengan selalu mentaati kehendak BapaNya, bukan kehendaknya sendiri-Yoh. 4:34.
Selama masa pelayanannya, Yesus tidak hanya mengajar orang lain untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah, tetapi ia sendiri juga menerapkannya. Yesus sering mengatakan bahwa tidak ada satu pun yang dapat ia lakukan tanpa bantuan Bapanya– Yoh. 5:19.
- Ciri-ciri orang yang rendah hati adalah mengandalkan Tuhan
Orang yang rendah hati mengerti bahwa kemampuannya terbatas sehingga selalu bergantung kepada Tuhan-Yer.17:7; Daniel 11:32. Kerendahan hati yang dikembangkan dengan tulus di hadapan Allah akan membuat kita dapat melewati masa pembentukan dengan baik dan menikmati berkat yang Tuhan siapkan bagi kita. Memiliki kerendahan hati maka Tuhan akan memampukan untuk melewati proses pembentukan karakter dan melihat pembelaan Tuhan atas setiap masalah.
Salah satu kekuatan kita adalah kerendahan hati oleh sebab itu lewatilah semua masa pembentukan Allah dengan merendahkan diri kita di tangan Tuhan yang kuat, supaya kita ditinggikanNya pada waktunya. Dan “Allah mengasihani orang yang rendah hati”- Ams. 3:34; IPtr5:5b.
Kesimpulan. Apakah kita akan mengikuti pola yang ditetapkan oleh Sang Teladan kita dan memperlihatkan kerendahan hati? Jadi, kalau ingin selamat, diberkati, kita harus rendah hati. Dan, sama seperti Yesus, kalau kita rendah hati, bukan kita saja yang akan menuai manfaatnya, tetapi orang lain juga. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 03 Juli 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Matius 11:29-30; Kolose 3:12
Tema : Ciri kerendahan hati yang sejati bagian 1
PENDAHULUAN.
Bulan Juli kita akan mempelajari intisari pilar VIII (8) Keluarga Imamat Rajani, yaitu menjadikan Jemaat yang berotoritas dengan Prinsip Keluarga, point ke–ketiga: “Kerendahan hati mendahului kehormatan”.
Paulus menasihati ”karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran-Kolose 3:12.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Ciri kerendahan hati yang sejati bagian 1:
- Kelemahlembutan
Kelemahlembutan berkaitan erat dengan ’kerendahan hati’. Sebaliknya, keangkuhan membuat seseorang suka meninggikan diri dan bisa jadi sering memperlakukan orang lain secara kasar dan tak berperasaan- Ams. 16:18-19. Yesus mempertunjukkan kerendahan hati sepanjang pelayanannya. Kelemahlembutan dan kerendahan hati memang seiring sejalan. Ef. 4:2 mengingatkan kita, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Sikap rendah hati dihadapan Allah membuat kita mau bersikap lemah lembut kepada orang lain, terhadap teguran, mau diajar atau dididik dan berani mengakui kesalahannya.
Yesus itu “lemah lembut dan rendah hati”-Mat.11:29. Orang yang lemah lembut juga terlihat dengan sikap hati yang mudah mengampuni. Yusuf tokoh yang memberikan keteladanan dalam hal pengampunan. Dan orang yang lemah lembut adalah orang yang bersedia mengakui kesalahannya, misalnya: Daud-Maz.32:5; 2Sam.12:7-14; bandingkan dengan Saul ketika ditegur mencari pembenaran diri sendiri-1Sam.15:20-22, 24.
Karena kelemahlembutan adalah bagian dari buah Roh, Rasul Petrus menulis bahwa ”roh yang tenang dan lembut” itu ”sangat berharga di mata Allah”-1Pet.3:4 Sesungguhnya, kelemahlembutan adalah sifat ilahi; Allah sangat menghargainya. Tentulah, hal ini saja sudah merupakan alasan bagi semua hamba Allah untuk memupuk kelemahlembutan.
- Tidak Menyombongkan diri
Ada beberapa kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “rendah hati” atau “kerendahan hati”, contoh: Anavah: Kerendahan hati, kelemahlembutan; Shafel : merendahkan hati.”Rendah hati” adalah kata lain dari “tidak sombong” dan “tidak memegahkan diri” Yak.4:16; Yer. 9:23-24 yang adalah sifat dari Kasih.
Sikap Rendah Hati itu sebuah sikap yang bebas dari kesombongan atau arogansi. Ini bukan kelemahan melainkan keadaan pikiran yang menyenangkan Allah. Karena Allah adalah Kasih. Salah satu sifat Allah ialah rendah hati. Hal ini bukan karena Ia rendah diri atau harus tunduk kepada pihak lain, tetapi Ia rendah hati dalam hal Ia memperlihatkan belas kasihan dan keibaan hati.
Kerendahan hati berarti sifat tidak sombong atau tidak angkuh, sikap untuk selalu terbuka dalam mendengarkan nasihat dan belajar dari setiap kesempatan, dari siapapun, di manapun, kapanpun. Allah berkenan kepada orang-orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya. Sebaliknya Allah menentang orang-orang yang menyombongkan diri- Yak.4:6-8,10; 1Pet. 5:5.
Kesimpulan. Sebagai murid Kristus, harus dapat mencerminkan sifat Kristus, dan mengikuti teladan-Nya. Seorang Kristen yang sejati akan selalu mempraktikkan sikap yang rendah hati. Kerendahan hati sangat berharga di mata Allah. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 26 Juni 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : 1 Petrus 2:21
Tema : Dampak keteladanan
PENDAHULUAN.
Keteladanan Paulus, Lois dan Eunike kepada Timotius menjadi pelajaran yang penting untuk menjadi dasar setiap pengajaran dalam keluarga. Paulus telah membentuk iman Timotius sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan dilakukannya.
Teladan memang sangat mudah menular. Apa pun yang kita perbuat bisa jadi diamati dan ditiru oleh orang lain. Oleh karena itu, kita akan berhati-hati supaya yang kita tularkan itu bukanlah suatu teladan yang buruk. Kematangan diri seseorang tampak dari kepekaannya tentang teladan dan apa yang ditularkannya kepada orang lain. Iman orangtua tidak serta merta menjadi iman anak. Mereka bisa saja hanya meniru, tanpa sungguh menggengam dan memiliki iman itu untuk diri mereka sendiri. Yakinkah orangtua kalau iman anak sudah menjadi milik mereka? Maka perlu teladan yang berkesinambungan.
Teladan yang baik datang dari Yesus. Yesus memberikan suatu dampak teladan yang baik kepada para murid dan kepada orang-orang yang mengikut-Nya.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dampak keteladanan?
- Perubahan perilaku yang semakin baik
Dalam perjanjian Lama, Allah memilih bangsa Israel dari antara bangsa-bangsa untuk menjadi contoh suatu bangsa yang beradab dan bermoral sehingga nama Tuhan dimuliakan-Roma 2:24. Alkitab banyak mengajarkan tentang keteladanan-Mat.5:16-18, I Tim.4:12; II Tim.3:10; I Ptr.2:12. Dampak keteladanan dalam mengubah perilaku seseorang telah diajarkan oleh Allah. Segala sesuatu yang diajarkan Allah pasti berdampak. Keteladanan dipakai untuk mengubah perilaku seseorang. Mari kita berikan contoh yang baik kepada orang-orang disekitar kita sehingga menarik mereka kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Teladan Yesus yang rela berkorban sangat mempengaruhi rasul Paulus. Ia memberi tahu orang-orang Kristen di Korintus, mengenai aku, dengan senang hati aku mau menggunakan segala yang kumiliki dan aku mau digunakan sepenuhnya bagimu-2Kor.12:15. Berikan ilustrasi!
- Memberi pengaruh yang baik bagi kehidupan orang lain.
Kamu menjadi teladan bagi semua orang yang percaya di Makedonia dan Akhaya-1 Tes.1:5-7. Rasul Paulus menulis kata-kata ini kepada orang-orang Kristen yang setia di Tesalonika. Teladan yang mereka berikan bagi rekan-rekan seiman benar-benar patut dipuji. Namun, sebenarnya, orang-orang Tesalonika sendiri menanggapi teladan yang diberikan Paulus dan rekan-rekannya. Paulus berkata, ”Kabar baik yang kami beritakan tidak sampai ke tengah-tengah kamu melalui perkataan saja tetapi juga dengan kuasa dan dengan roh kudus serta keyakinan yang kuat, sebagaimana kamu tahu orang macam apa kami bagimu demi kepentinganmu; dan kamu menjadi peniru kami.
Kehidupan Rasul Paulus sendiri adalah suatu bukti—teladan iman, ketekunan, dan sikap rela berkorban. Itulah sebabnya, Paulus dan rekan-rekannya menjadi pengaruh yang penuh kuasa atas kehidupan orang-orang Tesalonika.Paulus menulis kepada orang-orang Tesalonika, ”Kamu, saudara-saudara, menjadi peniru sidang-sidang jemaat Allah yang ada di Yudea dalam persatuan dengan Kristus Yesus, karena kamu juga mulai menderita hal yang sama di tangan orang-orang senegerimu, sebagaimana mereka juga menderita di tangan orang-orang Yahudi- 1 Tes. 2:14. Sudahkan kita membawa pengaruh yang baik? baik dalam keluarga, gereja dan lingkungan dimana kita berada sehingga orang lain juga merasakannya?
Kesimpulan. Jadikan Kristus sebagai panutan, teladan dan standart tertinggi tujuan iman dan kerohanian kita. Filipi 3:17 “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu”. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi.
Materi S2C : Selasa, 19 Juni 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : 1 Timotius 4:12
Tema : Cara menjadi teladan sesuai Firman Tuhan-bag. 2
PENDAHULUAN.
Sekarang telah terjadi krisis terbesar di dunia, yakni krisis keteladanan. Keteladanan dari sifat dan perbuatannya sehari-hari yang terlihat dalam hidup kita. Yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh mana keteladanan diterapkan?
I Timotius 4:12 berkata “jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda, Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Cara menjadi teladan sesuai Firman Tuhan bagian kedua!
- Teladan menderita
Yohanes 16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. Tuhan Yesus sudah lebih dahulu menyatakan bahwa selama kita hidup di dunia ini kita akan dihadapkan pada masalah dan kesukaran. Namun sebagai orang percaya kita tidak perlu takut dan cemas, karena tiap-tiap kita yang ada di dalam Kristus mempunyai jaminan kemenangan.
Sikap hati seperti Tuhan Yesus adalah sikap hidup yang harus diteladani oleh setiap pengikut-Nya.Mereka harus rela kehilangan hak-hak menikmati berbagai yang dianggap sebagai kesenangan hidup dan tidak lagi mencari kehormatan di mata manusia demi tugas yang harus diemban. Sudah waktunya melangkah dan bertindak dengan iman, mengalami firman dan mengimani janji-janji Tuhan. Bila Iblis mulai menggoncang kita dengan masalah dan tekanan-tekanan jangan menyerah dan melarikan diri.
- Teladan Kemurahan Hati.
Dalam hal mati-Nya, Yesus tidak saja menyerahkan segala kemuliaan-Nya, tetapi kekayaan yang la miliki-II Kor. 8:9. la lahir dalam kemiskinan-Luk. 2:6-7, Mat. 2:23, Mat. 8:20. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang-Mat.20:28. Ia memberi semua, karena la murah hati. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan- Nya- II Korintus 8:9. Tuhan mengajarkan kita sebagai orang Kristen untuk bermurah hati dengan tidak membeda-bedakan dan juga tidak menunda kebaikan itu-Ams. 3:27.
Matius 5:7 mengatakan, berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan. Menurut KBBI, kemurahan berarti kebaikan; kelimpahan; hati kebaikan hati; sifat kasih dan sayang; kedermawanan. Salah satu ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus, dia akan memiliki kemurahan hati kepada orang lain. Dia akan lebih peka dan memiliki empati yang besar kepada sesama dan memiliki belas kasih dalam hatinya, maka ia pun akan beroleh kemurahan. Berikan ilustrasi!
Kesimpulan. Marilah kita mengikuti teladan-Nya untuk rela menderita dan kemurahan hatiNya. Kita selalu mengingat akan Tuhan Yesus dalam setiap hari, mulai dengan hari ini. Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita-Roma 8:18. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 12 Juni 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Filipi 3:17-4:1
Tema : Cara menjadi teladan sesuai Firman Tuhan-bag. 1
PENDAHULUAN.
Keteladanan berasal dari kata “teladan” yang memiliki arti sesuatu yang patut ditiru untuk dicontoh tentang perbuatan, kelakuan, sifat dan lain sebagainya. Sedangkan keteladanan merupakan perilaku seseorang yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan atau dijadikan contoh bagi orang yang mengetahuinya atau melihatnya.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Cara menjadi teladan sesuai Firman Tuhan bagian kesatu?
- Teladan Pengampunan
Yudas salah seorang murid yang telah mengkhianati dan menjual Yesus ke tangan musuh-musuh-Nya, walaupun Yudas seperti itu, tetapi Yesus tidak menghardik, tidak mencaci maki, tidak mengancam dan tidak mengutuki Yudas, melainkan menyapanya dengan kata “teman”-Mat.26:50. la tidak saja mengajar, bahwa kita harus mengampuni musuh kita-Mat.18:21-35, bahkan berlaku baik bagi mereka-Luk.6:27-28, 35-36, tetapi la sendiri sampai saat matipun memberi teladan pengampunan. Kepada orang-orang yang menyalib-Nya, Ia menyalurkan pengampunan melalui doa-Nya-Luk.23:34.
Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesama manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu-Mat 5:43-44. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh bagaimana Ia memohon pengampunan untuk orang-orang yang menyalibkanNya-Lukas 23:34. Begitu pula, Stefanus juga berdoa untuk pengampunan orang-orang yang merajamnya-Kis.7:60. Dalam kedua contoh ini, doa disampaikan kepada Allah untuk kebaikan orang yang menyakiti Yesus dan Stefanus.
Kita bisa berdoa demikian untuk orang yang berbuat jahat kepada kita agar mereka juga mendapat kesempatan untuk menemukan jalan kebenaran. Marilah kita mengasihi musuh (musuh berarti seseorang yang dibenci, mungkin karena menyebabkan kerugian, sakit hati, kekecewaan, orang yang tidak menyukai diri kita dan lainnya), dan mendoakan mereka yang menganiaya kita, dengan demikian membuktikan bahwa kita adalah anak-Nya. Roh kudus yang ada dalam diri kita akan memampukan kita untuk melakukan semuanya itu di dalam Kristus Yesus. Dengan itulah kita mengetahui : Allah ada didalam kita dan kita didalam Allah-1 Yoh2:4.
- Teladan Kerendahan Hati
Rasul Paulus mengungkapkan, bahwa Yesus yang adalah Allah tidak menganggap keallahan-Nya sebagai milik yang perlu dipertahankan, tetapi Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib-Fil. 2:6-8.
Untuk menjadi manusia dan mati di kayu salib adalah teladan kerendahan yang tiada taranya, karena Tuhan Yesus rela menanggalkan semua kemuliaan Allah-Yoh.17:5. Kita pun dipanggil untuk melayani dengan rendah hati-Yoh. 13:1-17. Oleh karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya-I Ptr 5:6. Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat-Mzm.37:11.
Kesimpulan. Inilah cara menjadi teladan sesuai dengan Firman Tuhan yakni teladan pengampunan dan kerendahan hati. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 05 Juni 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Yohanes 13:15
Tema : Tujuan Keteladanan
PENDAHULUAN.
Bulan Juni kita akan mempelajari intisari pilar VIII (8) Keluarga Imamat Rajani, yaitu menjadikan Jemaat yang berotoritas dengan Prinsip Keluarga, point ke–dua: “Kebesaran” dari keteladanan. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan (contoh, pola; salinan, tiruan, gambaran, model) kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu-Yoh.13:15. Mengikut Yesus berarti mengikut jejak-Nya. Mengikut jejak-Nya berarti mencontoh atau meneladani seluruh gaya hidup-Nya.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Tujuan Keteladanan!
- Tujuan Keteladanan pertama : menggenapkan Kehendak Allah
Tuhan menghendaki apa yang dilakukan juga dilakukan orang percaya: sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu-Yoh.13:15. Memfokuskan diri kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, hidup untuk melaksanakan kehendak-Nya. Oleh sebab itu pikiran orang percaya jangan sampai disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus seperti Hawa diperdaya oleh ular -2 Kor.11:3.
Bagaimana pun keadaan hidup kita dan dunia di sekitar kita, kita harus tetap memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya, hidup hanya untuk menyenangkan Tuhan dan memuaskan hati-Nya. Harus rela kehilangan hak-hak menikmati berbagai yang dianggap sebagai kesenangan hidup dan tidak lagi mencari kehormatan di mata manusia demi tugas yang harus diemban yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan tugas kehidupan yaitu pengabdiannya untuk hidup melayani bagi kehendak dan kepentingan Tuhan. Itulah teladan yang telah diberikan Yesus. Berikan ilustrasi!
- Tujuan keteladanan kedua : agar hidup kita diteladani orang (membawa dampak atau pengaruh yang baik bagi orang lain)
Dalam 1 Petrus 2.21 “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya”. Kita harus meneladani Tuhan Yesus, supaya kita pun dapat diteladani oleh semua orang dan membawa mereka semakin serupa seperti Tuhan Yesus.
Firman Tuhan juga mengajar orang percaya juga menjadi teladan bagi orang percaya lain-1Tes.1:7; 1Tim.4:12; Titus 2:7. Hidup kita harus menjadi surat yang terbuka yang dapat dibaca semua orang-2Kor.3:3. Melalui hidup kita orang dapat membangun dirinya semakin melekat kepada Tuhan. Berilah ilustrasi!
- Tujuan keteladanan kedua : teladan dapat menunjukkan identitas kita.
Kita mengenakan teladan kehidupan Tuhan Yesus dan semakin serupa dengan gambar-Nya. Tidak lagi serupa dengan dunia ini, tidak lagi mencintai dunia, mempersiapkan diri, berjuang setiap hari mengarahkan hidup menjadi mempelai Kristus yang layak menyambut kedatangan-Nya, menjadi umat yang berlaku tidak bercacat dan tidak bernoda yang selalu bisa mengenakan nilai-nilai kekudusan/kesucian menurut standar Tuhan didalam kehidupannya. Sebab tanpa hal ini mereka tidak pernah dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah-Ibr.12:14.
Kesimpulan. Jadi dengan demikian orang yang percaya kepada Tuhan Yesus artinya kesediaan memberi hidup mengikuti teladan hidup yang telah Tuhan Yesus berikan. Tujuan Keteladanan adalah menggenapkan kehendak-Nya/panggilan Allah dalam hidup kita, menjadikan hidup kita teladan bagi orang (membawa pengaruh yang baik) dan dengan keteladanan kita bisa menunjukkan identitas kita sebagai umat Tuhan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
Materi S2C : Selasa, 22 Mei 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : 1 Raja-raja 21:1-29
Tema : Faktor-faktor yang dapat mengorbankan keluarga
PENDAHULUAN.
Prinsip keluarga di dalamnya ada kasih dan saling menghormati, memperhatikan dan memelihara, demikian hendaknya setiap otoritas yang kita dapatkan dari Allah dilakukan dengan penuh kasih, tetap menghormati yang lain sebagai saudara, saling memperhatikan sehingga tidak ada yang mengorbankan pihak lain demi tujuan atau kepentingan pribadi maupun golongan. Demikianlah otoritas kerajaan Allah dalam penerapannya dengan prinsip keluarga.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Faktor-faktor yang dapat mengorbankan keluarga?
- Penyembahan Berhala
Ahab menyembah berhala, dan itu adalah dosa yang sangat besar. Izebel mendorong Ahab untuk menyembah berhala-berhala, sedangkan dia sendiri memastikan semua nabi Allah (yang dapat ditangkapnya) dibunuh-1Raj.18:4. Ia menikahi raja Ahab dan mempengaruhinya untuk berbalik dari Allah. Arti dari penyembahan berhala salah satunya adalah tidak Menghormati Allah. oleh sebab itu Allah memerintahkan bangsa Israel untuk menghancurkan setiap berhala yang mereka jumpai ketika menundukkan bangsa-bangsa lain. Allah juga melarang pernikahan campur dengan bangsa lain yang menyembah ilah.
Sebagai orang percaya yang hidup dimasa kini, kita tentu tidak pernah membuat allah tuangan, tetapi ketika pekerjaan, kegiatan usaha, atau kegiatan lain menjauhkan kita dari relasi yang akrab dengan Tuhan, maka hal itu berarti berhala. Demikian juga jika uang atau hobi telah menghalangi pertumbuhan kerohanian kita, maka hal itu telah menjadi ilah -Ef.5:5.
Alkitab sangat menekankan dua aspek kehidupan manusia yang tidak mungkin dipisahkan. Relasi manusia dengan Tuhan, dan relasi manusia dengan sesamanya. Itulah sebabnya siapa yang merasa diri telah begitu dekat dengan Tuhan, mengasihi Tuhan, merindukan Tuhan, tetapi tidak tercermin di dalam kerelaan untuk memedulikan sesama dan mengasihi manusia, dia tidak akan diperkenan oleh Tuhan-Mat. 22:36-39; Ul.6:5; Im19:18. Allah juga menganggap kejahatan seseorang kepada orang lain sama seriusnya dengan penyembahan berhala dan patut dihukum sangat berat.
Tuhan tidak membiarkan kejahatan Ahab, Allah mengirimkan Elia untuk mengatakan hukuman atas Ahab dan Izebel. Ahab akan meninggal dan darahnya akan dijilati oleh anjing-anjing; keturunannya pun dilenyapkan-1 Raj.21:17-22, 22:29-40; 2Raj.10.
- Memperbudak diri untuk melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.
1Raj.21:25mengatakan bahwa Ahab memperbudak diri melakukan yang jahat karena dipengaruhi istrinya. Dia tidak punya pendirian yang kuat. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Seumur hidup terus dipengaruhi oleh orang lain sehingga dia tidak pernah bisa bebas dari dosa. Biarlah kita pun mewaspadai hal ini. Mungkin kita juga dikuasai oleh banyak “Izebel-Izebel” yang lain di dalam hidup kita. Mungkinkah itu pasangan hidup yang terus memberikan pengaruh yang menjerumuskan kita ke dalam dosa? Mungkinkah itu rekan-rekan di lingkungan kita belajar atau bekerja? Tekanan kelompok begitu berat sehingga kita mengikuti cara hidup mereka.
Tuhan memandang Ahab bersalah sama seperti Tuhan memandang Izebel bersalah. Tidak peduli kita melakukan karena pengaruh siapa, semua orang harus bertanggung jawab untuk keputusannya sendiri, walaupun keputusan itu adalah hasil pengaruh orang lain. Ketika mendengar teguran, Ahab berbalik kepada Tuhan. Permohonan ini membuat Tuhan tergerak, & menunda kebinasaan bagi Ahab –Raj. 21:29. Akan tetapi dosa-dosanya yang telah sangat besar membuat Tuhan tidak mau menarik kembali hukuman untuk menghancurkan keluarga Ahab-2Raj.10
Kesimpulan. Marilah kita perhatikan Faktor-faktor yang dapat mengorbankan keluarga adalah apabila kita masih hidup daam penyembahan berhala, dan memperbudak diri dengan kejahatan atau dosa, sehingga kita dan generasi berikutnya tidak menikmati berkat melainkan kebinasaan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi.
Materi S2C : Selasa, 15 Mei 2018 Durasi: 20 Menit
Nats : Kejadian 45:1-28
Tema : Cara berjalan sukses antara tujuan dan keluarga
PENDAHULUAN.
Kesuksesan adalah kemampuan untuk merealisasikankan seluruh aspek kehidupan yang terintegrasi (kesatuan) secara utuh-3 Yoh.1:2-4. Aspek-aspek kehidupan yang perlu perhatikan, yaitu: keluarga, pekerjaan, keuangan, kesehatan yang baik, relasi dengan sesama, spiritual atau rohaninya sehat dan lainnya.
Mengabaikan satu dari aspek-aspek ini dapat berakibat fatal. Sebagai contoh: menyedihkan bila sukses dalam pekerjaan tapi gagal dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga, atau banyak harta tetapi kesehatan buruk dan lainnya. Semua orang menyukai kesuksesan. Berbagai caraditempuh agar sukses dapat diraih. Ada yang memakai cara yang benar. Tapi tidak sedikit yang menhalalkan segala cara demi meraih sukses dalam hidup. Yusuf adalah salah satu contoh orang sukses mencapai antara tujuan dan keluarga, proses yang dialaminya tidaklah mudah.
Tidak ada masalah dengan kata sukses dan tidak masalah jika seseorang menginginkan sukses. Pemahaman yang benar tentang sukses berdasarkan Firman Tuhan akan mendorong kita berkarya dan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita dan pemakaian Tuhan atas hidup kita-Ul.8:18.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Cara berjalan sukses antara tujuan dan keluarga!
- Penyertaan dari Allah
Kunci kesuksesan dari Yusuf adalah penyertaan Allah dalam hidupnya, baik dalam mencapai tujuan dan membangun keluarga. Hal ini terlihat dalam proses kehidupannya sampai tercapai tujuan yang seperti di rencanakan Allah melalui mimpinya.Kesuksesan adalah cara Allah mencukupi kebutuhan umat manusia dan uang bukanlah ukuran utama dalam kesuksesan. Yusuf selalu sadar akan keberadaan Allah dan yakin akan penyertaanNya-Kej. 45:8; 39:3-4, 21-23, 41:16
- Menerapkan prinsip-prinsip sukses melalui Firman Tuhan
Yusuf mengikuti prinsip Allah, hidupnya dipenuhi dengan Roh Allah, ia takut akan Allah-Kej.41:38-39. Sukses dimulai dari cara hidup kita. Menerapkan prinsip-prinsip sukses melalui Firman Tuhan dapat kita pelajari selain dari Yusuf, ada kisah dari Abraham yang diberkati dengan kelimpahan dan kekuasaan-Kej.14, Ayub yang sangat kaya setelah berhasil melalui ujian atau proses tambah diberkati dengan berpuluh-puluh kali lipat-Ayub42:12-16. Mereka adalah orang-orang yang bisa mencapai tujuan dan membangun keluarga yang berkenan kepada Allah.
Apabila kita ingin sukses antara tujuan dan keluarga dapat dimulai dengan menerapkan prinsip-prinsip sukses melalui Firman Tuhan, sehingga tujuan kita tercapai dan keluarga kita mengalami berkat Tuhan. Berilah ilustrasi!
- Memiliki Karakter yang baik
Membangun karakter sama dengan membangun kehidupan. Karakter Allah adalah dasar dari segala sesuatu. Dalam memenuhi kehendak Allah, bekerja, membangun hubungan, membangun keluarga dan dalam segala sesuatu termasuk keberhasilan atau kesuksesan. Tujuan-tujuan mulia yang lahir dari hati nurani yang murni, seringkali bertahan dan meraih sukses- Kej. 45:4-5.
Dunia cenderung mengukur sukses menurut ketenaran serta kekayaan, Allah mengukur sukses menurut hubungan karakter, serta ketaatan. Ia menghendaki kita sukses terlebih dulu dan terutama dalam hubungan kita dengan-Nya, lalu dalam hubungan kita dengan orang lain, lalu dalam panggilan hidup serta pelayanan kita.
Kesimpulan. Akhirnya, perlu diingat bahwa sukses di dunia bersifat sementara; sukses yang dari Tuhan bernilai kekal. Tuhan memberikan kesuksesan bagi kita supaya digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuanNya “Kesuksesan sejati adalah menjadi seperti yang Allah ingini”. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
This is Photoshop’s version of Lorem Ipsum. Proin gravida nibh vel velit auctor aliquet.
Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit.
Duis sed odio sit amet nibh vulputate cursus a sit amet mauris. Morbi accumsan ipsum velit. Nam nec tellus a odio tincidunt auctor a ornare odio. Sed non mauris vitae erat consequat auctor eu in elit.