Materi S2C  : Selasa, 18 September 2018       Durasi: 20 Menit

Nats           : Galatia 4:9; Amsal 6:6-11

Tema         : Mental Pengemis

PENDAHULUAN. 

          Mental pengemis tidak berbicara tentang subjek atau orangnya, melainkan mental pengemis tepatnya adalah mental yang selalu resah harta, selalu merasa kurang, dan selalu kuatir dengan masa depan. Kata “resah” menjadi kunci di sini. Mental “resah” inilah yang diyakini telah menjadikan banyak orang memiliki mental pengemis. Mental ini tidak bergantung pada harta, kelas, profesi, usia, jenis kelamin,  atau jabatan. Artinya karena ini menyangkut  mental, maka  miskin dan kaya sama-sama bisa memiliki mental pengemis.

Demikianlah mental pengemis, yang sering memicu masalah. Berarti, gemar meminta-minta itu jelas faktor mental, bukan faktor miskin atau kaya. Mental pengemis ini amat rentan menimbulkan banyak masalah. Akan lebih bermasalah lagi jika ia berkolaborasi dengan mental serakah. Maka yang terjadi kemudian, banyak orang berkelimpahan harta, dengan gaji dan fasilitas yang memadai, masih gemar meminta-minta, bahkan menghalalkan segala cara.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Mental Pengemis!

  1. Mental pengemis adalah sikap yang suka meminta-minta

Kata miskin dalam bahasa Yunani adalah ptochos, yang diambil dari akar kata pipto. Arti kata ini adalah suka meminta-minta, tidak berdaya, turun dari atas ke bawah, mandul atau tidak menghasilkan, dan ketakutan. Yang dimaksud dengan mental pengemis adalah mental yang suka meminta-minta. Orang yang memiliki mental pengemis hanya bisa meminta serta mengharapkan belas kasihan orang lain, tetapi ia sendiri tidak mau bekerja. Akar dari mental pengemis ini tidak lain  adalah kemalasan. Ada orang yang ingin mendapatkan uang atau barang yang ia inginkan, tetapi malas bekerja, malas berusaha. Ia memilih cara yang lebih gampang, yaitu meminta-minta. Mental mengemis lahir dari rasa malas. Malas untuk bergerak dan berusaha. Berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga lebih baik dan mulia dibandingkan bermalas-malasan atau mengandalkan pemberian orang lain.

Sebagai hamba Tuhan, janganlah kita merusak citra diri dan pelayanan kita dengan membiasakan diri menjadi peminta-minta. Firman Tuhan mengingatkan agar kita bekerja, sehingga dengan demikian memakan makanan kita sendiri -2Tes 3:12.

 

  1. Mental pengemis adalah sikap yang selalu merasa “kurang”

Mental miskin adalah sekalipun memiliki uang yang banyak tapi merasa kurang terus. Menurut bahasa Ibrani dan Yunani, kata “miskin” bukan hanya berbicara mengenai kondisi tanpa uang, melainkan juga kondisi pikiran yang selalu merasa kekurangan. Para koruptor pada dasarnya adalah orang-orang yang memiliki banyak uang, tetapi di dalam pikirannya, mereka selalu berkekurangan. Itu sebabnya mereka korupsi. Mental miskin ini bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak memiliki uang, tetapi juga oleh orang yang memiliki banyak uang.

Sebelum seseorang miskin di dalam kehidupannya, mereka terlebih dahulu miskin di dalam pikirannya. Mereka berpikir bahwa mereka adalah orang yang kekurangan dan cara cepat untuk kaya adalah dengan mengambil milik orang lain.

 

Kesimpulan. Belajar dari Lukas 21:2-4 Yesus melihat seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” Hanya orang yang percaya kepada janji Tuhan yang dapat melakukan tindakan iman seperti itu- baca juga -1 Raja-raja 17:9-16; Maz. 68:5-7; Maz.146:9. Buanglah mental pengemis, gantikan dengan mental Kerajaan Allah. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 11 September 2018       Durasi: 20 Menit

Nats           : Kisah Para Rasul 3:1-10

Tema         : Langkah untuk mengubah mental Pengemis

PENDAHULUAN.

Ada tiga tugas panggilan gereja: Diakonia (melayani), koinonia (bersekutu) dan marturia (bersaksi). Pelayanan diakonia harus mampu memberdayakan, membangun dan membentuk persekutuan persaudaraan sehingga dalam mewujudkan persekutuannya jemaat  yang melayani antara satu dengan yang lain.

Diakonia, bukan untuk menciptakan ketergantungan, melainkan untuk memberdayakan dan membebaskan! apakah diakonia yang selama ini dilakukan sudah dapat memberdayakan warga jemaat di dalam kehidupannya. Ataukah hanya menciptakan ketergantungan yang pada akhirnya membuat jemaat menjadi jemaat yang memiliki mental ‘pengemis’.

Kisah Para Rasul 3:1-10, sebagai wujud dari pelayanan diakonia yang memberdayakan dan membebaskan tersebut. Dalam peristiwa ini, si lumpuh membutuhkan sedekah, tetapi kebutuhannya lebih dari itu. Apapun bentuk sedekah yang diberikan, termasuk emas dan perak, tidak akan memberi kesembuhan. Berapa banyak pun uang yang diberikan kepada orang lumpuh, tetap saja ia lumpuh. Tak ada sedekah yang dapat mengubah hidupnya. Sedekah hanya menempatkan hidup si lumpuh dalam rutinitas meminta dan menerima.  

Diakonia yang dilayankan oleh Petrus dalam peristiwa ini adalah diakonia yang mengantar si lumpuh melihat dan mengalami kemungkinan baru yang lebih baik. Bukan dengan uang, melainkan dengan iman dan kasih yang melayani, menguatkan dan selanjutnya membebaskan. Berdasarkan contoh peristiwa tersebut, pelayanan diakonia harus menuntun pada iman yang di dalamnya karya pembebasan Allah menjadi nyata. Kalau itu terjadi, maka nama Tuhanlah yang dipuji, bukan nama orang-orang yang memberi sedekah.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Langkah untuk mengubah mental Pengemis:

  1. Hidup kita tidak bergantung pada belaskasihan orang lain tetapi kepada Allah.

Dalam hukum alam, kupu-kupu harus berjuang sendiri keluar dari kepompongnya agar sayapnya semakin kuat. Seperti hidup, jika kita tidak berjuang dan hanya menerima belas kasihan orang lain maka kita tidak akan mandiri dan berkembang dengan baik.

Diakonia seharusnya mengubah orang sakit yang hanya bisa meminta-minta (tergantung) menjadi orang sembuh. Diakonia bukan persoalan memberikan uang kepada orang miskin, tetapi berbagi solidaritas dengan mereka yang membutuhkan. Diakonia, bukan untuk menciptakan ketergantungan melainkan untuk memberdayakan dan membebaskan-Luk. 6:38; Kis. 20:35

 

  1. Mengetahui potensi diri sendiri akan membawa kita mampu melakukan hal-hal yang ajaib

 Tuhan sudah menyediakan segalanya secara cukup bagi kita untuk bisa berhasil dan bisa memberkati orang lain. Ada banyak orang disekitar kita yang terabaikan, tertolak, tersisih dan tersingkir, mereka butuh pertolongan, dan kita bisa menyatakan kasih Kristus kepada mereka dengan apa yang kita miliki.

Periksalah apa yang ada pada kita dan pergunakanlah. Tuhan bisa memakai segala sesuatu yang terlihat sederhana atau kecil sekalipun dari kita secara luar biasa.  Semua tergantung dari kita, apakah kita sudah mengetahui potensi kita dengan baik, sudah mengolahnya dan mempergunakannya untuk kebaikan kita serta orang lain atau belum. Petrus menggunakan nama Yesus di sini untuk menunjukkan bahwa ia melakukan mukjizat itu bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Yesus.

 

Kesimpulan. Hidup bergantung kepada Allah dan  mengembangkan potensi yang ada dengan demikian, membantu mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah! Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 04 September 2018      Durasi: 20 Menit

Nats           : 2 Tesalonika 3:1-15

Tema         : Otoritas untuk Mengubah Mental Pengemis

PENDAHULUAN.

Bulan ini kita akan mempelajari intisari pilar IX (9) Keluarga Imamat Rajani, yaitu menjadikan Jemaat yang berotoritas dengan Prinsip Imamat, point pertama : “Otoritas untuk mengubah mental Pengemis”. Kata ”mengemis” dapat berarti meminta atau memohon, yang dibahas di sini terutama adalah mengemis dalam arti mempunyai kebiasaan meminta-minta sedekah kepada umum.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Otoritas untuk Mengubah Mental Pengemis!

  1. Perhatikan Nasehat Paulus “Makan makanannya sendiri”-2Tes. 3:12.

Pesan Paulus berulang-ulang agar kita tidak bermental pengemis. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian orang yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi padahal ia membutuhkan makan setiap hari. Mau tidak mau mereka terpaksa mengemis. Di tengah kondisi dunia yang sulit seperti ini hal seperti itu mungkin saja terjadi. Tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa ada banyak pula orang yang seharusnya mampu melakukan sesuatu tetapi mereka malas untuk itu melakukan pekerjaan. Mereka lebih suka pergi ke saudara atau teman-temannya untuk meminta. Mereka tidak mau repot dan lebih memilih cara yang gampang atau instan. Inilah yang disebut dengan mental pengemis. Dan mental seperti ini seharusnya tidak menjadi bagian dari gaya hidup kita.

Karena itulah Paulus pun bisa berkata keras kepada jemaat yang hidup malas-2 Tes.3:10. Bekerja merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan oleh manusia. Janji berkat dari Tuhan dalam Ulangan 28:1-14 pun diarahkan kepada berkat-berkatNya yang turun atas pekerjaan kita, dan bukan memberikan sesuatu secara instan. Salah satu alasannya jelas, Tuhan tidak menginginkan kita tumbuh dengan mental pengemis. Peringatan Paulus di atas mengacu kepada sikap sebagian jemaat yang lebih memilih untuk tidak bekerja tapi malah sibuk melakukan hal-hal yang tidak berguna-2 Tes. 3:11.  

 

  1. Perhatikan Nasehat Paulus “dengan tanganku sendiri aku telah bekerja” – 2 Tes.3:7-8

Paulus melakukan segalanya demi mewartakan Kerajaan Allah kemanapun ia pergi tanpa mempedulikan lagi kenyamanannya, bahkan nyawanya. Ia tidak mau meminta-minta melainkan tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya maupun rekan se pelayanannya-Kis.20:34-35. Ia tidak meminta kepada Tuhan untuk nafkah hidupnya, ia pun tidak meminta kepada orang lain. Ia bekerja dengan tenaga atau tangannya sendiri, dan nyatalah bahwa mental pengemis bukan menjadi bagian dari sikap Paulus.

Paulus memberikan sebuah alasan lagi bagi kita untuk bekerja, yaitu agar kita mampu memberi kepada mereka yang membutuhkan. Ketika berkat-berkat Tuhan turun atas pekerjaan kita, semua itu bukanlah untuk disimpan dan dipergunakan sendiri saja. Ada kewajiban kita juga untuk memberi kepada orang lain, dan hal ini juga jangan dilupakan – Ef.4:28

Bekerja keras melakukan pekerjaan yang baik dengan tangan sendiri, seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Bukan hanya menunggu diberi dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Tuhan menuntut keseriusan dalam bekerja, bukan hanya untuk kita sendiri atau pimpinan, tetapi secara spesifik Tuhan pun menuntut kita untuk memberi yang terbaik seperti kita melakukannya untuk Tuhan-Kol.3:23.

 

Kesimpulan. Selagi masih bisa, selagi masih ada waktu dan kesempatan, selagi masih diberikan kemampuan, tenaga dan pikiran, marilah kita menjadi pekerja-pekerja yang tangguh. Tuhan akan dengan senang hati memberkati apapun yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh untuk Dia-Pkh.9:10. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 28 Agustus 2018       Durasi: 20 Menit

Nats           : Ibrani 13:7, 17; Bilangan 12:1-16

Tema         : Manfaat atau dampak penundukkan diri

PENDAHULUAN.   

Di zaman sekarang ini tidak mudah menemukan orang yang memiliki roh penundukan diri.  Sebaliknya banyak orang yang memiliki roh pemberontakan.  Memberontak berarti tidak tunduk pada otoritas, di mana hal ini pasti akan menimbulkan konflik, baik itu konflik antar sesama anggota dalam sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, atau bahkan suatu negara.

Tuhan mengingatkan agar setiap kita memiliki roh penundukan diri.  Kata “taatilah” dalam ayat nas di atas menurut teks aslinya berarti menyesuaikan, mengalah dan menaati. Sedangkan kata “tunduklah” berarti tunduk kepada otoritas. Tuhan menghendaki setiap kita memiliki roh penundukan diri.  Tunduk kepada Tuhan dan juga tunduk kepada pemimpin-pemimpin rohani kita.  Tidak sedikit orang percaya yang tidak tunduk kepada pemimpin rohaninya, mereka malah suka mengkritik, membicarakan kelemahan dan kekurangan, serta meremehkannya.  

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Manfaat atau dampak penundukkan diri?

  1. Dengan tunduk pada otoritas, kita terhindar dari hukuman

Mengapa begitu banyak hal yang buruk dialami oleh beberapa orang, bahkan timbul kekecewaan serta akar pahit? Salah satu jawabannya adalah karena tidak mau mengalah dan tidak mau tunduk kepada otoritas.

Seperti yang dikisahkan bagaimana Miryam dan Harun memberontak kepada Musa-Bil.12:1-16. Secara garis keluarga, Miryam adalah kakak dari Harun dan Musa, sedangkan Musa adalah yang paling kecil.  Tetapi di hadapan Tuhan, urutan otoritas adalah Musa, Harun dan Miryam. Jadi Musa adalah pemegang otoritas tertinggi.  Karena tidak tunduk kepada otoritas, Miryam harus menanggung akibatnya, ia  “…kena kusta, putih seperti salju;”  -Bil.12:10a.

Daud tidak mau menjamah Saul yang ingin membunuhnya, walaupun dua kali ia mendapat kesempatan untuk itu-1 Sam. 26 : 7-12 dan 1 Sam.24 : 4-8. Pada saat itu Saul adalah seorang pemimpin atau Raja yang sudah undur dari roh Tuhan, namun Daud tetap menghormati nya. Dan apa yang terjadi? Karena Saul tidak mau bertobat, Tuhan yang berurusan. Ia menghajar Saul, ia mati bunuh diri, dan anaknya Yonathan juga mati dalam peperangan pada hari yang sama. Jika kita menyadari prinsip ini maka tidak akan ada lagi hal yang buruk bahkan hukuman Tuhan menimpa kita.

 

  1. Dengan tunduk pada otoritas, kita hidup dalam perlindungan Tuhan

Ibr.13 : 7 “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira” Sadarkah bahwa musuh kita yakni iblis selalu mengintai dan mencari celah untuk menyerang kita? Dengan hidup dalam penundukan pada otoritas pemimpin, itu berarti kita hidup dalam “payung rohani/ilahi” sehingga terhindar dari hujan dan panas yang tidak baik untuk kita, terhindar dari ancaman si jahat yang berkeliling dan mengintai-1 Ptr 5:8.

Tunduk pada pemimpin berarti kita tunduk pada Allah, maka otoritas untuk mengusir iblis ada pada kita. Ingatlah bahwa iblis itu pencuri, pembunuh dan pembinasa, jangan biarkan ia masuk dalam kehidupan kita, keluarga kita, bisnis kita. Bukankah dengan perginya iblis dari kehidupan kita itu adalah suatu berkat yang besar?

 

Kesimpulan.  Milikilah ketaatan dan ketundukan terhadap otoritas yang dipercayakan Tuhan dalam hidup kita. Taatlah selama apa yang diperintahkan otoritas tidak melanggar Firman Tuhan. Dan miliki hati yang tetap tunduk dan hormat terhadap otoritas di atas kita. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi.

Materi S2C  : Selasa, 21 Agustus 2018       Durasi: 20 Menit

Nats           : I Petrus 2:13-18

Tema         : Tujuan Penundukan Diri yang benar

PENDAHULUAN.                                   

          Petrus berkata: “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.”-1 Petrus 2:13-14. Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi kepada yang berlaku kejam sekalipun. “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.”-1Petrus2:18.

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Tujuan Penundukan Diri yang benar!

  1. Memperoleh berkat dari Tuhan

Banyak orang yang begitu bersemangat jika membicarakan topik tentang berkat-berkat Tuhan. Mereka dengan rajin berdoa dengan harapan agar lebih banyak lagi menerima berkat-berkat, dan mereka percaya bahwa Allah adalah sumber berkat yang tidak habis-habis nya. Namun kadang-kadang orang lupa bahwa berkat Tuhan bisa terhalang jika kita tidak mengerti dan tidak mentaati Firman Nya- 1Sam.3:11-14; 13:13-4 dst.

Melalui penundukan diri kepada otoritas diatas kita (suami, orang tua, pimpinan di kantor tempat kita bekerja, pemerintah bangsa kita dan gembala di gereja lokal kita beribadah) kita akan menerima berkat-berkat dari Tuhan. Contoh : Bidan-bidan yang lebih tunduk atau taat kepada Tuhan sehingga mereka memperoleh berkat dari Tuhan – Kel. 1:15-21. Samuel, walaupun Samuel belum mengenal Tuhan dan firman Tuhan pun belum pernah ia dengar, tapi Samuel Tunduk kepada otoritas Tuhan-1Sam.3:1-10; bdk 1sam.2:26 sehingga Tuhan memberikan jabatan nabi kepadanya-1Sam.3:19-21. Daud, tetap menundukkan diri sekalipun memperoleh kesempatan membunuh Saul, namun menghargai otoritas Tuhan dalam hidup Saul-1Sam.16:17,12-13.

Sebaliknya bisa terjadi jika kita tidak mau tunduk kepada otoritas kepemimpinan yang dari Tuhan maka berkat itu akan terhambat, bahkan bisa jadi masalah demi masalah yang datang menyerang kita.

 

  1. Pembentukkan karakter kita

Membentuk hati yang taat. Bila seseorang mau menundukkan diri pada wewenang yang ada diatasnya, maka akan membentuk hati yang taat –Yeh.11:19; 18:31; 36:26. Contoh : Miryam dan Harun mengata-ngatai Musa-Bil.12 : 7-10. Tuhan mengajar Harun dan Miryam agar menghormati pemimpin yang sudah Ia tetapkan, walaupun pemimpin itu punya kekurangan. Urusan untuk menegur atau meluruskan pemimpin adalah bagian Tuhan.

Mustahil bila kita lebih mudah tunduk kepada Allah (yang tidak kita lihat) namun sulit untuk tunduk kepada pemimpin kita yang jelas kelihatan didepan mata kita.Dengan tunduk pada otoritas pemimpin, karakter kita dibentuk. Berikan ilustrasi!

 

  1. Membentuk kerendahan hati

Tidak dapat dipungkiri, untuk menundukkan diri dituntut suatu kerendahan hati. Biasanya semakin seseorang berkuasa atau merasa dirinya hebat, semakin sulit ia menundukkan diri Contoh : Panglima Naaman, panglima raja Aram, yang sulit menundukkan diri kepada perintah nabi Elisa-2 Raja-raja 5:1-27. Jika kita mudah diatur dan dipimpin makapun kitapun akan mudah mengatur serta memimpin orang lain, dan itu berlaku juga sebaliknya.

 

Kesimpulan. Sekarang kita sudah lebih memahami apa yang Alkitab katakan mengenai merendahkan diri atau hati kita, terutama di hadapan Tuhan. Hendaknya firman Tuhan ini kita tanamkan dalam hati kita dan kita praktikkan dalam keseharian agar kita dapat menjadi semakin serupa dengan karakter Kristus. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 14 Agustus 2018       Durasi: 20 Menit

Nats           : Ibrani 13:17; Titus 3:1

Tema         : Prinsip penundukan diri yang benar sesuai Firman

                  Tuhan Bagian 2

PENDAHULUAN.

Hidup di bawah penundukan diri untuk menerima otoritas dari orang lain seringkali merupakan hal yang tersulit untuk kita lakukan. Kita akan berhadapan dengan ego kita, kebanggaan diri atau bagi sebagian orang dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Jika tidak kita cermati, maka bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau kehidupan kita, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang banyak berbicara mengenai soal penundukan diri.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Prinsip penundukan diri yang benar sesuai Firman Tuhan Bagian 2 :

 

  1. Penundukkan diri merupakan sesuatu yang penting di mata Tuhan, sehingga diperlukan kerendahan hati.

Jika tidak melakukannya maka dikatakan bahwa kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela, dengan sukacita dan bukan atas keterpaksaan. Pemimpin disini menyangkut pemimpin baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja. Dalam Titus 3:1 “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.” Kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus-Kol. 3:22; Ef.6:5

Masalah penundukan diri sungguh merupakan hal yang penting di mata Tuhan. Selain kepada atasan, penundukan diri juga menyangkut bentuk-bentuk hubungan lainnya. Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya-Ef. 6:1, Kol.3:20, istri tunduk kepada suami –Kol.3:18, Ef.5:22, 1 Ptr3:1, anak muda tunduk kepada yang lebih tua -1Ptr.5:5 dan tentu saja kita harus menundukkan diri kepada Kristus.

Sikap kita terhadap pemimpin-pemimpin rohani yang diangkat Tuhan sebagai wakilNya, menunjukan sikap kita yang sesungguhnya terhadap Tuhan sendiri. Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan. Kita harus mampu meredam ego kita agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita-Berikan ilustrasi!

 

  1. Penundukkan diri yang pertama adalah penundukkan diri kepada Allah.

Firman Allah dalam Yakobus 4:7, tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis. Penundukkan diri ditujukan kepada dua hal yaitu kepada Tuhan dan kepada pemimpin yang Tuhan tunjuk untuk memimpin hidup kita. Hal ini tidak akan pernah berakhir dalam hidup kita.

Itulah alasannya Daud selalu bertanya Tuhan, karena Daud rendah hati meskipun dia adalah seorang raja dan nabi. Dan juga Kisah dari Perwira Romawi dalam Lukas 7:8, walaupun secara jasmani ia seorang yang berkedudukan namun ia mengetahui posisi dirinya. Ia menempatkan Yesus sebagai seorang yang lebih berkuasa. Ia mengerti apa itu otoritas dan ia mengakui otoritas Yesus. Sikap kerendahan hati dan penundukkan dirinya membawa kesembuhan bagi hambanya yang sakit-Luk.7:8-10.

 

Kesimpulan. Berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga kita bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas kita. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Mungkin tidak mudah, tetapi percayalah kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi kita untuk dapat melakukannya dan mengalahkan ego dalam kehidupan sehari-hari. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Materi S2C  : Selasa, 07 Agustus 2018      Durasi: 20 Menit

Nats           : 1 Samuel 3:1-21

Tema         : Prinsip penundukan diri yang benar sesuai Firman

                   Tuhan Bagian 1

PENDAHULUAN.

      Bulan Juli kita akan mempelajari intisari pilar VIII (8) Keluarga Imamat Rajani, yaitu menjadikan Jemaat yang berotoritas dengan Prinsip Keluarga, point keempat “Otoritas dari Hasil Penundukan Diri”. Apakah otoritas itu? Otoritas adalah wewenang, hak atau kuasa untuk mewajibkan kepatuhan. Dari segi iman Kristen, Allah mempunyai hak, kedaulatan dan kuasa tertinggi untuk menuntut kepatuhan dari ciptaan, karena Dialah Tuhan segala bangsa.  Allah juga berdaulat menetapkan semua otoritas yang ada, baik orang tua, pemerintah, atasan dalam pekerjaan, dan pemimpin rohani dan lain sebagainya.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Prinsip penundukan diri yang benar sesuai Firman Tuhan Bagian 1:

  1. Tetap berada dalam “payung” otoritas, artinya jangan memberontak terhadap otoritas apalagi keluar dari otoritas.

      Sikap kita terhadap otoritas adalah tunduk dan taat. Tunduk, artinya menerima dan menghormati otoritas yang di atas kita. Taat, artinya melakukan perintah selama otoritas diatas kita tersebut tidak membawa kita berbuat dosa, sesuai aturan kebenaran dan sesuai dengan firman Tuhan- Kel. 1:15—21.

      Aplikasi : Belajar dari Samuel, prinsip penundukkan diri yang benar sesuai Firman Allah adalah Ia tetap berada dalam payung otoritas Imam Eli-1Sam.3:9-10, 17—21 (Berilah ilustrasi).

 

  1. Apabila ada kesalahan atau kelemahan pada pemegang otoritas, tetaplah menjadi orang-orang yang bertanggung jawab dan tunduk pada otoritas, bukan memberontak. 

Otoritas yang Tuhan berikan berkaitan erat dengan kebenaran. Perlu diingatkan bahwa posisi yang dipegang dan  didapat/diperoleh saat ini adalah karena Tuhan yang memberikan dan menetapkannya, entah ia sebagai pemegang otoritas atau yang berada dibawah otoritas. Jika seseorang menginginkan posisi itu tetap kokoh, ia harus belajar untuk hidup benar dihadapan Tuhan. Amsal 16:12 mengatakan: “.. tahta menjadi kokoh oleh kebenaran”.

Hidup benar dihadapan Tuhan, bertanggung jawab, kesetiaan dan ketekunan dalam melaksanakan hal-hal yang dipercayakan, maka Tuhan akan memberikan promosi untuk hal-hal yang lebih besar lagi. Namun sebaliknya, apabila keluar dari otoritas menyebabkan kehilangan kesempatan.

Samuel bertumbuh dibawah pengawasan seorang imam, walaupun imam Eli  sudah tidak diurapi, tetapi Samuel tetap tunduk pada otoritas jabatan imam tersebut. Ia tidak sibuk mengoreksi atau menggosip imam Eli. Ia memberi diri dibawah pengawasan imam Eli. Ia memilih menjadi orang yang bertanggung jawab. Merupakan bagian dan tanggung jawab Tuhan untuk berurusan dengan imam Eli sesuai dengan caraNya. Dan sikap inilah yang membawa Samuel kepada perkenan dan pemakaian Allah yang lebih besar atas dirinya.

Aplikasi : Prinsip penundukkan diri yang benar sesuai Firman Allah adalah menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan tunduk pada otoritas, bukan memberontak dengan otoritas yang ada. Sikap inilah yang membawa Samuel menjadi nabi yang Tuhan pilih-1Sam.3:20-21.


Kesimpulan. Tunduk pada otoritas bukan berarti kita harus menaati hal yang salah. Kita perlu menaati hal yang benar, tetapi menolak perintah yang salah yang bertentangan dengan aturan kebenaran dan firman Tuhan- Kel. 1:15-21. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!

Come and join with us😆
____________
KKR Pemuda & Pelajar (umum)
Speaker : Ps. Yehuda So
Guest Star : Michael Panjaitan (Ex. Vocalist NDC Worship)
Date : 3 September 2018
6.00pm | GBI KelIR Samarinda Lt.3
#freedomorfreedumb
____________
For information :
Instagram
@claudioyoshua
@arbyys
@gabriellaaii_
@ciaaa.rey
 
#forf2018 #freedomorfreedumb2018 #gbikelir #church #teenagers #teenshine

Shalom, Mari daftarkan diri anda dalam Seminar Konseling. Seminar Konseling ini sangat baik untuk memperlengkapi Saudara untuk di ajar bagaimana mengkonseling orang lain dengan prinsip dan metode yang tepat,
saudara akan di ajar untuk bisa memulihkan diri sendiri dari luka batin, kekecewaan dan lainnya sehingga bisa memulihkan orang lain juga. Seminar ini dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Sabtu, 7 Juli 2018
Waktu : Pk. 09.00 – 16.00 Wita
Tempat : KelIR Lembuswana Lt. 3 Komplek Mall Lembuswana Blok F. 23-26 Samarinda
Pembicara : Dr. Julianto Simanjuntak

Biaya Pendaftaran :
– Jemaat GBI KelIR Samarinda Rp. 100.000
– Di luar Jemaat GBI KelIR / Umum Rp. 150.000
(Include : Buku Pembicara, Snack, Sertifikat dan Makan Siang)
Untuk informasi dan Pendaftaran dan Umum dapat menghubungi :
Rudy Thamsil (0822 8320 1777)
Ica (0822 5322 1793)
Fero (0853 3279 7085)
Merry Santi (0852 4570 6886)
Atau dapat menghubungi Sekretariat STTBS

Materi S2C  : Selasa, 31 Juli 2018       Durasi: 20 Menit

Nats           : Efesus 4:2

Tema         : Dampak Kerendahan Hati

PENDAHULUAN.   

Allah menghargai pertobatan dan sikap kerendahan hati: Bahkan kepada orang-orang yang tadinya mempraktekkan hal-hal yang sangat jahat dihadapan-Nya. Akan tetapi apabila mereka bertobat dan merendahkan diri Di hadadapan Allah serta memohon belaskasihanNya, tentu Allah akan mengampunidan memulihkan keadaannya. Seperti pada kisah Raja Manasye anak dari Hizkia mengajak penduduk Yehuda dan Yerusalem untuk beribadah kepada baal, dan melakukan banyak hal yang jahat di mata Tuhan, sehingga menimbulkan sakit hatiNya-2Taw.33:6, 9.

Ketika ia ditegur Allah, tetapi tidak dihiraukan maka Allah mendatangkan raja Asyur, kemudian membelenggunya dan membawa ke Babel, kemudian ia sangat merendahkan diri kepada Allah. Raja Manasye berdoa dan Allah mendengar permohonannya dan Allah memulihkan kekuasaannya kembali sebagai raja; demikianlah Raja Manasye belajar kerendahan hati dan mengakui bahwa Tuhan itu Allah yang benar-2 Taw.33:9, 12-13;1Raj.21:27-29.

 

KALIMAT KUNCI (KAL_KUN):  Dampak Kerendahan Hati?

  1. Kerendahan hati akan membimbing seseorang di jalan yang benar

Maz.25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.  Jadi, orang yang mencari kemuliaan melalui keangkuhan akan gagal, misalnya: Raja Uzia dari Yehuda. Kurangnya kerendahan hati, menyesatkan Uzia, dan kejatuhanlah akibatnya-2 Taw.26:16-21.

Ketika Daud berdosa, ia ditegur oleh nabi Natan. Daud segera merendahkan diri di hadapan Allah-2 Sam.12:9-23. Kerendahan hatinya mempunyai andil besar dalam memperoleh kembali perkenan Allah-2 Sam.24:1,10. Kerendah hati akan membantu kita berjalan di jalan yang benar, dan tidak akan kehilangan berkatNya. Allah tentu ingin membimbing kita kepada jalanNya, namun hal itu bergantung pada kerendahan hati kita-Maz.25:9; Maz.75:8 Ams.18:12; 22:4.Berikan ilustrasi!

 

  1. Sikap kerendahan hati membantu kita pada masa yang sulit

Kerendahan hati dapat sangat membantu kita ketika menghadapi tantangan berupa kesulitan. Sewaktu ada malapetaka, kerendahan hati membuat orang sanggup bertahan serta bertekun dan melanjutkan pelayanannya kepada Allah. Daud mengalami banyak kesulitan. Tetapi ia tidak pernah mengeluh kepada Allah atau meninggikan dirinya terhadap orang yang diurapi Allah- 1 Sam. 26:9-11, 23. Daud mempertunjukkan kerendahan hati, sehingga ia terhindar dari malapetaka-2Sam.16:5-14; 2Taw.12:6-7, 12. Berikan ilustrasi!

 

  1. Sikap kerendahan hati membawa kita dekat dengan Tuhan

Tanpa sadar ketika kita sombong dapat menjauhkan diri dari Allah dan dari orang-orang lain. Allah menetapkan diri-Nya menentang orang yang sombong-Yak. 4:6.

Dekat dengan Tuhan akan menyelamatkan kita. Salah satu dari sekian banyak janji Tuhan terhadap orang yang rendah hati yaitu Keselamatan, itu sebuah anugerah yang terbesar yang bisa kita peroleh. Dan itu diberikan kepada kita apabila kita memiliki sikap rendah hati. Bukan hanya keselamatan dari bahaya, sakit penyakit dan sebagainya, tetapi keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. Itulah yang dimahkotai Tuhan kepada orang-orang yang rendah hati-Maz.149:4.

 

Kesimpulan. Milikilah sifat rendah hati, teruslah ingatkan diri kita untuk itu, dan itulah yang akan menyenangkan hati Tuhan.”Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.”Ams.16:5. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi.

Loading...