Materi S2C : Selasa, 22 Maret 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Maleakhi 1:6 – 2:2
Tema : Dampak dari tidak adanya sikap hormat pada Tuhan
PENDAHULUAN.
Kata “respek” artinya rasa hormat, kehormatan. Apa yang tercakup dalam menghormati orang lain? Itu dimulai dengan respek. Sebenarnya, kata ”hormat” dan ”respek” sering digunakan bersama-sama karena keduanya berkaitan erat. Hormat adalah manifestasi, atau pertunjukan lahiriah, dari respek. Dengan kata lain, respek terutama menunjuk kepada cara kita memandang saudara kita, sedangkan hormat menunjuk kepada cara kita memperlakukan saudara kita. Roma 12:10. Sikap hormat kita bukan saja diperuntukkan kepada sesama namun yang utama pada Tuhan.
Dalam kitab Maleakhi tercatat sikap bangsa Israel yang tidak hormat kepada Tuhan: seperti roti yang dipersembahkan adalah roti yang cemar, roti yang tidak layak untuk dipersembahkan kepada Allah –Im.24:5-9; Kel. 25:30. Begitu juga dengan persembahan hewan sebagai korban bakaran, justru persembahan yang cacat. Mengapa cacat? Karena binatang yang dipersembahkan itu buta, timpang dan sakit dan jelas bertolak belakang dengan yang dikehendaki Allah yang menghendaki persembahan binatang yang sehat dan telah dikuduskan terlebih dahulu-Ul.15:19-21.
Sehingga persembahan umat itu jelas bukan suatu penyembahan melainkan penghinaan kepada Allah yang hidup. Mereka memandang rendah dan enteng Tuhan Allah sehingga tanpa merasa malu mereka datang dengan membawa persembahan yang tidak berkualitas. Cara ini menjadi petunjuk bahwa Israel tidak lagi memiliki sikap hormat kepada Allah.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dampak dari tidak adanya sikap hormat pada Tuhan:
- Menerima Kutuk – Maleakhi 2:2
- Kitab Maleakhi menulis tentang bangsa Israel yang tidak menghormati Allah seperti anak yang tidak menghormati bapaknya dan seperti hamba yang tidak takut kepada tuannya. Sikap dalam ibadah yang seperti itu dilakukan oleh umat, karena para imam, pelayan Tuhan tidak mengajarkan apa yang sebenarnya Allah tuntut bagi mereka. Para imam tidak melakukan penyembahan yang benar. Sebagai akibatnya Allah mengirimkan kutuk kepada mereka dan menjadikan berkat-berkat mereka berubah menjadi kutuk (Mal. 3:1-2; Ul 27:16)
- Peringatan yang sama juga bagi Imam Eli yang menghormati anak-anaknya lebih dari Tuhan maka ia mendapat kutuk bukan saja bagi dirinya namun juga bagi generasinya (1Sam. 2:29-36).
- Mendapat hinaan- Maleakhi 2:9a
- Sikap tidak hormat dilakukan oleh Raja Saul dengan cara tidak mentaati Tuhan. Yang tadinya Saul dan keturunannya mendapat berkat, namun karena tidak ada sikap hormat kepada Tuhan maka ia mendapat hinaan/dipandang rendah- 1 Sam. 2:30.
- Sebagai orang kristen kita harus mentaati/menghormati semua otoritas di atas kita. Hormat ini bukan hanya dalam tindakan luar, tetapi juga dalam kata-kata dan pemikiran kita. Juga mencakup ketaatan & rasa/sikap tahu berterima kasih.
- Saat kita tidak menghormati Tuhan, kita akan mendapat hinaan bahkan menjadi tontonan Nahum 3:6.
- Direndahkan – Maleakhi 2:9b
- Raja Nebukadnezar yang tidak menghormati Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi, sehingga Tuhan merendahkan dia dengan memperlakukannya seperti binatang Daniel 5:18-30.
Kesimpulan. Ada tiga dampak/akibat dari tidak adanya rasa hormat kepada Tuhan yaitu menerima kutuk dan bukan berkat, mendapat hinaan dan direndahkan. Marilah kita ciptakan sikap saling menghormati bukan saja kepada sesama kita namun juga kepada Tuhan. ” Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah”. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 15 Maret 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : 1 Petrus 2:17
Tema : Makna Menghormati
PENDAHULUAN.
Materi lalu jemaat Tuhan memahami alasan orang sulit untuh mengasihi, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama hal ini karena dalam hidup seseorang itu mengalami kegetiran / kesusahan / kepahitan; masih menyimpan kebencian & dendam serta bersukacita atas kemalangan orang yang menyakiti, mengecewakan dan lain sebagainya. Sikap bijaksana jika kita menyerahkan pembalasan ditangan Tuhan sebab Tuhanlah Hakim yang adil, Dialah yang akan membela kita, tanpa kita mencari pembelaan dari manusia.
Minggu ini kita lanjutkan pembelajaran Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah, point ke empat : Saling menghormati.
Dalam keluarga sikap menghormati harus tercipta. Antara orang tua dengan anak, Suami dan istri demikian sebaliknya. Sikap hormat selain ditujukan kepada sesamanya, hal yang paling prioritas hormat kepada Tuhan sehingga kita tidak bersikap yang tidak sopan bahkan cenderung kurang ajar. Marilah kita pelajari makna saling menghormati.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Makna Menghormati!
- Penghormatan berarti mengakui harkat dan martabat setiap manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya – 1 Pet. 2:17a.
- Hormatilah semua orang : Memberikan perhatian penuh pada saat orang lain berbicara dengan kita adalah langkah awal yang sederhana, tetapi kerap kita abaikan. Kita dapat belajar dari Yesus. Orang-orang yang berhubungan dengan kita, siapa pun dia, patut kita perlakukan sebagai manusia yang layak dihargai. Menghormati setiap manusia berarti menghormati Allah yang menciptakannya – Ams. 14:31; 17:5.
- Penghormatan berarti memberi penghargaan – 1 Pet. 2:17b
- Kata utama untuk ”kehormatan” dalam bahasa Ibrani secara harfiah berarti ”sesuatu yang berat”. Orang yang dihormati dianggap berbobot atau penting. Kata Ibrani yang sama sering juga diterjemahkan dalam Alkitab sebagai ”kemuliaan”, yang lebih jauh menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada orang yang dihormati-45:13. Kata Yunani yang diterjemahkan ”kehormatan” dalam Alkitab mengandung makna harga, nilai, hal penting-Luk. 14:10. Orang yang kita hormati biasanya berharga, bernilai bagi kita.
- Siapa saja yang patut kita hormati atau hargai:
- Tuhan – Yos. 7:9; 1 Sam 2:30.
- Orang Tua – Ef 6:2
- Semua orang – 1 petrus 2:17b
- Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar – 1Tim 5:17
- Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan Kristus yang juga nyaris mati dan mempertaruhkan jiwanya – Fil 2:25, 29-30
- Orang yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu – 1Tes 5:12-13a
- Orang-orang yang telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus dan mentaati setiap orang yang turut bekerja dan berjerih payah – 1Kor 16:15-18.
Kesimpulan. Hiduplah saling menghormati. Sikap hormat berarti kita sedang mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Ciptaan Allah dan juga bermakna kita sedang menghargai, memberi penghargaan. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 08 Maret 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 13:8-10
Tema : Alasan orang tidak dapat mengasihi
PENDAHULUAN.
Selasa lalu telah kita pelajari peran keluarga dalam mewujudkan hidup saling mengasihi yaitu: Mentaati Perintah Bapa kita untuk Saling mengasihi dan berani menunjukkan identitas kita sejati sebagai Murid Kristus yang hidup dalam kasih. Berikut ini alasan orang tidak dapat mengasihi!
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Berikut ini beberapa alasan orang tidak dapat mengasihi antara lain :
- Kegetiran Hidup
- Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Kegetiran artinya : kepahitan; penderitaan atau kesusahan hidup.
- Kita tidak dapat mengasihi, membantu orang lain jika sakit kita, kegetiran/kesusahan/kepahitan, hati yang kecewa, terluka belum disembuhkan oleh Tuhan. Terlalu banyak kepahitan/kesusahan yang dialami sehingga untuk mengasihi orang lain menjadi saat sukar.
- Namun ada solusi jika menyerahkan kegetiran / kepahitan / kesusahan kepada Tuhan, Dialah yang akan menyembuhkan kita & terimalah Kasih Bapa dalam hati kita – Roma 5:5 “….kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”. Tanpa kita disembuhkan dan dipulihkan Tuhan untuk menerima kasihNya sulit untuk mengasihi sesama.
- Masih menyimpan kebencian & dendam – Imamat 19:16-18
- Benci adalah sifat alamiah manusia, terkungkung dalam naungan keegoisan, dan si jahat. Arti benci adalah perasaan tidak suka, sedangkan dendam artinya berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan). Tuhan memperingatkan agar kita jangan menyimpan benci didalam hati dan menaruh dendam kepada orang yang berbuat jahat kepada kita – Im. 19:18. Serahkan penghakiman di tangan Tuhan Yak. 4:11-12. Sebab penghakiman Tuhan itu Adil – Yoh. 8:30; dan benar Yoh 8:16.
- Apapun yang terjadi belajarlah untuk tidak membenci. Orang itu mungkin sering membuat kita kecewa, jatuh bahkan sakit hati, namun pisahkanlah sikap dan pribadinya. Mengasihi walaupun disakiti, memberi hati walaupun di balas duri.
- Bersukacita atas kemalangan mereka – Obaja 1:12-15
- Pada kenyataannya masih banyak orang yang sangat senang melihat musuhnya mengalami kemalangan, sekalipun musuhnya itu saudaranya sendiri Contoh dalam Alkitab : Bersukacita melihat saudaranya menderita disaksikan oleh nabi Obaja.
- 24:17-18 Betapa pun menyebalkannya musuh kita, kita harus menerima apa yang terjadi tanpa menyalahkan mereka. Kalau tidak, kita akan merasakan marah, frustasi, dan ingin membalas dendam. Paulus mengajarkan bahwa kita tidak boleh membalas, tetapi memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menghakimi, karena “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan” Rm. 12:19. Dengan berbuat baik kepada musuh kita, kita menumpukkan bara api di atas kepalanya Rm.12:20.
- Apabila kita melihat musuh kita sedang menerima hukuman atau ditegur Tuhan, kita tidak boleh merasa senang karenanya. Sebaliknya, kita harus mempunyai hati yang simpatik, agar Tuhan tidak memindahkan murka-Nya kepada kita.
Kesimpulan. Kita akan terhindar dari perbuatan jahat bila kita memelihara kasih. Sebab kasih itu tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Petrus mendorong kita untuk saling mengasihi dan memberkati mereka yang menganiaya kita, agar kita dapat mewarisi sebuah berkat (1Ptr. 3:8-9). Memperoleh warisan kerajaan Sorga yang kekal, karena tidak ada kebencian di Sorga. Mari kita semua mengandalkan Tuhan untuk saling mengasihi. Amin. Berilah ilustrasi/kes aksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 01 Maret 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Yohanes 15:9-17
Tema : Peran keluarga dalam mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kasih.
PENDAHULUAN.
Jika bulan Januari telah kita pelajari Pilar I point kesatu : tentang mengenal Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus; Point kedua: membawa keluarga untuk memahami peran pemulihan-therapeia.
Memasuki Bulan Maret kita akan belajar tentang Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah, point ketiga : Membawa setiap keluarga untuk hidup Saling mengasihi. Yoh.15:12. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Sebagai keluarga Allah maka ada tanda atau ciri seseorang yang harus melekat yaitu Hidup saling mengasihi.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Peran keluarga dalam mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kasih:
- Peran yang kita lakukan adalah Mentaati Perintah Bapa kita yaitu Saling mengasihi –Yoh. 15:12; 14:15; 13:34.
- Yesus memberi perintah baru yaitu : ‘kamu harus saling mengasihi’ (Yoh 13: 34). Perintah ini sebenarnya bukanlah perintah yang sama sekali baru (bandingkan Imamat 19:18). Penekanan baru di sini lebih di tunjukan pada tindakan kasih yang dicontohkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Artinya kasih yang ditunjukkan Yesus menjadi dasar dari tindakan kita yang saling mengasihi.
- Sebagai perintah, saling mengasihi menjadi suatu keharusan atau kewajiban bahkan menjadi identitas bagi kita yang percaya.
Gereja Yesus Kristus adalah gereja yang hidup dalam kasih. Bukan gereja yang di dalamnya saling menggigit, fitnah atau bertikai. Yesus menghendaki agar kasih yang berdasar pada kasih-Nya harus selalu ada dan tersedia dalam hidup orang percaya I Kor. 13:1-4.
- Jika kita hidup dalam Kasih Allah: 1) Dikenal Allah (1 Yoh. 4:7-8; 2). Dikasihi oleh Bapa (Yoh. 14:21; 16:27); 3). Dapat menggembalakan domba-domba (diri kita sendiri, keluarga kita jiwa-jiwa yang Tuhan kirimkan dll Yoh 21:16); 4). Menerima kebaikan dan mengalami penyediaan berkat (Rom. 8:28; 1Kor. 2:9); 5) Berada dalam terang dan tidak ada penyesatan (1Yoh. 2:10). Taatilah perintah Tuhan, karena kasih kepada Allah.
- Peran yang kita lakukan adalah berani menunjukkan identitas kita yang sejati sebagai murid Tuhan Yoh. 13:35
- Saling mengasihi adalah identitas yang melekat dalam diri setiap orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu mari kita bangun hidup persekutuan kita dengan semangat saling mengasihi. Semua itu kita lakukan sebagai kesaksian, agar orang yang ada disekitar tahu bahwa Yesus itu Tuhan dan Juruselamat.
- Kasih di antara suami istri dan di antara orang tua terhadap anak harus terus meningkat (1 Kor. 13:4-7). Kasih mencakup komitmen, perhatian, perlindungan, pemeliharaan, pertanggung jawaban, dan kesetiaan. Kasih yang seharusnya berlanjut dalam relasi suami istri tidak lagi sebatas ketertarikan secara fisik. Kasih itu harus diungkapkan dalam perbuatan nyata, saling berkomunikasi dan berelasi. Kasih itu juga diaktualisasikan ketika menghadapi masalah, memikul tugas dan tanggung jawab hidup. Ketiadaan kasih diantara orang tua dapat dirasakan oleh anak, akibat selanjutnya adalah mengganggu pertumbuhan watak mereka.
KESIMPULAN. Hendaklah kita hidup dalam kasih Ef.5:2. Jangan lupakan perintah yang satu ini. Jika kita mengasihi Tuhan maka tandanya adalah kita mentaati perintahNya Yoh.14:15. Saling mengasihi merupakan identitas kita. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 23 Februari 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Lukas 9:10-11
Tema : Memahami Faktor Tercapainya Therapia Dalam Keluarga
PENDAHULUAN.
Kata “penyembuhan’ dalam Luk. 9:11 Dalam bahasa Yunaninya (Bahasa asli) yaitu Kata “therapeia” dalam Alkitab Perjanjian Baru digunakan untuk mendefinisikan pengertian tentang keluarga atau rumah tangga. Bentuk kata kerja ini sendiri mengandung arti “melayani”, memelihara” dan “memberi perhatian”. Jadi dapat dikatakan bahwa keluarga adalah suatu tempat dimana melayani, memelihara dan memberi perhatian itu diabdikan sebagai suatu tujuan berkeluarga.
Juga kata Therapeia mempunyai arti yang lainnya yaitu healing: Kesembuhan/Therapis Lukas 9:11; Why 22:2. Pengertiannya keluarga adalah tempat dimana seseorang mengalami kesembuhan, dipulihkan keadaannya. Sehingga hidup seseorang yang telah mengalami kesembuhan dan pemulihan memberi dampak bagi orang lain dan berguna baik untuk keluarganya, gereja, bermasyarakat dan berbangsa.
Hal ini bisa terjadi, tidak lepas dari peran seorang ibu dalam keluarga. Tuhan ingin memakai kaum wanita yang takut akan Tuhan, yang berpengaruh sampai kepada kekekalan.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Faktor – faktor tercapainya therapeia/pemulihan dalam keluarga belajar dari Eunike & Lois:
- Hidup takut akan Allah
- Dalam Perjanjian Baru, ada seorang hamba Tuhan bernama Timotius. Timotius dididik oleh seorang ibu yang takut akan Tuhan (Kpr 6:1-3; 2 Tim. 1:5) Nenek Timotius yaitu Lois, dan ibunya Eunike, sangat mengasihi Timotius sehingga Timotius bertumbuh menjadi anak Tuhan yang takut akan Tuhan. Di tengah kesibukannya, seorang ibu membesarkan dan mendidik anaknya dalam takut akan Tuhan. Tanpa dedikasi seorang ibu, maka rumah tangga dapat hancur.
- Didiklah anak sejak muda dengan takut Akan Allah – Ams. 3:7-8 sebab itulah yang akan menyembuhkan kita.
- Mendidik sejak kecil untuk rajin membaca Kitab Suci 2 Tim 1:5; 3:15; 1 Tim. 4:13.
- Salah satu hal yang paling penting yang dapat dilakukan orang tua bagi anak-anak mereka adalah membantu mereka mengembangkan kebiasaan membaca Alkitab setiap hari. Adalah Firman Allah yang dapat dipakai oleh orang muda untuk membersihkan jalannya dari dunia yang jahat ini (Maz. 119:9). Firman Tuhan haruslah masuk ke dalam hati dan jiwa dan mengisi keseluruhan hidup individu tersebut, dan ini tidak akan terjadi tanpa membaca, mempelajari, menghafal, dan merenungkan Firman Tuhan menjadi praktek sehari-hari.
- Firman Tuhan yang ada dalam hati kita berfungsi salah satunya adalah penyembuhan Ams. 3:1-8 bandingkan Maz.107:20.
- 2 Tim 3:15 melalui Kitab suci/Firman Tuhan yang dipercaya dan dipegang oleh Timotius bahkan dengan tekun membaca menuntunnya kepada keselamatan – pemulihan dan kesembuhan.
Kesimpulan. Pemulihan tidak akan pernah terjadi apabila kita tidak mengijinkan Tuhan hadir dalam hidup kita. Sumber pemulihan yang sejati adalah dari Tuhan. Dimulai dari hidup takut Tuhan dan suka merenungkan dan mempraktekkan Firman Tuhan maka kita selain mengalami kesembuhan dan pemulihan maka kita akan membawa dampak kesembuhan dan pemulihan juga bagi orang lain. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 16 Februari 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Matius 12:50; 18:12-14
Tema : Dampak atau akibat kehilangan Figur Bapa
PENDAHULUAN.
Minggu lalu telah kita pelajari kualitas hidup akibat memiliki atau mendapat figur Bapa. Kualitas hidup yang rendah diri dihadapan Tuhan, memiliki tujuan hidup yang jelas dan memiliki kesetiaan. Maka hari ini beberapa hal akibat atau dampak kehilangan figur Bapa.
Figur atau teladan sangat penting menjadi salah satu penentu sebuah generasi. Samuel pada masa kecilnya kurang mendapat figur yang baik dari bapa rohaninya yaitu Imam Eli, dalam hal mendidik anak. Sebagai bapa dari anak-anaknya Imam Eli tidak bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dimana anak-anaknya tidak takut kepada Tuhan bahkan dikatakan Imam Eli tidak memarahinya ketika anak-anaknya menghujat Tuhan, menghina/tidak hormat kepada Allah 1 Sam. 2:11-36; 3:11-14, hal ini tanpa disadari Samuel mengalami hal yang sama dimana ia tidak bisa mendidik anak-anaknya untuk takut Tuhan 1 Samuel 8:1-5. Jika kita memahami peran bapa salah satunya adalah perencana, sudahkan kita merencanakan dan mempersiapkan generasi kita untuk hidup takut akan Tuhan? Samuel memang memiliki kualitas hidup yang baik, sehingga Tuhan memanggil dan mengangkatnya menjadi hakim atas orang Israel, memberikan jabatan nabi kepadanya. Namun setelah ia menjadi tua, anak-anaknya tidak meniru teladan bapanya Samuel yang baik.
Hal ini menjadi pelajaran, bukan sekedar kita memiliki kualitas hidup yang baik, namun apakah kita bisa mempersiapkan & merencanakan generasi kita untuk dapat memiliki kualitas hidup yang baik. Berikut ini kita mempelajari akibat atau dampak dari kehilangan figur seorang bapa.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Dampak atau akibat kehilangan figure Bapa:
- Menjadi Pendusta
- Ada dua pilihan dalam hidup ini : mengikuti bapa pendusta yang tidak hidup dalam kebenaran (artinya kehilangan figur Bapa di Sorga) atau mengikuti ajaran atau kebenaran dari Bapa kita di Sorga (arti memiliki figur Bapa di Sorga)-Yohanes 8:44.
- I Yoh.2:22 Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.
- Artinya jika kita hidup dalam kebenaran, berarti kita mengakui Yesus adalah Kristus, sebagai Bapa kita, maka kita akan melakukan kebenaran/kehendak Bapa. Sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan bukan pendusta – 1 Yoh. 3:10; Mat. 12:50.
- Menjadi Penyesat
- Kisah Raja Yoram ini menarik, dari beberapa kisah raja-raja Yehuda, Raja Yoram ini memiliki figur bapanya yaitu Yosafat yang hidup benar. Namun karena tidak mengikuti figur ayah/bapanya, melainkan memilih mengikuti figur ayah mertuanya yang jahat 2 Taw. 21:2-20, sehingga ia menyesatkan generasi yang dipimpinnya 2 Taw. 21:11. Maka ia kehilangan banyak berkat. Berkat kesehatan, bahkan ia mati dengan tidak di cintai 2 Taw. 21:12-15.
- Bandingkan 2 Yoh 1:7-9 setiap orang yang tinggal dalam, ajaran Kristus ia memiliki figur Bapa dan tidak kehilangan upahnya.
- Menjadi Pribadi yang jahat
- 2 Taw. 24:2 Raja Yoas melakukan apa yang benar selama hidup imam Yoyada, namun setelah kematian Imam Yoyada, raja Yoas menjadi jahat ia membunuh anak dari imam Yoyada yang telah menegur raja Yoas- 2 Taw. 24:15-22. Berilah ilustrasi.
Kesimpulan. Janganlan sampai kita kehilangan figur Bapa di Sorga, contohlah figur/teladan dari bapa-bapa leluhur kita yang baik. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 09 Februari 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 8:18-30
Tema : Memahami Kualitas Hidup Akibat memiliki Figur/Teladan Bapa
PENDAHULUAN.
Selasa lalu telah kita pelajari pilar 1 point ke satu dimana kita mengenal peran Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Berikut kita akan memahami pentingnya figur Bapa. Peran Bapa salah satunya adalah membuat perencanaan. Dalam Alkitab menjelaskan pentingnya fungsi, peran dan teladan seorang Bapa yang dapat menghasilkan kualitas hidup bagi generasi berikutnya. Bapa yang baik ia dapat menjalankan fungsi, perannya dengan sebaik-baiknya. Pribadi yang mendapat figur/teladan bapa yang baik akan menghasilkan Kualitas hidup yang baik juga.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Kualitas hidup akibat memiliki figur/Teladan Bapa antara lain :
- Kualitas hidup dari Raja Yosia yaitu rendah diri dihadapan Tuhan 2Taw. 34:1-7; 2Raja22:1-2; 23:21-24, 25; Yer.ps 25-26.
- Sekalipun ia seorang raja, tidak menjadikan kedudukan sebagai sesuatu yang dibanggakan/disombongkan. Bahkan ia memberikan harta miliknya untuk persembahan kepada Tuhan 2Taw. 35:7. Hal ini terjadi karena ia meniru/meneladankan bapa leluhurnya yaitu Raja Daud yang hidup rendah diri dihadapan Tuhan.
- Pentingnya memiliki sikap rendah diri dihadapan Tuhan: Bapak Gembala King Anderonikus menyampaikan pernyataan bahwa jika kita berhadapan dengan Tuhan, hendaknya kita memiliki sikap rendah diri: artinya kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan, diluar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa Yoh 15:5. Namun dihadapan manusia kita harus rendah hati, artinya tidak boleh menyombongkan diri Fil. 2:3 Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.
- Hiduplah rendah diri hanya dihadapan Tuhan, dan hendaklah kita memiliki sikap rendah hati satu sama lain.
- Kualitas hidup dari Yesus yaitu mempunyai tujuan hidup yang jelas 8:26-30.
- Beberapa orang telah memahami arti tujuan hidupnya, namun tidak sedikit juga kurang memahami tujuan hidupnya. Belajar dari pribadi Yesus yang telah mendapatkan firgur Bapa di Sorga, sehingga ia mengetahui tujuan hidup di dunia ini Yoh.8:18; 10:11-18, 25-30, 37-38. Yesus memahami tujuan hidupnya karena Ia menerima ajaran/figure dari BapaNya Yoh. 8:26-30.
- Pentingnya memahami tujuan hidup kita salah satunya kita akan hidup secara maksimal, seperti Yesus menyelesaikan segala sesuatu yang diajarkan oleh BapaNya, seperti Rasul Paulus memahami arti hidupnya – 2 Tim. 4:5-8. Berilah ilustrasi.
- Kualitas Hidup dari Timotius yaitu Kesetiaannya teruji Fil. 2:19-24; 2 Tim. 3:10-17; Kis.16:1-3; 2Tim1:5.
- Kesetiaan dan ketaatan adalah sifat yang sulit ditemukan di era modern ini. Akan tetapi sifat / karakter/kualitas hidup yang demikianlah yang Tuhan cari hari-hari ini. Sifat setia dan taat ini dimiliki oleh seorang muda yang bernama Timotius. Hal diakui oleh bapa rohaninya yaitu Paulus – 1 Tim 1:18-19; Fil. 19-22.
- Pentingnya kesetiaan Why 2: 10 ada upah yang menanti. Dan yang akan bersama-sama Kristus adalah pribadi yang setia. Why 17:14. Sifat yang Tuhan inginkan adalah kesetiaan II Tes 3:3; Ibr. 10:23, Ams. 19:22. Orang yang setia sudah pasti ia taat. Hendaklah kita setia sampai akhir Why. 2:10b.
Kesimpulan. Syukur kepada Allah yang mengangkat kita menjadi Anak-anakNya Yoh.1:12; Rom 8:19. Dan melayakkan kita memanggil Dia Bapa Roma 8:15, Gal 4:6. Sehingga kita memiliki kualitas hidup yang baik. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 02 Februari 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Efesus1:1-14
Tema : Mengenal Peran Allah Bapa, Anak & Roh Kudus
PENDAHULUAN.
Memasuki Bulan Februari kita akan belajar tentang Pilar 1 – Keluarga yang berpola keluarga Allah (Membawa setiap keluarga untuk mengenal Allah Bapa secara pribadi Keluarga (berbicara setiap pribadi dalam keluarga, baik itu ayah, ibu (wanita), anak kecil, dan pemuda).
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Mengenal Peran Allah Bapa, Anak & Roh kudus:
- Peran Allah Bapa Yaitu Perencana/Perancang Ef. 1:3-6
- Bapa di Sorga telah memilih dan menentukan kita untuk menerima Yesus sebagai “segala berkat rohani di dalam sorga,” dengan tujuan: supaya kita yang tidak kudus menjadi kudus dan yang bercacat cela dalam segala hal menjadi tidak bercacat, untuk menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.
- Berkat rohani di dalam Sorga menunjuk kepada Kristus. Bapa memilih kita dan menganugerahkan Anak-Nya sebagai penebusan dosa-dosa kita, lebih dari sekedar menggunakan kedaulatan-Nya, tetapi dengan kerelaan-Nya. Hanya dengan kerelaan kehendak-Nya, Bapa bisa mengorbankan Anak Tunggal yang paling dikasihi-Nya -Roma 8:32.
- Setelah dipilih, kita harus ditebus. Bukan dengan darah domba yang harus berkali-kali dilakukan, tetapi dengan darah Anak Domba Allah, yaitu Anak Allah yang harus menjadi manusia di dalam Yesus Kristus – Ibrani 9:14.
- Peran Anak Dalam Kristus Yesus yaitu Pelaksana rencana Allah Bapa Ef. 1:7-12
- Peran Sang Anak adalah menjalankan rencana kerelaan Sang Bapa, untuk mengasihi menusia yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Bapa, dan untuk itu rela menjadi manusia, rela untuk disiksa, dihina, dicemoohkan, disalibkan, dan pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati.
- Tujuan penebusan adalah mempersatukan kita dengan Kristus sebagai kepala, yaitu sebagai gereja dengan jemaat-Nya, selama masih di dunia, maupun dipersatukan sebagai warga Kerajaan Allah dan keluarga Allah baik di bumi & Sorga, menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya, melalui kesaksian hidup kita yang berkenan di hadapan Allah. Tetapi, penebusan yang dilakukan Sang Anak perlu diteguhkan. Kita harus mati di dalam Kristus (materi Selasa yang lalu) dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus.
3 Peran Roh Kudus Yaitu Memeteraikan/pendukung Ef. 1:13-14
- Setelah dipilih oleh Bapa, dan ditebus oleh Anak, kita pun harus dimeteraikan oleh Roh Kudus agar tak satupun yang bisa menggagalkan rencana kerelaan Allah untuk memilih, menebus, dan menjadikan kita sebagai anak-anak Allah.
- Roma 8: 33-35 .. tak satupun bisa memisahkan kita dari Kasih Kristus. Bahkan dinyatakan bahwa tak satupun akan menggugat kita sebagai orang-orang pilihan Allah, termasuk: Bapa juga tidak akan menggugat kita sebagai orang-orang pilihan Allah, karena Dia yang telah membenarkan kita. Kristus Yesus pun tidak akan menghukum kita, supaya kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya tidak sia-sia. Malah Dia, yang duduk di sebelah kanan Allah (mendapat kuasa untuk menghukum), telah menjadi pembela kita. Baca Yoh.14:15-26.
KESIMPULAN. Kenali peran Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sehingga kita memahami betapa kayanya kita, kekayaan yang sering tidak kita sadari atau kalaupun kita tahu, sering kita abaikan hanya karena kita terpaku kepada materi dan harta kekayaan dunia ini. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 26 Januari 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Roma 8:18-30
Tema : Menerima Kepenuhan Allah – Belajar dari Yesus
PENDAHULUAN.
Kepenuhan Allah ada dalam Yesus – Ibrani 1:1-4 Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.
Dalam Roma 8:29-30 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Setiap orang percaya yang rindu mengalami kepenuhan Allah. Dimana jubahNya Allah dikenakan dalam hidup kita, menerima apa yang dijanjikan Allah dan mewarisi janji-janjiNya- Roma 8:17. Pada zaman akhir ini semua mahkluk/ciptaan Allah menantikan anak-anak Allah dinyatakan.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): Yesus mengalami kepenuhan Allah, agar kita juga mengalami hal yang sama maka ada beberapa hal perlu untuk dilakukan:
- Siap untuk memperbaharui manusia baru kita secara terus menerus – Ef 4:23-24; Kol. 3:10; Kej.1:26.
- Mengenakan manusia baru kita, yang terus menerus diperbaharui artinya menanggalkan kehidupan masa lalu. Yesus berpesan pada perempuan yang kedapatan berzinah Yoh 8:11. Dosa yang disembunyikan menghambat berkat Tuhan-Ams 28:13. Terlalu sibuk mengurus dosa orang, lupa akan membereskan dosa pribadi.
- Pentingnya manusia baru yang terus menerus diperbarui. Setiap anggur yang baru pasti simpan dikantong yang baru- 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya”
- Siap bertumbuh dan berbuah.
- Yang diperlukan untuk pertumbuhan secara rohani adalah Firman Tuhan – Mat.4:4; Luk 4:4; Ul.8:3 Roti yang berfungsi sebagai makanan yang segar, dibutuhkan sehari-hari. Sudahkah kita merenungkan dan melakukan Firman Tuhan? Sehingga terbentuk karakter-karakter ilahi dalam hidup kita?
- Mengapa kita tidak dapat bertumbuh ? Karena imannya terkandas – 1 Tim 1:19. Imannya tidak berkembang/bertumbuh karena ia tidak menganggap Firman Allah sebagai sesuatu yang patut kita hargai/hormati lebih berbahaya lagi jika ia tidak membutuhkan lagi Mat. 13:19-23. Roma 10:17 iman timbul dari pendengaran akan firman Allah. Ams. 13:13- Apakah kita menghargai Firman Tuhan? Kita hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
- Pentingnya mengalami pertumbuhan karakter Allah. Yesus bertumbuh semakin besar, baik secara jasmani dan rohani. Lukas 2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Kesimpulan. Perbesar kapasitas kita untuk menerima kepenuhan dari Allah dengan memperbarui manusia baru kita secara terus menerus & siap bertumbuh serta berbuah. Sebab Dunia menantikan anak-anak Allah yang memiliki kepenuhan Allah dinyatakan pada akhir zaman ini. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!
[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Listen to Post”]
Materi S2C : Selasa, 19 Januari 2016 Durasi: 20 Menit
Nats : Efesus 3:14-21
Tema : Enlarge Capacity – Fullness Of God
PENDAHULUAN.
Memasuki tahun 2016 Tema tahunan GBI KelIR yaitu Enlarge Your Capacity (Memperbesar Kapasitas) –Fullness of Gof (Kepenuhan Allah).
Bagaimana dengan kapasitas hidup kita yang telah diperbesar untuk menerima kepenuhan dari Allah.
KALIMAT KUNCI (KAL_KUN): ada 4 hal yang perlu kita perhatikan bagaimana hidup kita telah diperbesar kapasitas untuk menerima kepenuhan dari Allah?
- Mengenal Lebar (Platos) Ef. 3:18
- Lebar =Luas=Lapang; lapang dada. Menerima segala dari Tuhan dengan lapang dada; tidak berbantah-bantah dengan Tuhan karena merasa tidak adil, dll.
- Betapa pentingnya kita tidak berbantah – Roma 9:20 hanya orang yang menerima dirinya adalah orang yang sedang membangun kepenuhan Allah dalam dirinya. Hanya orang yang lapang hatinya yang akan diperbesar kapasitasnya.
- Mengenal Panjang (Mekos) Ef. 3:18
- Ketika kita lapang dada, maka hidup kita dapat dipanjangkan patoknya, sepanjang kasih kasih Yesus, yaitu sampai mati dikayu salib (berkorban)- Fil 2:8. Seberapa besar kita mau berkorban untuk Tuhan demikian hidup kita diperbesar oleh Tuhan.
- Mengenal Tinggi (Hupsos) Ef. 3:18
- Setelah hati kita lapang – Yes. 54:2, kita mampu berkorban untuk Tuhan maka hidup kita diperluas, dan kita memandang ke tempat Tinggi yaitu Tuhan. Maka jubahNya diberikan bagi kita, yaitu kuasa dan otoritasNya.
- Mengenal Dalam (Bathos) 3:18
- Untuk menerima hal-hal yang tersembunyi dalam Allah – Kepenuhan Allah- rahasia Allah.
KESIMPULAN.
Untuk menerima kepenuhan dari Allah yaitu : tidak berbantah/lapang dada, rela berkorban, memandang Tuhan dan menerima jubahNya dan kepenuhan dari Allah, semua yang Allah sediakan bagi kita. Tahun 2016 Allah sedang mengenakan jubahNya bagi kita, sehingga kita berjalan dengan kuasa dan kemenangan bersama Dia. Amin. Berilah ilustrasi/kesaksian untuk aplikasi!